Episode 1 - Perdana
(musik)
Trias (T): Kalian sedang mendengarkan siniar Frasa, yang membahas tentang Indonesia, bahasa Indonesia, dan berbagai topik lain untuk menemani kalian belajar berbahasa Indonesia.
(musik)
(T): Halo, apakabar? Selamat datang di episode perdana siniar Frasa.
Yohanes (Y): Seperti di penjelasan sebelumnya, kami akan menemani kalian untuk belajar dan mempraktikkan bahasa Indonesia dengan berdiskusi bersama. Selain diskusi, kami juga akan membahas ungkapan sehari-hari, memberi rekomendasi lagu, buku dan lain-lain, dan juga akan menjawab pertanyaan kalian tentang bahasa Indonesia.
(T): Siniar ini akan tayang satu minggu satu kali. Nah, di episode pertama ini, kalau kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Jadi kita akan mulai dengan perkenalan, siapa sih kami, dan apa sih Frasa itu? Namaku Trias, saat ini aku tinggal di Denpasar, Bali. Aku bekerja di industri pariwisata, selain itu aku juga mengajar bahasa Perancis. Di siniar, ini aku nggak sendiri, ada juga temanku….
(Y): Nah, kalau aku Yohannes. Sekarang tinggal di Dortmund, Jerman. Aku bekerja di kampus sebagai peneliti post-doktoral di bidang matematika terapan. Meskipun aku tidak mengajar bahasa, tapi aku antusias pada bahasa Indonesia. Menurutku bahasa Indonesia itu mudah namun kompleks. Misalnya, dibandingkan dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata kerja terhadap waktu. Juga kata kerjanya tidak berubah tergantung subjek. Tapi Bahasa Indonesia juga memiliki kesulitannya sendiri. Misalnya kata kerja yang berubah tergantung dari awalan dan akhirannya. Nah, ini tentu akan kami bahas di episode-episode selanjutnya ya.
(Y): Itu adalah salah satu motivasi kami dalam membuat siniar ini. Selain itu, ee alasan apa lagi sih yang membuat kita membuat siniar ini?
(T): Kami membuat siniar ini karena tidak banyak konten yang tersedia di internet yang dapat menjadi rujukan bagi teman-teman yang sedang mempelajari bahasa Indonesia. Ada sih beberapa situs dan aplikasi daring yang menyediakan kursus bahasa Indonesia namun terbatas. Tidak seperti bahasa lain yang materi dan bahan belajarnya melimpah dan banyak pilihan.
(T): Selain itu, berawal dari pengalaman, karena kami juga sangat tertarik belajar bahasa. Aku sendiri belajar bahasa asing. Salah satunya adalah bahasa Perancis. Dan selain belajar di kelas dengan buku, aku sangat terbantu dengan adanya platform-platform untuk belajar bahasa asing seperti video-video YouTube, siniar, kuis, games, dan sebagainya.
(T): Nah, kalau kamu gimana, Yo? ‘Kan tinggal di Jerman tuh, pasti ngomong bahasa Jerman ‘kan, atau bahasa Inggris. Gimana sih kalau kamu belajar bahasa asing?
(Y): Ya, bener banget. Ee jadi aku sekarang sedang belajar bahasa Jerman. Ee jadi aku menggunakan buku-buku ee tata bahasa untuk belajar tata bahasa Jerman, dan selain itu aku juga menggunakan ee aplikasi daring untuk latihan ee tata bahasa, dan ee kosa kata sehari-hari. Dan aku merasa sangat terbantu dengan adanya platform-platform ini. Oleh karena itu, kami juga ingin membuat platform yang sama bagi teman-teman untuk belajar bahasa Indonesia.Kami akan membahas hal-hal mengenai Indonesia, dan bahasa Indonesia, juga tentang hal-hal terkini yang menarik.
(Y): Ee... sebenarnya kapan sih kita menggunakan bahasa Indonesia?
(T): Kalau aku, tidak selalu menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari. Aku menggunakan bahasa Indonesia misalkan di kantor, karena kolegaku berasal dari beberapa daerah yang berbeda dan juga ada yang dari negara lain. Kalau di rumah sih lebih sering pakainya bahasa Jawa. Dan karena sekarang tinggal di Bali, jadi sedikit menggunakan bahasa Bali, masih belajar sih. Kalau kamu, gimana?
(Y): Ee… ya tentu saja dengan kolega di kampus lebih banyak menggunakan bahasa Jerman atau bahasa Inggris, ya. Tapi tetep, dengan teman-teman Indonesia di negara ini, aku tetap menggunakan bahasa Indonesia. Atau juga bisa waktu menelpon keluarga atau teman di Indonesia. Ee… tapi sebenarnya dengan keluarga aku juga lebih sering menggunakan bahasa Jawa, sih. Nah jadi sebenarnya, tidak semua orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia ya, dalam komunikasi mereka sehari-hari. Fungsi bahasa Indonesia sebenarnya lebih sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, atau bahasa pengantar pendidikan.
(Y): Nah sering kali juga, orang yang belajar bahasa Indonesia secara formal misalkan di universitas atau di kursus, menemukan banyak perbedaan saat menggunakan bahasa Indonesia secara langsung, dengan teman-teman Indonesia mereka. Kenapa ya kira-kira?
(T): Mmm, itu karena adanya ragam bahasa. Dalam bahasa Indonesia, ada ragam bahasa lisan dan tulisan, baku dan tidak baku, dan formal dan tidak formal. Kalau belajar bahasa Indonesia di kelas atau dengan buku, bahan ajar yang dikembangkan itu menggunakan ragam formal. Jadi begitu ngobrol langsung, kok beda banget ya. Contohnya, kita lebih sering menggunakan “enggak” daripada “tidak”. Dan kalau misalkan di kelas kita lebih menggunakan “bagaimana”, tapi begitu ngobrol kita pake “gimana”. Nah untuk itu, supaya tahu kapan kita berbicara formal atau tidak, ee… belajar juga perlu dengan sumber lain. Contohnya dengan nonton film, atau dengan mendengarkan siniar Indonesia seperti Frasa ini.
(T): Nah, kalau alasan belajar bahasa Indonesia, kenapa sih ee perlu belajar bahasa Indonesia?
(Y): Nah, teman-teman mungkin ada yang belum tahu, Indonesia itu negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, lho. Jadi bahasa Indonesia juga termasuk dalam sepuluh bahasa dengan penutur terbanyak, baik di Indonesia atau di negara lain. Diaspora Indonesia ada di seluruh dunia. Selain itu, secara tata bahasa, bahasa Indonesia mudah dipelajari, karena struktur kalimatnya yang sama dengan bahasa roman. Kata-kata serapan dalam bahasa Indonesia juga sangat banyak. Misalkan kata serapan dari bahasa Belanda seperti kantor, pabrik, kamar. Dari bahasa Perancis misalnya piknik. Atau dari bahasa Inggris seperti komputer.
(Y): Selain itu, bahasa Indonesia menggunakan aksara latin, berbeda dengan bahasa Asia pada umumnya yang mempunyai aksaranya sendiri, sehingga relatif lebih mudah untuk dipelajari.
(T): Menarik, ya. Alasan lain adalah penggunaan bahasa Indonesia semakin berkembang di lingkup regional maupun internasional. Bahasa Indonesia sudah diajukan menjadi bahasa pengantar di organisasi internasional misalnya ASEAN. Walaupun masih sering sih, kita dengar pertanyaan seperti Indonesia itu di mana? Atau… oh, Bali itu di Indonesia. Rasanya gemas ‘kan dan ingin pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak muncul lagi.
(T): Salah satu cara yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan adanya program BIPA. Atau Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Program ini sebagai acuan dalam belajar bahasa Indonesia. Seperti bahasa asing lainnya, program BIPA juga memiliki tingkatan pelajar dari pemula hingga mahir.
(Y): Nah, oleh karena itu, pemerintah Indonesia sedang gencar nih mempromosikan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur bahasa asing. Dari program pemerintah ini, bahasa Indonesia sekarang bisa dipelajari di banyak negara, misalkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Teman-teman bisa nih melihat situs KBRI di negara teman-teman, mungkin ada kursus bahasa Indonesia yang kemungkinan besar gratis yang bisa teman-teman ikuti. Selain itu ada juga banyak sekolah, universitas, misalkan di Australia, Asia maupun Eropa yang memiliki mata kuliah atau bahkan jurusan bahasa Indonesia.
(T): Untuk mendukung program BIPA tersebut dan kerja sama dengan instansi pendidikan di negara-negara lain, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahunnya mengadakan seleksi pengajar BIPA yang akan dikirimkan ke lebih dari 20 negara. Jadi teman-teman bisa belajar dengan penutur asli.
(Y): Bener, atau bisa juga ya, mungkin ada teman-teman yang ingin lebih ee… punya jiwa petualang lebih tinggi, gitu. Mereka ingin langsung belajar di Indonesia, misalkan. Itu bisa banget. Karena biaya pendidikan dan biaya hidup di Indonesia tidak mahal. Selain itu ada banyak tempat kursus bahasa. Ee… kalau misalnya mau mencari beasiswa, ada nggak sih pemerintah Indonesia ee menyediakan beasiswa nggak untuk eee orang asing belajar di Indonesia?
(T): Ada dong. Yang pertama ada beasiswa kemitraan negara berkembang, yang lebih dikenal dengan nama Developing Countries Partnership Scholarship. Dengan beasiswa ini, teman-teman bisa mendaftar di program S1 atau magister di kampus-kampus negeri atau swasta di Indonesia yang telah bermitra dengan pemerintah Indonesia. Yang kedua ada beasiswa Darmasiswa, yaitu beasiswa satu tahun untuk teman-teman yang ingin belajar bahasa Indonesia atau kesenian tradisional Indonesia. Selanjutnya, ada beasiswa seni dan budaya Indonesia atau Indonesian Art and Cultures Scholarship untuk belajar kesenian Indonesia.
(Y): Jadi, mari kita belajar bahasa Indonesia bersama-sama.
(musik)
(Y): Ungkapan minggu ini.
(musik)
(T): Ungkapan yang akan kita pelajari minggu ini adalah kata “kita” dan “kami”. Bahasa asing lain seperti bahasa Inggris atau bahasa Perancis tidak membedakan dua kata ganti orang pertama jamak ini. Kata “kita” disebut sebagai kata inklusif, yang artinya orang yang diajak bicara terlibat dalam kegiatan yang disebutkan dalam kalimat. Perhatikan contoh kalimat ini: “Kita belajar bahasa Indonesia”. Siapa “kita”? Aku, Yohanes, dan kamu. Kita belajar bahasa Indonesia bersama.
(T): Sementara pada kalimat “Kami belajar bahasa Indonesia”. “Kami” di sini berarti aku, dan Yohanes saja. Jadi, “kami” adalah kata ganti eksklusif karena kamu sebagai lawan bicara tidak terlibat dalam kegiatan yang kami lakukan. Semoga jelas, ya.
(musik)
(T): Rekomendasi minggu ini.
(musik)
(Y): Untuk rekomendasi minggu ini, kami merekomendasikan sebuah buku berjudul “Sembilan dari Sepuluh Kata Bahasa Indonesia adalah Asing”, yang merupakan buku karangan Alif Danya Munsyi atau lebih dikenal sebagai Remy Sylado. Buku ini diterbitkan pada tahun 1996. Buku ini berisi esai dan catatan kecil tentang bahasa Indonesia. Teman-teman masih ingat ‘kan, tadi kami sudah megatakan bahwa kosa kata bahasa Indonesia banyak yang merupakan hasil serapan dari bahasa lain. Nah, untuk mempelajari lebih lanjut tentang hal ini, kalian bisa membaca esai ini. Semoga menjadi bahan bacaan yang menarik, ya.
(T): Bagi kamu yang memiliki pertanyaan, saran, atau cerita yang ingin dibagikan ke pendengar Frasa lainnya, silakan kirim email ke alamat kontakfrasa@gmail.com atau bisa juga berupa pesan suara ke akun Anchor kami. Nanti tentu akan kami balas, dan cerita yang menarik akan kami bacakan di episode yang akan datang di segmen Surat Pendengar.
(Y): Kami akan mengunggah episode baru setiap hari Rabu. Sampai jumpa minggu depan!
(T & Y): Daag! (musik)