×

Nós usamos os cookies para ajudar a melhorar o LingQ. Ao visitar o site, você concorda com a nossa política de cookies.

Promoção de Verão Economize até 45%
Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 15: Penyelidik T… – Texto para ler

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 15: Penyelidik Tinggi Hogwarts (2/2)

Intermediário 1 lição de Indonésio para praticar a leitura

Comece a aprender esta lição agora

Bab 15: Penyelidik Tinggi Hogwarts (2/2)

"Anda tidak biasanya mengajar kelas ini, benarkah itu?" Harry mendengarnya bertanya ketika mereka tiba di meja palang di mana kelompok Bowtruckle yang tertangkap sedang mencari-cari kutu kayu seperti ranting-ranting hidup yang begitu banyak.

"Benar sekali," kata Profesor Grubbly-Plank, dengan tangan di belakang punggungnya dan sambil melompat-lompat pada bola kakinya. "Saya guru pengganti yang sedang menggantikan Profesor Hagrid."

Harry saling bertukar pandangan gelisah dengan Ron dan Hermione. Malfoy sedang berbisik kepada Crabbe dan Goyle, dia pasti akan sangat suka kesempatan untuk menceritakan kisah-kisah tentang Hagrid kepada seorang anggota Kementerian.

"Hmm," kata Profesor Umbridge, sambil merendahkan suaranya, walaupun Harry masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Aku ingin tahu — Kepala Sekolah tampaknya enggan memberiku informasi apapun mengenai masalah ini — bisakah Anda memberitahuku apa yang menyebabkan cuti sangat panjang Profesor Hagrid?"

Harry melihat Malfoy melihat ke atas penuh semangat dan mengamati Umbridge dan Grubbly-Plank dengan seksama.

"Kutakut aku tidak bisa," kata Profesor Grubbly-Plank dengan cepat. "Tak tahu apapun tentang itu lebih dari yang Anda tahu. Dapat burung hantu dari Dumbledore, apakah aku mau kerja mengajar beberapa minggu. Aku terima. Itu sejauh yang kutahu. Well... kalau begitu bolehkah aku mulai?"

"Ya, silakan," kata Profesor Umbridge, sambil mencoret-coret di papan jepitnya.

Umbridge mengambil pendekatan berbeda di kelas ini dan berkeliaran di antara murid-murid, sambil menanyai mereka mengenai satwa gaib. Kebanyakan orang bisa menjawab dengan baik dan semangat Harry naik; setidaknya kelas itu tidak mengecewakan Hagrid.

"Secara keseluruhan," kata Profesor Umbridge, kembali ke sisi Profesor Grubbly-Plank setelah interogasi panjang dengan Dean Thomas, "bagaimana Anda, sebagai anggota staf sementara — orang luar yang objektif, kukira Anda bisa berkata begitu — bagaimana pendapat Anda tentang Hogwarts? Apakah Anda merasa menerima cukup dukungan dari pihak pengelola sekolah?"

"Oh, ya, Dumbledore sangat hebat," kata Profesor Grubbly-Plank sepenuh hati. "Ya, saya sangat senang dengan cara-cara pengelolaan, sangat senang."

Terlihat tidak percaya, Umbridge membuat catatan kecil di papan jepitnya dan meneruskan, "Dan apa yang Anda rencanakan untuk dibahas dengan kelas ini tahun ini — tentu saja, dengan asumsi bahwa Profesor Hagrid tidak kembali?"

"Oh, aku akan membawa mereka melalui makhluk-makhluk yang paling sering keluar di OWL," kata Profesor Grubbly-Plank. "Tak banyak yang tertinggal — mereka sudah mempelajari unicorn dan Niffler, kukira kami akan membahas Porlock dan Kneazle, memastikan mereka bisa mengenali Crup dan Knarl, Anda tahu..."

"Well, bagaimanapun, Anda kelihatannya tahu apa yang Anda lakukan," kata Profesor Umbridge sambil membuat tanda centang jelas di papan jepitnya. Harry tidak suka penekanan yang ditaruhnya pada kata "Anda" dan lebih tidak suka lagi ketika dia memberi pertanyaan berikutnya kepada Goyle. "Sekarang, kudengar pernah ada cedera dalam kelas ini?"

Goyle menyengir tolol. Malfoy bergegas menjawab pertanyaan itu.

"Itu aku," katanya. "Aku dicakar Hippogriff."

"Hippogriff?" kata Profesor Umbridge, yang sekarang sedang mencoret dengan kacau.

"Hanya karena dia terlalu bodoh untuk mendengarkan apa yang disuruh Hagrid," kata Harry dengan marah. Ron dan Hermione mengerang. Profesor Umbridge memalingkan kepalanya lambat-lambat ke arah Harry.

"Detensi satu malam lagi, kukira," katanya dengan lembut. "Well, terima kasih banyak, Profesor Grubbly-Plank, kukira itu semua yang kuperlukan. Anda akan menerima hasil inspeksi Anda dalam sepuluh hari."

"Bagus sekali," kata Profesor Grubbly-Plank, dan Profesor Umbridge berangkat kembali menyeberangi halaman menuju kastil.

*

Hampir tengah malam ketika Harry meninggalkan kantor Umbridge malam itu, tangannya sekarang berdarah sangat parah sehingga menodai scarf yang dibungkusnya di sekitarnya. Dia mengharapkan ruang duduk kosong ketika dia kembali, tetapi Ron dan Hermione terjaga menunggunya. Dia senang melihat mereka, terutama karena Hermione bersikap simpatik bukannya kritis.

"Ini," katanya dengan cemas, sambil mendorong semangkuk kecil cairan kuning kepadanya, "rendam tanganmu dalam itu, itu larutan tentakel Murtlap yang disaring dan diasamkan, seharusnya bisa menolong."

Harry menempatkan tangannya yang berdarah dan sakit ke dalam mangkuk itu dan merasakan perasaan lega yang menyenangkan. Crookshanks bergelung di sekeliling kakinya, sambil mendengkur dengan keras, lalu melompat ke pangkuannya dan diam.

"Trims," katanya penuh rasa terima kasih, sambil menggaruk bagian belakang telinga Crookshanks dengan tangan kirinya.

"Aku masih berpendapat kamu seharusnya mengadu tentang ini," kata Ron dengan suara rendah.

"Tidak," kata Harry datar.

"McGonagall akan jadi gila kalau dia tahu —"

"Yeah, dia mungkin," kata Harry tanpa minat. "Dan berapa lama menurutmu yang dibutuhkan Umbridge untuk mengesahkan dekrit lain yang menyatakan siapapun yang mengeluh tentang Penyelidik Tinggi dipecat segera?"

Ron membuka mulutnya untuk menjawab tetapi tak ada yang keluar dan, setelah beberapa saat, dia menutupnya lagi, kalah.

"Dia wanita mengerikan," kata Hermione with suara kecil. "Mengerikan. Kau tahu, aku baru saja berkata kepada Ron ketika kau masuk... kita harus melakukan sesuatu mengenai dia."

"Kusarankan racun," kata Ron dengan murung.

"Bukan... maksudku, sesuatu mengenai bagaimana buruknya dia sebagai guru, dan bagaimana kita tidak akan mempelajari Pertahanan apapun darinya sama sekali," kata Hermione.

"Well, apa yang bisa kita lakukan mengenai itu?" kata Ron sambil menguap. "Dah terlambat, bukan? Dia dapat pekerjaan itu, dia akan tetap di sini. Fudge akan memastikan itu."

"Well," kata Hermione coba-coba. "Kalian tahu, aku berpikir hari ini..." dia memberi pandangan agak gugup kepada Harry dan lalu meneruskan, "aku berpikir kalau — mungkin waktunya telah tiba saat kita harus — melakukannya sendiri."

"Melakukan apa sendiri?" kata Harry dengan curiga, masih mengapungkan tangannya dalam intisari tentakel Murtlap.

"Well — belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam sendiri," kata Hermione.

"Sudahlah," erang Ron. "Kau mau kita melakukan kerja ekstra? Sadarkah PR kau Harry dan aku sudah menumpuk lagi dan ini baru minggu kedua?"

"Tapi ini jauh lebih penting daripada PR!" kata Hermione.

Harry dan Ron menatapnya lekat-lekat.

"Aku tidak mengira ada hal di jagad ini yang lebih penting daripada PR!" kata Ron.

"Jangan tolol, tentu saja ada," kata Hermione, dan Harry melihat, dengan perasaan tidak menyenangkan, bahwa wajahnya mendadak bersinar dengan semangat yang biasanya diilhami oleh SPEW pada dirinya. "Tentang mempersiapkan diri kita sendiri, seperti yang Harry katakan dalam pelajaran pertama Umbridge, untuk apa yang menunggu kita di luar sana. Tentang memastikan kita benar-benar dapat mempertahankan diri kita sendiri. Kalau kita tidak belajar apapun satu tahun penuh —"

"Kita tidak bisa melakukan banyak sendirian," kata Ron with suara kalah. "Maksudku, baiklah, kita bisa pergi melihat kutukan-kutukan di perpustakaan dan mencoba melatihnya, kurasa —"

"Tidak, aku setuju, kita sudah melewati tahap di mana kita bisa belajar dari buku," kata Hermione. "Kita perlu seorang guru, yang pantas, yang bisa memperlihatkan kepada kita bagaimana menggunakan mantera-mantera dan mengoreksi kita kalau kita salah."

"Kalau kau berbicara mengenai Lupin..." Harry mulai.

"Tidak, tidak, aku tidak sedang membicarakan Lupin," kata Hermione. "Dia terlalu sibuk dengan Orde dan, lagipula, kita paling cuma bisa bertemu dengannya selama akhir pekan Hogsmeade dan itu tidak cukup sering."

"Kalau begitu, siapa?" kata Harry sambil merengut kepadanya.

Hermione menarik napas dalam-dalam.

"Bukankah sudah jelas?" katanya. "Aku sedang berbicara tentang kamu, Harry."

Ada keheningan sejenak. Angin malam sepoi-sepoi menderakkan kaca jendela di belakang Ron, dan api bergoyang-goyang.

"Tentang aku apa?" kata Harry.

"Aku sedang berbicara tentang kamu mengajarkan kami Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam."

Harry menatapnya. Lalu dia berpaling kepada Ron, siap bertukar pandangan putus asa yang kadang dilakukan mereka ketika Hermione berbicara panjang lebar tentang rencana-rencana yang sulit dicapai seperti SPEW. Namun, yang membuat Harry kuatir, Ron tidak tampak putus asa.

Dia sedang merengut sedikit, tampaknya sedang berpikir. Lalu dia berkata, "Itu ide bagus."

"Ide apa?" kata Harry.

"Kau," kata Ron. "Mengajari kami melakukannya."

"Tapi..."

Harry sekarang nyengir, yakin mereka berdua sedang mempermainkan dia.

"Tapi aku bukan guru, aku tidak bisa —"

"Harry, kau yang terbaik di kelas kita dalam Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam," kata Hermione.

"Aku?" kata Harry, yang sekarang nyengir lebih lebar dari sebelumnya. "Bukan, aku bukan, kau sudah mengalahkan aku dalam semua ujian —"

"Sebenarnya, aku belum," kata Hermione dengan tenang. "Kau mengalahkan aku di tahun ketiga kita — satu-satunya tahun di mana kita berdua ikut ujian dan punya guru yang benar-benar tahu pelajaran itu. Tapi aku tidak berbicara tentang hasil tes, Harry. Pikirkan apa yang telah kau lakukan."

"Bagaimana maksudmu?"

"Kau tahu apa, aku tidak yakin aku mau seseorang sebodoh ini mengajari aku," Ron berkata kepada Hermione sambil tersenyum sedikit. Dia berpaling kepada Harry.

"Mari kita pikir," katanya sambil membuat wajah seperti Goyle yang sedang berkonsentrasi. "Uh... tahun pertama — kau menyelamatkan Batu Bertuah dari Kau-Tahu-Siapa."

"Tapi itu keberuntungan," kata Harry, "itu bukan keahlian —"

"Tahun kedua," Ron menyela, "kau membunuh Basilisk dan menghancurkan Riddle."

"Ya, tapi kalau Fawkes tidak muncul, aku —"

"Tahun ketiga," Ron berkata masih lebih keras lagi, "kau bertarung dengan sekitar seratus Dementor seketika —"

"Kau tahu itu kebetulan, kalau Pembalik-Waktu tidak —"

"Tahun lalu," Ron berkata, hampir berteriak sekarang, "kau bertarung dengan Kau-Tahu-Siapa lagi —"

"Dengarkan aku!" kata Harry, hampir marah, karena Ron dan Hermione keduanya tersenyum sekarang. "Dengar saja, oke? Kedengarannya bagus ketika kau mengatakannya seperti itu, tapi semua hal itu hanya keberuntungan — aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan setengah waktu itu, aku tidak merencanakan apapun, aku hanya melakukan apapun yang bisa kupikirkan, dan aku hampir selalu mendapat bantuan —"

Ron dan Hermione masih tersenyum dan Harry merasa amarahnya naik; dia bahkan tidak yakin mengapa dia merasa begitu marah.

"Jangan duduk di sana nyengir seperti kalian lebih tahu daripada aku, aku ada di sana, bukan?" katanya dengan panas. "Aku tahu apa yang terjadi, oke? Dan aku tidak melewati apapun karena aku pandai dalam Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, aku melewati itu semua karena — karena bantuan datang pada saat yang tepat, atau karena aku menebak dengan benar — tapi aku hanya melewati itu semua dengan tolol, aku tidak punya petunjuk apa yang sedang kulakukan — BERHENTI TERTAWA!"

Mangkuk intisari Murtlap jatuh ke lantai dan terbanting. Dia menjadi sadar bahwa dia sedang berdiri, walaupun dia tidak bisa mengingat telah bangkit. Crookshanks melintas pergi di bawah sofa. Senyum Ron dan Hermione telah hilang.

"Kalian tidak tahu seperti apa rasanya! Kalian — tak satupun dari kalian — kalian belum pernah menghadapinya, bukan? Kalian kira cuma menghapal sejumlah mantera dan melemparkannya kepada dia, seperti saat kalian dalam kelas atau apapun? Sepanjang waktu kalian yakin kalian tahu tak ada yang menghalangi antara diri kalian dengan kematian kecuali — otak atau nyali kalian sendiri atau apapun — seperti kalian bisa berpikir jernih kalau kalian tahu kalian sekitar satu nanodetik dari dibunuh, atau disiksa, atau menyaksikan teman kalian mati — mereka tidak pernah mengajarkan itu di kelas, seperti apa menghadapi hal-hal seperti itu — dan kalian berdua duduk di sana bertingkah seperti aku anak kecil yang pintar karena berdiri di sana, hidup, seperti Diggory bodoh, seperti dia mengacaukan — kalian tidak mengerti, itu bisa saja sama mudahnya terjadi padaku, pasti terjadi kalau Voldemort tidak membutuhkan aku —"

"Kami tidak mengatakan yang seperti itu, sobat," kata Ron, terlihat terperanjat. "Kami tidak mengejek Diggory, kami tidak — kau menangkap ujung yang salah dari —"

Dia melihat tanpa daya kepada Hermione, yang wajahnya tercengang.

"Harry," katanya takut-takut, "tidakkah kau lihat? Ini... ini persisnya mengapa kami perlu kamu... kami perlu tahu seperti apa... menghadapi dia... menghadapi V-Voldemort."

Itu pertama kalinya dia pernah menyebutkan nama Voldemort dan inilah, lebih daripada yang lain, yang menenangkan Harry. Masih bernapas keras, dia terbenam kembali ke kursinya, menjadi sadar ketika dia berbuat demikian bahwa tangannya berdenyut mengerikan lagi. Dia berharap dia tidak membanting mangkuk intisari Murtlap itu.

"Well... pikirkan tentang itu," kata Hermione pelan. "Kumohon?"

Harry tidak bisa memikirkan apapun untuk dikatakan. Dia sudah merasa malu karena ledakan kemarahannya. Dia mengangguk, hampir tidak menyadari apa yang sedang disetujuinya.

Hermione berdiri.

"Well, aku akan pergi tidur," katanya dengan suara yang jelas sealami yang bisa dibuatnya. "Erm... malam."

Ron juga sudah bangkit.

"Ikut?" katanya dengan canggung kepada Harry.

"Yeah," kata Harry. "Sebentar. Aku hanya akan membersihkan ini."

Dia menunjuk ke mangkuk pecah di lantai. Ron mengangguk dan pergi.

"Reparo," Harry bergumam sambil menunjukkan tongkatnya ke pecahan itu. Mereka terbang bersatu kembali, seperti baru, tapi tidak ada yang bisa mengembalikan intisari Murtlap ke mangkuk.

Dia mendadak sangat letih sehingga dia tergoda untuk merosot kembali ke kursi berlengannya dan tidur di sana, tetapi dia malah memaksa dirinya bangkit dan mengikuti Ron ke atas. Malamnya yang tidak tenang semakin diperjelas sekali lagi dengan mimpi mengenai koridor-koridor panjang dan pintu-pintu terkunci dan dia terbangun keesokan harinya dengan bekas luka yang menusuk-nusuk lagi.

Learn languages from TV shows, movies, news, articles and more! Try LingQ for FREE