Bab 13: Detensi dengan Dolores (2/2)
Dia belum punya waktu untuk berlatih Mantra Penghilang, belum menuliskan satu mimpipun ke dalam diari mimpinya dan belum menyelesaikan gambar Bowtruckle, juga belum menulis esainya. Dia melewatkan sarapan pagi berikutnya untuk mencoretkan sejumlah mimpi buatan untuk Ramalan, pelajaran pertama mereka, dan terkejut menemukan Ron yang kusut menemaninya.
"Kenapa kau tidak membuatnya kemarin malam?" Harry bertanya, ketika Ron menatap liar ke sekitar ruang duduk mencari inspirasi. Ron, yang sudah tertidur pulas ketika Harry kembali ke asrama, menggumamkan sesuatu mengenai "melakukan hal lain", membungkuk rendah di atas perkamennya dan menuliskan beberapa kata dengan tulisan cakar ayam.
"Itu sudah bisa," katanya sambil membanting diari hingga tertutup. "Aku bilang aku mimpi sedang membeli sepasang sepatu baru, dia tidak bisa membuat apa pun yang aneh dari itu, ya kan?"
Mereka bergegas ke Menara Utara bersama.
"Ngomong-ngomong, bagaimana detensi dengan Umbridge? Apa yang disuruhnya untuk kau lakukan?"
Harry bimbang sepersekian detik, lalu berkata, "Menulis."
"Kalau begitu tidak terlalu buruk, eh?" kata Ron.
"Tidak," kata Harry.
"Hei — aku lupa — apakah dia mengizinkanmu bebas hari Jumat?"
"Tidak," kata Harry.
Ron mengerang penuh simpati.
Hari itu juga hari buruk bagi Harry; dia salah satu yang terburuk dalam Transfigurasi, belum berlatih Mantra Penghilang sama sekali. Dia harus melewatkan jam makan siangnya untuk menyelesaikan gambar Bowtruckle dan, sementara itu, Profesor McGonagall, Grubbly-Plank dan Sinistra memberi mereka lebih banyak pekerjaan rumah lagi, yang tidak akan bisa diselesaikannya malam itu karena detensi keduanya dengan Umbridge. Untuk melengkapi semua itu, Angelina Johnson menemuinya saat makan malam lagi dan, ketika mengetahui dia tidak akan bisa menghadiri uji coba Keeper Jumat, memberitahunya dia sama sekali tidak terkesan dengan sikapnya dan bahwa dia mengharapkan para pemain yang ingin tetap dalam tim menempatkan latihan di atas komitmen mereka yang lain.
"Aku dalam detensi!" Harry berteriak kepadanya setelah dia pergi. "Kau kira aku lebih suka terperangkap dalam ruangan bersama katak tua itu atau bermain Quidditch?"
"Setidaknya cuma menulis," kata Hermione menenangkan, ketika Harry merosot ke bangkunya dan memandang ke bistik dan pai ginjalnya, yang tak lagi diinginkannya. "Bukannya hukuman yang mengerikan, benar..."
Harry membuka mulutnya, menutupnya lagi dan mengangguk. Dia tidak yakin kenapa dia tidak memberitahu Ron dan Hermione persisnya apa yang terjadi di ruangan Umbridge: dia hanya tahu bahwa dia tidak mau melihat pandangan ketakutan mereka; yang akan membuat semuanya itu terlihat lebih sukar dan karena itu lebih sulit dihadapi. Dia juga merasa bahwa ini antara dirinya dan Umbridge, sebuah perang keteguhan hati pribadi, dan dia tidak akan memberinya kepuasan mendengar bahwa dia mengeluh tentang hal itu.
"Aku tidak percaya betapa banyaknya PR yang kita dapatkan," kata Ron menderita.
"Well, kenapa kau tidak mengerjakan satu pun kemarin malam?" Hermione bertanya kepadanya. "Ngomong-ngomong, di mana kau?"
"Aku... aku ingin berjalan-jalan," kata Ron mencurigakan.
Harry mendapat kesan nyata bahwa dia tidak sendirian dalam menyembunyikan sesuatu pada saat itu.
*
Detensi kedua seburuk yang pertama. Kulit di punggung tangan Harry menjadi lebih cepat teriritasi dan segera menjadi merah dan meradang. Harry mengira luka itu tidak akan terus sembuh seefektif sekarang. Segera luka itu akan tetap tergores ke tangannya dan Umbridge, mungkin, akan puas. Namun, dia tidak membiarkan pekik kesakitan keluar darinya, dan dari saat memasuki ruangan hingga saat dia dibebaskan, lagi-lagi lewat tengah malam, dia tidak berkata apa-apa kecuali "selamat malam" dan "selamat tidur".
Akan tetapi, situasi pekerjaan rumahnya sekarang sangat menyedihkan, dan ketika dia kembali ke ruang duduk Gryffindor, walaupun capek sekali, dia tidak pergi tidur, tetapi membuka buku-bukunya dan memulai esai batu bulan Snape. Sudah setengah tiga ketika dia menyelesaikannya. Dia tahu pekerjaannya buruk, tetapi tidak bisa ditolong lagi; kecuali dia punya sesuatu untuk diserahkan dia akan kena detensi dengan Snape berikutnya. Dia lalu bergegas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan Profesor McGonagall kepada mereka, mengumpulkan sesuatu mengenai penanganan Bowtruckle yang tepat untuk Profesor Grubbly-Plank, dan terhuyung-huyung ke tempat tidur, di mana dia terjatuh dengan pakaian lengkap ke atas seprainya dan langsung tertidur.
*
Hari Kamis lewat dengan melelahkan. Ron juga tampak sangat mengantuk, walaupun Harry tidak mengerti kenapa dia harus begitu. Detensi ketiga Harry lewat dengan cara yang sama dengan dua yang sebelumnya, kecuali bahwa setelah dua jam kata-kata "Saya tidak boleh berbohong" tidak memudar dari punggung tangan Harry, tetapi tetap tergores di sana, mengeluarkan tetesan-tetesan darah. Jeda gesekan pena bulu tajam itu membuat Profesor Umbridge melihat ke atas.
"Ah," katanya dengan lembut, sambil bergeser mengitari meja tulisnya untuk memeriksa tangannya sendiri. "Bagus. Itu seharusnya menjadi pengingat bagimu, bukan? Kau boleh pergi untuk malam ini."
"Apakah saya masih harus kembali besok?" kata Harry, sambil memungut tas sekolahnya dengan tangan kirinya bukannya tangan kanan yang masih sakit.
"Oh, ya," kata Profesor Umbridge, sambil tersenyum lebar seperti sebelumnya. "Ya, kukira kita bisa menorehkan pesan sedikit lebih dalam dengan kerja satu malam lagi."
Harry belum pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin ada guru lain di dunia yang dibencinya lebih daripada Snape, tetapi ketika dia berjalan kembali ke Menara Gryffindor dia harus mengakui dia telah menemukan calon kuat. Wanita itu jahat, pikirnya, ketika dia menaiki tangga ke lantai tujuh, dia jahat, sinting, si tua yang gila—
"Ron?"
Dia telah mencapai puncak tangga, membelok ke kanan dan hampir membentur Ron, yang sedang mengendap-ngendap di belakang patung Lachlan si Kurus, sambil menggenggam sapunya. Ron melompat terkejut ketika dia melihat Harry dan mencoba menyembunyikan Sapu Bersih Sebelasnya yang baru di belakang punggungnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Er — tidak ada. Apa yang kau lakukan?"
Harry merengut kepadanya.
"Ayolah, kau bisa bilang padaku! Mengapa kau sembunyi di sini?"
"Aku — aku sedang bersembunyi dari Fred dan George, kalau kau mau tahu," kata Ron. "Mereka baru saja lewat dengan sekelompok anak kelas satu, aku bertaruh mereka pasti sedang menguji benda-benda itu pada anak-anak itu lagi. Maksudku, mereka tidak bisa melakukannya di ruang duduk sekarang, benar kan, tidak dengan Hermione di sana."
Dia berbicara sangat cepat dan tergesa-gesa.
"Tapi kenapa kau bawa sapumu, kau tidak habis terbang, kan?" Harry bertanya.
"Aku — well — well, OK, aku akan memberitahumu, tapi jangan tertawa, oke?" Ron berkata dengan defensif, menjadi semakin merah setiap detiknya. "Aku — kukira aku akan ikut uji coba Keeper Gryffindor sekarang setelah aku punya sapu yang pantas. Begitu. Ayo. Tertawalah."
"Aku tidak akan tertawa," kata Harry. Ron berkedip. "Itu ide yang brilian! Akan sangat bagus kalau kau bergabung dengan tim! Aku belum pernah melihatmu bermain sebagai Keeper, apakah kau bagus?"
"Aku tidak buruk," kata Ron, yang terlihat sangat lega melihat reaksi Harry. "Charlie, Fred dan George selalu menjadikanku Keeper bagi mereka ketika mereka berlatih selama liburan."
"Jadi kau habis latihan malam ini?"
"Setiap malam sejak Selasa... walaupun cuma diriku sendiri. Aku sudah mencoba menyihir Quaffle terbang ke arahku, tapi tidak mudah dan aku tidak tahu seberapa bergunanya itu." Ron terlihat gugup dan cemas. "Fred dan George akan tertawa habis-habisan sewaktu aku muncul untuk uji coba itu. Mereka belum berhenti mengejekku sejak aku dijadikan prefek."
"Kuharap aku bisa ada di sana," kata Harry dengan getir, ketika mereka pergi bersama menuju ruang duduk.
"Yeah, aku juga — Harry, apa itu di punggung tanganmu?"
Harry, yang baru saja menggaruk hidungnya dengan tangan kanannya yang bebas, mencoba menyembunyikannya, tetapi keberhasilannya serupa dengan Ron dan Sapu Bersihnya.
"Cuma goresan — tidak ada apa-apa — hanya —"
Tetapi Ron sudah mencengkeram lengan bawah Harry dan menarik punggung tangan Harry setingkat dengan matanya. Ada jeda, sementara dia menatap kata-kata yang terukir di kulit itu, lalu, terlihat muak, dia melepaskan Harry.
"Kukira kau bilang dia hanya menyuruhmu menulis?"
Harry bimbang, tapi lagipula, Ron sudah jujur kepadanya, jadi dia memberitahu Ron yang sebenarnya mengenai jam-jam yang dihabiskannya di dalam kantor Umbridge.
"Nenek sihir tua itu!" Ron berkata dengan bisikan jijik ketika mereka berhenti di depan Nyonya Gemuk, yang sedang tertidur dengan tenang dengan kepalanya disangga bingkainya. "Dia sakit! Pergi ke McGonagall, bilang sesuatu!"
"Tidak," kata Harry seketika. "Aku tidak akan memberinya kepuasan mengetahui dia menaklukkanku."
"Menaklukkan kamu? Kau tidak bisa membiarkannya lepas dengan ini!"
"Aku tidak tahu seberapa besar kekuasaan yang dimiliki McGonagall terhadapnya," kata Harry.
"Kalau begitu, Dumbledore, beritahu Dumbledore!"
"Tidak," kata Harry datar.
"Kenapa tidak?"
"Dia sudah punya cukup yang dipikirkan," kata Harry, tapi itu bukan alasan sebenarnya. Dia tidak akan mencari bantuan kepada Dumbledore saat Dumbledore belum berbicara kepadanya sekalipun sejak Juni.
"Well, menurutku kau harus —" Ron mulai, tetapi dia disela oleh Nyonya Gemuk, yang telah mengamati mereka sambil mengantuk dan sekarang meledak, "Apakah kalian akan memberiku kata kunci atau aku harus terjaga sepanjang malam menunggu kalian menyelesaikan percakapan kalian?"
*
Hari Jumat datang dengan suram dan basah seperti hari-hari lain dalam minggu itu. Walaupun Harry secara otomatis memandang sekilas ke meja guru ketika dia memasuki Aula Besar, dia tidak memiliki harapan nyata akan melihat Hagrid, dan dia segera mengalihkan pikirannya ke masalah-masalahnya yang lebih mendesak, seperti tumpukan menggunung pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya dan prospek detensi lain lagi dengan Umbridge.
Dua hal mendukung Harry melewati hari itu. Salah satunya adalah pikiran bahwa sudah hampir akhir minggu; yang lain adalah bahwa, walaupun detensi terakhirnya dengan Umbridge pasti mengerikan, dia mendapat pandangan dari kejauhan ke lapangan Quidditch dari jendelanya dan mungkin, dengan sedikit keberuntungan, bisa melihat sesuatu pada uji coba Ron. Memang benar ini adalah berkas cahaya yang agak lemah, tetapi Harry bersyukur atas apa pun yang mungkin mencerahkan kegelapan yang dihadapinya sekarang; dia belum pernah mengalami minggu semester pertama yang lebih buruk di Hogwarts.
Pada pukul lima sore itu dia mengetuk pintu kantor Profesor Umbridge untuk yang diharapkannya dengan tulus terakhir kalinya, dan disuruh masuk. Perkamen kosong sudah tergeletak siap untuknya di atas meja bertutup renda, pena bulu hitam tajam di sebelahnya.
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan, Mr. Potter," kata Umbridge, sambil tersenyum manis kepadanya.
Harry memungut pena bulu itu dan memandang melalui jendela. Kalau dia menggeser kursinya sekitar satu inci ke kanan... berpura-pura menggeserkan dirinya lebih dekat ke meja, dia berhasil. Sekarang dia memiliki pandangan jauh tim Quidditch Gryffindor membumbung naik-turun di lapangan, sementara setengah lusin figur hitam menunggu giliran mereka untuk menjaga gawang. Tidak mungkin mengatakan yang mana Ron dari jarak ini.
"Saya tidak boleh berbohong," Harry menulis. Luka sayat di punggung tangan kanannya terbuka dan mulai berdarah lagi.
"Saya tidak boleh berbohong." Luka sayat itu semakin dalam, menyengat dan perih.
"Saya tidak boleh berbohong." Darah mengucur ke pergelangan tangannya.
Dia memandang sekilas lagi ke luar jendela. Siapa pun yang sedang menjaga gawang sekarang benar-benar melakukan pekerjaan yang buruk. Katie Bell mencetak gol dua kali dalam beberapa detik yang berani ditonton Harry. Berharap sekali bahwa Keeper itu bukan Ron, dia menjatuhkan matanya kembali ke perkamen yang berkilau dengan darah.
"Saya tidak boleh berbohong."
"Saya tidak boleh berbohong."
Dia melihat ke atas kapan pun dipikirnya bisa mengambil risiko; ketika dia mendengar gesekan pena bulu Umbridge atau dibukanya laci meja tulis. Orang ketiga yang ikut uji coba cukup bagus, yang keempat mengerikan, yang kelima sangat pandai menghindari Bludger tetapi lalu gagal melakukan penyelamatan mudah. Langit semakin gelap, dan Harry ragu dia akan bisa melihat orang keenam dan ketujuh sama sekali.
"Saya tidak boleh berbohong."
"Saya tidak boleh berbohong."
Perkamen itu sekarang ditetesi darah dari punggung tangannya, yang sekarang sakit sekali. Ketika dia melihat ke atas sekali lagi, langit sudah hitam dan lapangan Quidditch tak lagi tampak.
"Mari lihat apakah kau sudah menerima pesannya?" kata suara lembut Umbridge setengah jam kemudian.
Dia bergerak menujunya, menjulurkan jari-jari pendeknya yang penuh cincin ke lengannya. Dan kemudian, ketika dia memegangnya untuk memeriksa kata-kata yang sekarang tersayat ke dalam kulitnya, rasa sakit menjalar, bukan di punggung tangannya, tetapi di bekas luka di keningnya. Pada saat yang sama, dia merasakan sensasi aneh di suatu tempat di rongga badannya.
Dia menyentakkan lengannya dari pegangan Umbridge dan melompat bangkit, sambil menatapnya. Umbridge memandang balik kepadanya, sebuah senyuman merentangkan mulutnya yang lebar dan kendur.
"Ya, sakit, bukan?" katanya dengan lembut.
Dia tidak menjawab. Jantungnya berdetak sangat keras dan cepat. Apakah dia berbicara mengenai tangannya atau apakah dia tahu yang baru dirasakannya di keningnya?
"Well, kurasa aku sudah menegaskan maksudku, Mr. Potter. Kamu boleh pergi."
Dia mengambil tas sekolahnya dan meninggalkan ruangan itu secepat mungkin.
Tetap tenang, katanya pada diri sendiri, selagi dia berlari cepat menaiki tangga. Tetap tenang, artinya tidak harus seperti apa yang kaukira...
"Mimbulus mimbletonia!" dia berkata terengah-engah kepada Nyonya Gemuk, yang berayun ke depan seketika.
Suara ribut menderu menyambutnya. Ron datang sambil berlari ke arahnya, dengan wajah tersenyum dan menumpahkan Butterbeer ke bagian depan tubuhnya dari piala yang sedang digenggamnya.
"Harry, aku berhasil, aku masuk, aku Keeper!"
"Apa? Oh — brilian!" kata Harry sambil mencoba tersenyum alami, sementara jantungnya terus berpacu dan tangannya berdenyut-denyut dan berdarah.
"Minum Butterbeer." Ron mendesakkan sebuah botol kepadanya. "Aku tidak bisa mempercayainya — ke mana Hermione pergi?"
"Dia di sana," kata Fred, yang juga sedang meneguk Butterbeer, dan menunjuk ke sebuah kursi berlengan di sisi perapian. Hermione sedang tertidur di dalamnya, minumannya miring dengan berbahaya di tangannya.
"Well, dia bilang dia senang sewaktu kuberitahu dia," kata Ron, terlihat sedikit lesu.
"Biarkan dia tidur," kata George dengan segera. Baru beberapa saat kemudian Harry memperhatikan bahwa beberapa anak kelas satu yang berkumpul di sekitar mereka memiliki tanda-tanda baru mimisan yang tidak salah lagi.
"Kemarilah, Ron, dan lihat apakah jubah Oliver cocok untukmu," seru Katie Bell, "kita bisa melepaskan namanya dan menempatkan namamu sebagai gantinya..."
Ketika Ron beranjak pergi, Angelina melangkah mendatangi Harry.
"Maaf aku sedikit kasar kepadamu tadi, Potter," katanya singkat. "Pengelolaan ini membuat stres, kau tahu, aku mulai berpikir kadang aku sedikit keras kepada Wood." Dia sedang mengamati Ron melalui tepi pialanya dengan wajah sedikit cemberut.
"Lihat, aku tahu dia sobat terbaikmu, tapi dia tidak hebat," katanya dengan terus-terang. "Walau kukira dengan sedikit latihan dia akan baik-baik saja. Dia datang dari keluarga pemain Quidditch bagus. Sejujurnya, aku berharap padanya untuk memiliki bakat yang lebih sedikit dari yang diperlihatkannya hari ini.
Vicky Frobisher dan Geoffrey Hooper terbang lebih bagus malam ini, tapi Hooper tukang mengeluh, dia selalu mengerang tentang satu hal atau yang lain, dan Vicky terlibat dengan segala bentuk perkumpulan. Dia mengakui sendiri kalau latihan bentrok dengan Klub Jimat dan Guna-Gunanya dia akan mendahulukan Jimat. Ngomong-ngomong, kita akan melakukan sesi latihan pertama jam dua besok, jadi pastikan kau ada di sana kali ini. Dan tolong aku, bantu Ron sejauh yang kau bisa, OK?"
Dia mengangguk, dan Angelina berjalan kembali ke Alicia Spinnet. Harry pindah untuk duduk di sebelah Hermione, yang tersentak bangun ketika dia meletakkan tasnya.
"Oh, Harry, ternyata kamu... tentang Ron itu bagus, bukan?" katanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya begitu — begitu — begitu letih," dia menguap. "Aku terbangun sampai jam satu membuat lebih banyak topi lagi. Topi-topi itu menghilang cepat sekali!"
Dan benar juga, sekarang setelah diperhatikannya, Harry melihat bahwa tidak ada topi wol yang tersembunyi di sekitar ruangan itu yang bisa dipungut peri-peri yang tidak waspada.
"Bagus," kata Harry dengan pikiran kacau; kalau dia tidak memberitahu seseorang segera, dia akan meledak. "Dengar, Hermione, aku baru saja di kantor Umbridge dan dia menyentuh lenganku..."
Hermione mendengarkan dengan seksama. Ketika Harry selesai, dia berkata lambat-lambat, "Kau khawatir Kau-Tahu-Siapa sedang mengendalikan dia seperti dia mengendalikan Quirrell?"
"Well," kata Harry sambil merendahkan suaranya, "itu suatu kemungkinan, bukan?"
"Kukira begitu," kata Hermione, walaupun dia terdengar tidak yakin. "Tapi aku kira dia tidak akan bisa merasukinya seperti cara dia merasuki Quirrell, maksudku, dia sudah hidup kembali sekarang, bukan, dia punya tubuh sendiri, dia tidak akan perlu berbagi tubuh orang lain. Dia bisa mengendalikannya di bawah Kutukan Imperius, kukira..."
Harry mengamati Fred, George dan Lee Jordan melempar-lempar botol-botol Butterbeer kosong sejenak. Lalu Hermione berkata, "Tapi tahun lalu bekas lukamu sakit ketika tak seorang pun menyentuhmu, dan bukankah Dumbledore bilang ada hubungannya dengan apa yang sedang dirasakan Kau-Tahu-Siapa saat itu? Maksudku, mungkin ini tidak berkaitan dengan Umbridge sama sekali, mungkin cuma kebetulan terjadi ketika kau bersama dengannya?"
"Dia jahat," kata Harry datar. "Sinting."
"She mengerikan, ya, tapi... Harry, kukira kau harus memberitahu Dumbledore bekas lukamu sakit."
Itu kedua kalinya dalam dua hari dia dinasihati untuk menjumpai Dumbledore dan jawabannya kepada Hermione sama persis dengan jawabannya kepada Ron.
"Aku tidak akan mengganggunya dengan ini. Seperti yang baru kau katakan, bukan masalah besar. Sudah sakit silih berganti sepanjang musim panas — hanya agak lebih buruk malam ini, itu saja —"
"Harry, aku yakin Dumbledore akan mau diganggu oleh ini —"
"Yeah," kata Harry, sebelum dia bisa menghentikan dirinya sendiri, "itu satu-satunya bagian dariku yang dipedulikan Dumbledore, bukan, bekas lukaku?"
"Jangan bilang begitu, itu tidak benar!"
"Kukira aku akan menulis surat dan memberitahu Sirius mengenainya, lihat apa yang dipikirkannya —"
"Harry, kau tidak bisa memasukkan hal seperti itu dalam surat!" kata Hermione, tampak gelisah. "Tidakkah kau ingat, Moody menyuruh kita berhati-hati akan apa yang kita tulis! Kita cuma tidak bisa menjamin burung hantu tidak dicegat lagi!"
"Baiklah, baiklah, kalau begitu, aku tidak akan memberitahu dia!" kata Harry kesal. Dia bangkit. "Aku akan pergi tidur. Beritahu Ron, bisa kan?"
"Oh tidak," kata Hermione, terlihat lega, "kalau kau akan pergi itu berarti aku boleh pergi juga, tanpa terlihat kasar. Aku benar-benar capek dan aku mau membuat beberapa topi lagi besok. Dengar, kau bisa membantuku kalau kau mau, cukup menyenangkan, aku semakin mahir, aku bisa membuat pola dan bola dan semua jenis itu sekarang."
Harry memandang wajahnya, yang bersinar gembira, dan mencoba terlihat seolah-olah dia agak tergoda dengan tawaran ini.
"Er... tidak, kukira aku tidak bisa, trims," katanya. "Er — tidak besok. Aku punya banyak PR untuk dikerjakan."
Dan dia berjalan ke tangga anak laki-laki, meninggalkannya tampak sedikit kecewa.