×

Nós usamos os cookies para ajudar a melhorar o LingQ. Ao visitar o site, você concorda com a nossa política de cookies.

Promoção de Verão Economize até 45%
Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 12: Profesor Umb… – Texto para ler

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 12: Profesor Umbridge (2/2)

Intermediário 1 lição de Indonésio para praticar a leitura

Comece a aprender esta lição agora

Bab 12: Profesor Umbridge (2/2)

Banyak murid yang saling berpandangan dengan murung; perintah "simpan tongkat" belum pernah diikuti dengan pelajaran yang mereka anggap menarik. Harry menyodokkan tongkatnya kembali ke dalam tasnya dan menarik keluar pena bulu, tinta, dan perkamen. Profesor Umbridge membuka tas tangannya, mengeluarkan tongkatnya sendiri, yang tidak biasanya sangat pendek, dan mengetuk papan tulis keras-keras dengannya; kata-kata bermunculan di papan seketika:

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam

Kembali ke Prinsip-Prinsip Dasar

"Well, yang kalian pelajari dalam mata pelajaran ini agak kacau dan sepenggal-sepenggal, bukan?" kata Profesor Umbridge, sambil berpaling menghadap kelas dengan tangan terdekap rapi di depannya. "Pergantian guru yang terus-menerus, banyak di antaranya tampaknya tidak mengikuti kurikulum yang disetujui Kementerian, sayangnya mengakibatkan kalian berada jauh di bawah standar yang kami harapkan di tahun OWL kalian.

"Akan tetapi, kalian akan senang mengetahui bahwa masalah-masalah ini sekarang akan diperbaiki. Kita sekarang akan mengikuti pelajaran sihir pertahanan yang terstruktur dengan hati-hati, berpusat pada teori dan disetujui Kementerian tahun ini. Tolong salin yang berikut ini."

Dia mengetuk papan tulis lagi; pesan pertama menghilang dan digantikan dengan "Sasaran Pelajaran".

Mengerti prinsip-prinsip yang mendasari sihir pertahanan.

Belajar mengenali situasi-situasi di mana sihir pertahanan dapat digunakan secara legal.

Menempatkan penggunaan sihir pertahanan dalam konteks untuk kegunaan praktis.

Selama beberapa menit ruangan penuh dengan suara gesekan pena bulu pada perkamen. Ketika semua orang telah selesai menyalin ketiga sasaran pelajaran Profesor Umbridge, dia bertanya, "Sudahkah semua orang memiliki salinan Teori Sihir Pertahanan oleh Wilbert Slinkhard?"

Ada gumaman bosan mengiyakan dari seluruh kelas.

"Kukira kita akan mencoba lagi," kata Profesor Umbridge. "Ketika aku bertanya kepada kalian, aku ingin kalian menjawab, 'Ya, Profesor Umbridge', atau 'Tidak, Profesor Umbridge'. Jadi: sudahkah semua orang memiliki salinan Teori Sihir Pertahanan oleh Wilbert Slinkhard?"

"Ya, Profesor Umbridge," berdering di seluruh ruangan itu.

"Bagus," kata Profesor Umbridge. "Aku ingin kalian membalik ke halaman lima dan membaca 'Bab Satu, Dasar-Dasar untuk Pemula'. Tidak perlu berbicara."

Profesor Umbridge meninggalkan papan tulis dan duduk di kursi di belakang meja guru, sambil mengamati mereka semua dengan seksama dengan mata kataknya yang menggembung. Harry membalik ke halaman lima salinan Teori Sihirnya dan mulai membaca.

Buku itu benar-benar membosankan, hampir seburuk mendengarkan Profesor Binns. Dia merasa konsentrasinya menggelinding pergi; dia segera saja telah membaca baris yang sama setengah lusin kali tanpa memahami lebih dari beberapa kata pertama. Beberapa menit lewat dalam keheningan. Di sebelahnya, Ron sedang menatap ke titik yang sama di halaman itu.

Harry melihat ke kanan dan menerima kejutan yang mengeluarkannya dari keadaan jemunya. Hermione bahkan belum membuka salinan Teori Sihir Pertahanannya. Dia sedang menatap lekat-lekat kepada Profesor Umbridge dengan tangan terangkat.

Harry tidak bisa mengingat Hermione pernah tidak membaca ketika diperintahkan, atau bahkan menahan godaan untuk membuka buku apa pun yang ada di bawah hidungnya. Dia melihat kepadanya dengan pandangan bertanya, tetapi dia hanya menggelengkan kepala sedikit untuk mengisyaratkan bahwa dia tidak akan menjawab pertanyaan, dan terus menatap Profesor Umbridge, yang melihat dengan ketetapan yang sama ke arah lain.

Namun, setelah beberapa menit lagi berlalu, Harry bukan satu-satunya yang mengamati Hermione. Bab yang harus mereka baca begitu membosankan sehingga lebih banyak lagi orang yang memilih mengamati usaha diam Hermione untuk menarik perhatian Umbridge daripada berjuang terus dengan "Dasar-Dasar untuk Pemula".

Ketika lebih dari setengah anggota kelas menatap Hermione daripada ke buku mereka, Profesor Umbridge tampaknya memutuskan bahwa dia tidak bisa mengabaikan keadaan itu lebih lama lagi.

"Apakah kamu ingin menanyakan sesuatu tentang bab itu, sayang?" dia bertanya kepada Hermione, seolah-olah dia baru saja memperhatikannya.

"Bukan tentang bab itu, tidak," kata Hermione.

"Well, kita baru saja sedang membacanya," kata Profesor Umbridge sambil memperlihatkan gigi-giginya yang kecil dan runcing. "Kalau kamu punya pertanyaan lain kita bisa membahasnya di akhir kelas."

"Saya punya pertanyaan tentang sasaran pelajaran Anda," kata Hermione.

Profesor Umbridge menaikkan alisnya.

"Dan namamu adalah?"

"Hermione Granger," kata Hermione.

"Well, Miss Granger, kukira sasaran pelajaranku benar-benar jelas kalau kamu membacanya dengan hati-hati," kata Profesor Umbridge dengan suara manis yang dibuat-buat.

"Well, saya kira tidak begitu," kata Hermione dengan terus terang. "Tidak ada tertulis di sana mengenai menggunakan mantera-mantera pertahanan."

Ada keheningan singkat di mana banyak anggota kelas itu memalingkan kepala mereka untuk merengut pada tiga sasaran pelajaran yang masih tertulis di papan tulis.

"Menggunakan mantera-mantera pertahanan?" Profesor Umbridge mengulangi dengan tawa kecil. "Mengapa, aku tidak bisa membayangkan situasi apa pun yang akan timbul di ruang kelasku sehingga kalian perlu menggunakan mantera pertahanan, Miss Granger. Kamu tentunya tidak berharap diserang selama kelas?"

"Kita tidak akan menggunakan sihir?" Ron berseru keras-keras.

"Murid-murid mengangkat tangan mereka ketika mereka ingin berbicara di kelas saya, Mr—?"

"Weasley," kata Ron sambil mendorong tangannya ke udara.

Profesor Umbridge, tersenyum lebih lebar lagi, memalingkan punggung kepadanya. Harry dan Hermione segera mengangkat tangan mereka juga. Mata berkantong Profesor Umbridge melekat pada Harry sejenak sebelum dia berbicara kepada Hermione.

"Ya, Miss Granger? Kamu ingin menanyakan hal lain?"

"Ya," kata Hermione. "Tentunya maksud keseluruhan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam adalah untuk mempraktikkan mantera-mantera pertahanan?"

"Apakah kamu seorang ahli pendidikan terlatih dari Kementerian, Miss Granger?" tanya Profesor Umbridge, dengan suara manis palsunya itu.

"Bukan, tetapi—"

"Well, kalau begitu, kutakut kamu tidak memenuhi syarat untuk memutuskan apa 'maksud keseluruhan' dari kelas manapun. Para penyihir yang jauh lebih tua dan lebih pintar dari kamu telah menyusun program belajar baru kita. Kamu akan mempelajari mantera-mantera pertahanan dengan cara yang lebih aman dan bebas risiko—"

"Apa gunanya itu?" kata Harry keras-keras. "Kalau kita akan diserang, tidak akan—"

"Tangan, Mr Potter!" seru Profesor Umbridge.

Harry mendorong kepalan tangannya ke udara. Lagi-lagi, Profesor Umbridge langsung berpaling darinya, tetapi sekarang beberapa orang lain telah mengangkat tangannya juga.

"Dan namamu adalah?" Profesor Umbridge berkata kepada Dean.

"Dean Thomas."

"Well, Mr Thomas?"

"Well, seperti kata Harry, bukankah begitu?" kata Dean. "Kalau kita akan diserang, tidak akan bebas risiko."

"Kuulangi," kata Profesor Umbridge sambil tersenyum dengan cara yang sangat mengesalkan kepada Dean, "apakah kamu berharap diserang selama kelasku?"

"Tidak, tapi—"

Profesor Umbridge menyelanya. "Aku tidak ingin mengkritik cara sesuatu dijalankan di sekolah ini," katanya, sebuah senyuman tidak meyakinkan merentangkan mulut lebarnya, "tetapi kalian telah dihadapkan kepada beberapa penyihir yang sangat tidak bertanggung jawab di dalam kelas ini, benar-benar sangat tidak bertanggung jawab—tanpa menyebut," dia mengeluarkan tawa kecil mengerikan, "keturunan campuran yang sangat berbahaya."

"Kalau yang Anda maksud Profesor Lupin," seru Dean dengan marah, "dia yang terbaik yang pernah kami—"

"Tangan, Mr Thomas! Seperti yang kukatakan—kalian telah diperkenalkan pada mantera-mantera yang rumit, tidak sesuai untuk kelompok umur kalian dan potensial menimbulkan kematian. Kalian telah ditakut-takuti agar percaya bahwa kalian mungkin menjumpai serangan Ilmu Hitam dua hari sekali—"

"Tidak begitu," Hermione berkata, "kami hanya—"

"Tanganmu tidak naik, Miss Granger!"

Hermione mengangkat tangannya. Profesor Umbridge berpaling darinya.

"Menurut pemahamanku para pendahuluku bukan hanya menggunakan kutukan-kutukan ilegal di depan kalian, dia bahkan menggunakannya kepada kalian."

"Well, dia ternyata seorang maniak, bukan?" kata Dean dengan marah. "Asal Anda tahu, kami masih belajar banyak."

"Tanganmu tidak naik, Mr Thomas!" getar Profesor Umbridge. "Sekarang, menurut pandangan Kementerian bahwa pengetahuan teoritis akan lebih dari mencukupi untuk meluluskan kalian pada ujian, yang memang inti dari keberadaan sekolah. Dan namamu adalah?" tambahnya sambil menatap Parvati, yang tangannya baru saja naik.

"Parvati Patil, dan tak adakah sedikit praktik dalam OWL Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kami? Bukankah kami seharusnya memperlihatkan kami sebenarnya bisa melakukan kontra-kutukan dan segalanya itu?"

"Selama kalian telah belajar teori cukup keras, tak ada alasan mengapa kalian tidak bisa menggunakan mantera-mantera pada kondisi ujian yang terkendali dengan hati-hati," kata Profesor Umbridge.

"Tanpa pernah mempraktikkannya sebelumnya?" kata Parvati dengan tidak percaya. "Apakah Anda memberitahu kami bahwa pertama kalinya kami boleh melakukan mantera-mantera itu adalah ketika ujian?"

"Kuulangi, selama kalian telah belajar teori cukup keras—"

"Dan apa gunanya teori di dunia nyata?" kata Harry dengan keras, kepalannya di udara lagi.

Profesor Umbridge melihat ke atas.

"Ini sekolah, Mr Potter, bukan dunia nyata," katanya dengan lembut.

"Jadi kami tidak boleh bersiap-siap untuk apa yang sedang menunggu kami di luar sana?"

"Tidak ada yang sedang menunggu di luar sana, Mr Potter."

"Oh yeah?" kata Harry. Amarahnya, yang tampaknya telah menggelembung di bawah permukaan sepanjang hari ini, sedang mencapai titik didih.

"Siapa yang kamu bayangkan akan ingin menyerang anak-anak seperti dirimu?" tanya Profesor Umbridge dengan suara semanis madu yang mengerikan.

"Hmm, ayo pikir..." kata Harry dengan suara berpikir yang mengejek. "Mungkin... Lord Voldemort?"

Ron terkesiap; Lavender Brown mengeluarkan jeritan kecil; Neville tergelincir ke samping bangkunya. Namun, Profesor Umbridge tidak berkedip. Dia sedang menatap Harry dengan ekspresi kepuasan suram di wajahnya.

"Sepuluh poin dari Gryffindor, Mr Potter."

Ruang kelas itu hening dan tenang. Semua orang sedang menatap pada Umbridge atau Harry.

"Sekarang, akan kubuat beberapa hal jelas."

Profesor Umbridge berdiri dan mencondongkan badan kepada mereka, tangan-tangannya yang berjari pendek direnggangkan ke meja tulisnya.

"Kalian telah diberitahu bahwa seorang penyihir Hitam tertentu telah kembali dari kematian—"

"Dia tidak mati," kata Harry dengan marah, "tapi yeah, dia sudah kembali!"

"Mr-Potter-kamu-sudah-menghilangkan-sepuluh-poin-dari-asramamu-jangan-membuat-masalah-bagi-dirimu-sendiri," kata Profesor Umbridge dengan satu helaan napas tanpa memandangnya. "Seperti yang kukatakan, kalian telah diberitahu bahwa seorang penyihir Hitam tertentu sedang berkeliaran lagi. Ini bohong."

"Itu BUKAN bohong!" kata Harry. "Aku melihatnya, aku bertarung dengannya!"

"Detensi, Mr Potter!" kata Profesor Umbridge penuh kemenangan. "Besok sore. Jam lima.

Kantorku. Kuulangi, ini bohong. Kementerian Sihir menjamin bahwa kalian tidak berada dalam bahaya dari penyihir Hitam manapun. Kalau kalian masih khawatir, dengan cara apa pun datang dan temui aku di luar jam pelajaran.

Kalau seseorang menakut-nakuti kalian dengan dusta mengenai kelahiran kembali para penyihir Hitam, aku ingin mendengarnya. Aku di sini untuk membantu. Dan sekarang, kalian teruskan membaca. Halaman lima, 'Dasar-Dasar untuk Pemula'."

Profesor Umbridge duduk di belakang mejanya. Akan tetapi, Harry berdiri. Semua orang menatapnya; Seamus tampak setengah ketakutan, setengah kagum.

"Harry, jangan!" Hermione berbisik dengan suara memperingatkan, sambil menarik lengan bajunya, tetapi Harry menyentakkan lengannya keluar jangkauannya.

"Jadi, menurut Anda, Cedric Diggory mati sendiri, bukan begitu?" Harry bertanya, suaranya bergetar.

Ada tarikan napas serentak dari kelas, karena tak seorang pun dari mereka, kecuali Ron dan Hermione, pernah mendengar Harry berbicara mengenai apa yang terjadi di malam Cedric meninggal. Mereka menatap penuh minat dari Harry ke Profesor Umbridge, yang telah mengangkat matanya dan sedang menatapnya tanpa bekas senyum palsu di wajahnya.

"Kematian Cedric Diggory adalah kecelakaan tragis," katanya dingin.

"Itu pembunuhan," kata Harry. Dia bisa merasakan dirinya gemetaran. Dia hampir tidak pernah berbicara kepada siapa pun tentang ini, terlebih lagi kepada semua tiga puluh teman sekelas yang sedang mendengarkan dengan penuh minat. "Voldemort membunuhnya dan Anda tahu itu."

Wajah Profesor Umbridge hampa. Selama sejenak, Harry mengira dia akan berteriak kepadanya. Lalu dia berkata, dengan suara anak perempuan yang paling lembut dan paling manis, "Kemarilah, Mr Potter, sayang."

Harry menendang kursinya ke samping, berjalan mengitari Ron dan Hermione dan ke meja guru. Dia bisa merasakan anggota kelas yang lain menahan napas. Dia merasa sangat marah sehingga dia tidak peduli apa yang terjadi berikutnya.

Profesor Umbridge menarik sebuah gulungan kecil perkamen merah muda keluar dari tas tangannya, merentangkannya di meja tulis, memasukkan pena bulunya ke dalam botol tinta dan mulai mencoret, membungkuk sehingga Harry tidak bisa melihat apa yang sedang ditulisnya. Tak seorang pun berbicara. Setelah semenit atau lebih dia menggulung perkamen itu dan mengetuknya dengan tongkatnya; perkamen itu tersegel sendiri tanpa keliman sehingga dia tidak bisa membukanya.

"Bawa ini ke Profesor McGonagall, sayang," kata Profesor Umbridge, sambil mengulurkan catatan itu kepadanya.

Dia mengambilnya tanpa mengatakan sepatah kata pun, membalikkan tumitnya dan meninggalkan ruangan, bahkan tanpa melihat kepada Ron dan Hermione, sambil membanting pintu ruang kelas hingga tertutup di belakangnya. Dia berjalan sangat cepat menyusuri koridor, catatan untuk McGonagall tergenggam erat di tangannya, dan ketika membelok di sebuah sudut melewati Peeves si hantu jail, seorang pria kecil bermulut lebar yang sedang mengapung telentang di udara, sambil melemparkan beberapa botol tinta.

"Kenapa, ini Potty Wee Potter!" berkotek Peeves, sambil membiarkan dua botol tinta jatuh ke tanah sehingga terbanting dan mengotori dinding dengan tinta; Harry melompat mundur sambil membentak.

"Hentikan, Peeves."

"Oooh, Crackpot sedang ngambek," kata Peeves, sambil mengejar Harry sepanjang koridor, mengejek ketika dia berada di atasnya. "Ada apa kali ini, temanku yang baik Potty? Mendengar suara-suara? Mendapat penglihatan? Berbicara dalam—" Peeves membuat bunyi keras dengan lidahnya "—bahasa aneh?"

"Kubilang, tinggalkan aku SENDIRI!" Harry berteriak, sambil berlari menuruni tangga terdekat, tetapi Peeves hanya meluncur turun dengan punggungnya di pegangan tangga di sampingnya.

"Oh, kebanyakan mengira dia menggertak, lelaki yang gila itu,

Tetapi beberapa lebih baik hati dan mengira dia hanya sedih,

Tetapi Peevesy lebih tahu dan berkata dia memang gila—"

"DIAM!"

Sebuah pintu di sebelah kirinya terbuka dan Profesor McGonagall muncul dari kantornya terlihat muram dan sedikit terganggu. "Apa yang sedang kau teriakkan, Potter?" sambarnya, ketika Peeves berkotek dengan gembira dan melayang pergi dari penglihatan. "Mengapa kamu tidak di kelas?"

"Aku telah dikirim untuk menemui Anda," kata Harry dengan kaku. "Dikirim? Apa maksudmu, dikirim?"

Dia mengulurkan catatan dari Profesor Umbridge. Profesor McGonagall mengambilnya darinya, sambil merengut, membukanya dengan ketukan tongkatnya, merentangkannya dan mulai membaca. Matanya meluncur dari sisi ke sisi di balik kacamata perseginya selagi dia membaca apa yang ditulis Umbridge, dan dengan tiap baris mata itu semakin menyipit.

"Masuk ke sini, Potter."

Dia mengikutinya ke dalam ruang kerjanya. Pintu menutup secara otomatis di belakangnya. "Well?" kata Profesor McGonagall, sambil memberondongnya. "Benarkah itu?"

"Apanya yang benar?" Harry bertanya agak lebih agresif daripada yang dimaksudkannya. "Profesor?" tambahnya, dalam usaha untuk terdengar lebih sopan.

"Benarkah bahwa kamu berteriak kepada Profesor Umbridge?"

"Ya," kata Harry.

"Kamu menyebutnya pembohong?"

"Ya."

"Kamu memberitahunya Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut sudah kembali?"

"Ya."

Profesor McGonagall duduk di belakang meja tulisnya sambil mengamati Harry dengan seksama. Lalu dia berkata, "Makanlah sepotong biskuit, Potter."

"Makan—apa?"

"Makan biskuit," ulangnya dengan tidak sabar, sambil memberi isyarat pada sebuah kaleng kotak-kotak yang terletak di puncak tumpukan kertas di meja tulisnya. "Dan duduklah."

Telah ada kesempatan sebelumnya ketika Harry, yang menduga akan dihukum oleh Profesor McGonagall, malah ditunjuk olehnya untuk tim Quidditch Gryffindor. Dia terbenam ke dalam kursi di seberangnya dan makan sepotong Kadal Jahe, merasa sama bingungnya dan kehilangan arah seperti yang dirasakannya pada kesempatan itu.

Profesor McGonagall meletakkan catatan Profesor Umbridge dan memandang Harry dengan sangat serius.

"Potter, kamu harus berhati-hati."

Harry menelan Kadal Jahenya dan menatapnya. Nada suaranya sama sekali bukanlah yang biasa didengarnya; tidak cepat, pendek dan tegas; tetapi rendah dan cemas dan entah bagaimana lebih manusiawi daripada biasanya.

"Perilaku salah di kelas Dolores Umbridge bisa mengakibatkan lebih banyak daripada kehilangan poin asrama dan detensi."

"Apa yang Anda—?"

"Potter, gunakan akal sehatmu," sambar Profesor McGonagall, mendadak kembali ke gaya berbicaranya yang biasa. "Kamu tahu dari mana dia datang, kamu pasti tahu kepada siapa dia melapor."

Bel akhir pelajaran berdering. Dari atas dan sekitar datang suara gemuruh ratusan murid yang sedang bergerak.

"Di sini dikatakan dia memberimu detensi setiap malam dalam minggu ini, mulai besok," Profesor McGonagall berkata sambil melihat catatan Umbridge lagi.

"Setiap malam dalam minggu ini!" Harry mengulangi dengan terkejut. "Tapi, Profesor, tidak bisakah Anda—?"

"Tidak, aku tidak bisa," kata Profesor McGonagall dengan datar.

"Tapi—"

"Dia gurumu dan punya semua hak untuk memberimu detensi. Kamu akan pergi ke ruangannya pukul lima besok untuk yang pertama. Cuma ingat: melangkahlah hati-hati di sekitar Dolores Umbridge."

"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya!" kata Harry, marah besar. "Voldemort kembali, Anda tahu itu; Profesor Dumbledore tahu itu—"

"Demi Tuhan, Potter!" kata Profesor McGonagall, sambil meluruskan kacamatanya dengan marah (dia berjengit mengerikan ketika mendengar nama Voldemort). "Apakah kamu benar-benar mengira ini mengenai benar dan dusta? Ini tentang menjaga perilaku dan amarahmu di bawah kendali!"

Dia berdiri, lubang hidungnya melebar dan mulutnya sangat tipis, dan Harry juga berdiri.

"Makan biskuit lagi," katanya dengan kesal, sambil menyodorkan kaleng kepadanya.

"Tidak, terima kasih," kata Harry dingin.

"Jangan bersikap menggelikan," sambarnya.

Dia mengambil satu.

"Terima kasih," katanya dengan enggan.

"Tidakkah kamu mendengar pidato Dolores Umbridge di pesta awal semester, Potter?"

"Yeah," kata Harry. "Yeah... katanya... kemajuan akan dilarang atau... well, artinya bahwa... bahwa Kementerian Sihir berusaha ikut campur di Hogwarts."

Profesor McGonagall menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu mendengus, berjalan mengitari meja tulisnya dan membuka pintu baginya.

"Well, aku senang kau mendengarkan Hermione Granger," katanya sambil menunjukkan untuk keluar dari kantornya.

Learn languages from TV shows, movies, news, articles and more! Try LingQ for FREE