×

Usamos cookies para ayudar a mejorar LingQ. Al visitar este sitio, aceptas nuestras politicas de cookie.

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 19: Singa dan Ul… – Texto para leer

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 19: Singa dan Ular (2/2)

Intermedio 1 lección de de indonesio para practicar la lectura

Comienza a aprender esta lección ya

Bab 19: Singa dan Ular (2/2)

"-- tapi kau suka keluarga Weasley, bukan, Potter?" kata Malfoy sambil mengejek. "Menghabiskan liburan di sana dan segalanya, bukan? Tidak ngerti bagaimana kau bisa tahan bau busuknya, tapi kukira kalau kau dibesarkan oleh para Muggle, bahkan gubuk Weasley berbau OK --"

Harry menarik George. Sementara itu, butuh usaha gabungan Angelina, Alicia dan Katie untuk menghentikan Fred melompat pada Malfoy, yang sedang tertawa terang-terangan. Harry memandang berkeliling mencari Madam Hooch, tetapi dia masih memaki Crabbe karena serangan Bludger ilegalnya.

"Atau mungkin," kata Malfoy, mengerling sementara dia mundur, "kau bisa ingat seperti apa rumah ibumu berbau busuk, Potter, dan kandang babi Weasley mengingatkanmu padanya --"

Harry tidak sadar melepaskan George, yang dia tahu hanyalah bahwa sedetik kemudian mereka berdua sedang berlari cepat menuju Malfoy. Dia sudah sepenuhnya lupa bahwa semua guru sedang menonton: yang ingin dia lakukan hanyalah menyebabkan sebanyak mungkin rasa sakit pada Malfoy; tak ada waktu untuk menarik keluar tongkatnya, dia hanya mengeluarkan kepalan tangan yang sedang menggenggam Snitch dan membenamkannya sekeras yang dia bisa ke perut Malfoy —

"Harry! HARRY! GEORGE! JANGAN!"

Dia bisa mendengar suara-suara anak-anak perempuan berteriak, Malfoy menjerit, George menyumpah, sebuah peluit ditiup dan pekik kerumunan di sekitarnya, tapi dia tidak peduli. Tidak sampai seseorang di sekitar sana berteriak "Impedimenta!" dan dia terjatuh ke belakang akibat tenaga mantera itu, barulah dia menghentikan usaha meninju setiap inci Malfoy yang bisa dijangkaunya.

"Kalian kira apa yang sedang kalian lakukan?" jerit Madam Hooch, selagi Harry melompat bangkit. Kelihatannya dia yang telah mengenainya dengan Mantera Perintang; dia sedang memegang peluitnya di satu tangan dan sebuah tongkat di tangan lainnya; sapunya tergeletak begitu saja beberapa kaki jauhnya. Malfoy bergelung di atas tanah, rengekan dan merintih, hidungnya berdarah; George berbibir bengkak; Fred masih ditahan paksa oleh ketiga Chaser, dan Crabbe sedang berkotek di latar belakang.

"Aku belum pernah melihat kelakuan seperti itu -- kembali ke kastil, kalian berdua, dan langsung ke kantor Kepala Asrama kalian! Pergi! Sekarang!"

Harry dan George berbalik dan berjalan keluar dari lapangan, keduanya terengah-engah, tak satupun berkata sepatah kata pun kepada yang lain. Lolongan dan cemoohan dari kerumunan semakin samar dan semakin samar sampai mereka mencapai Aula Depan, di mana mereka tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara langkah kaki mereka sendiri. Harry menjadi sadar bahwa sesuatu masih meronta-ronta di tangan kanannya, buku-kuku jari yang dibuatnya memar menghantam rahang Malfoy. Ketika memandang ke bawah, dia melihat sayap-sayap perak Snitch menonjol keluar dari antara jari-jarinya, meronta-ronta ingin bebas.

Mereka belum lagi mencapai pintu kantor Profesor McGonagall ketika dia datang menyusuri koridor di belakang mereka. Dia mengenakan sebuah scarf Gryffindor, tetapi melepaskannya dari lehernya dengan tangan-tangan bergetar selagi dia berjalan menuju mereka, tampak pucat karena marah.

"Masuk!" katanya marah besar, sambil menunjuk ke pintu. Harry dan George masuk. Dia berputar ke belakang meja tulisnya dan menghadap mereka, gemetaran karena marah selagi dia melemparkan scarf Gryffindor itu ke samping ke atas lantai.

"Well?" katanya. "Aku belum pernah melihat pertunjukan yang memalukan begini. Dua lawan satu! Jelaskan!"

"Malfoy memancing kami," kata Harry kaku.

"Memancing kalian?" teriak Profesor McGonagall sambil menghantamkan tinjunya ke meja tulisnya sehingga kaleng kotak-kotaknya tergelincir dari samping meja dan terbuka, mengotori lantai dengan Kadal Jahe. "Dia baru saja kalah, bukan? Tentu saja dia mau memancing kalian! Tapi apa yang bisa dikatakannya yang membenarkan apa yang kalian berdua --"

"Dia menghina orang tua saya," geram George. "Dan ibu Harry."

"Tapi bukannya membiarkan Madam Hooch menyelesaikan, kalian berdua memutuskan memberi pertunjukan duel Muggle, bukan?" teriak Profesor McGonagall. "Apakah kalian punya gambaran apa yang telah kalian --?"

"Hem, hem."

Harry dan George keduanya berputar. Dolores Umbridge sedang berdiri di ambang pintu terbungkus dalam sebuah mantel wol hijau yang sangat meningkatkan kemiripannya dengan seekor katak besar, dan sedang tersenyum dengan cara mengerikan, memuakkan dan tidak menyenangkan yang telah Harry hubungkan dengan kesengsaraan yang akan segera tiba.

"Bolehkah kubantu Anda, Profesor McGonagall?" tanya Profesor Umbridge dengan suara manisnya yang paling beracun.

Darah menyerbu wajah Profesor McGonagall.

"Bantu?" ulangnya, dengan suara tertahan. "Apa maksud Anda, bantu?"

Profesor Umbridge bergerak maju ke dalam kantor itu, masih memamerkan senyumnya yang memuakkan.

"Kenapa, kukira Anda mungkin bersyukur atas sedikit kekuasaan tambahan."

Harry tidak akan terkejut melihat bunga-bunga api beterbangan dari lubang hidung Profesor McGonagall.

"Yang Anda kira salah," katanya, sambil memalingkan punggungnya kepada Umbridge.

"Sekarang, kalian berdua sebaiknya mendengarkan dengan seksama. Aku tidak peduli provokasi apa yang dilakukan Malfoy kepada kalian, aku tidak peduli kalaupun dia menghina setiap anggota keluarga yang kalian miliki, perilaku kalian menjijikkan dan aku akan memberikan masing-masing dari kalian detensi seminggu! Jangan memandangku seperti itu, Potter, kau pantas mendapatkannya! Dan kalau salah satu dari kalian pernah --"

"Hem, hem."

Profesor McGonagall menutup matanya seolah-olah berdoa untuk kesabaran selagi dia memalingkan wajahnya menghadap Profesor Umbridge lagi.

"Ya?"

"Kukira mereka pantas mendapatkan lebih dari detensi," kata Umbridge, sambil tersenyum lebih lebar lagi.

Mata Profesor McGonagall terbuka lebar.

"Tetapi sayang," katanya, dengan usaha tersenyum balik yang membuatnya terlihat seolah-olah rahangnya terkunci, "yang kupikirkan adalah yang berarti, karena mereka ada dalam Asramaku, Dolores."

"Well, sebenarnya, Minerva," Profesor Umbridge tersenyum simpul, "kukira Anda akan mendapati bahwa yang kupikirkan memang berarti. Sekarang, di mana itu? Cornelius baru saja mengirimnya ... maksudku," dia memberikan tawa kecil selagi dia menggeledah tas tangannya, "Menteri baru saja mengirimnya ... ah ya ..."

Dia menarik keluar sepotong perkamen yang sekarang dibukanya, sambil berdehem rewel sebelum mulai membaca apa isinya.

"Hem, hem ... 'Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Lima'."

"Tidak satu lagi!" seru Profesor McGonagall dengan keras.

"Well, ya," kata Umbridge, masih tersenyum. "Nyatanya, Minerva, Andalah yang membuatku melihat bahwa kita perlu amandemen lebih lanjut ... Anda ingat bagaimana Anda melangkahiku, ketika aku tidak rela membiarkan tim Quidditch Gryffindor dibentuk kembali? Bagaimana Anda membawa kasus itu kepada Dumbledore, yang bersikeras bahwa tim itu diizinkan bermain? Well, sekarang, aku tidak akan melakukan itu.

Aku menghubungi Menteri seketika, dan beliau sangat setuju denganku bahwa Penyelidik Tinggi punya kekuasaan untuk menghilangkan hak-hak khusus para murid, atau dia -- maksudnya, aku -- akan punya lebih sedikit kekuasaan daripada para guru biasa! Dan Anda lihat sekarang, bukan, Minerva, betapa benarnya aku berusaha menghentikan tim Gryffindor dibentuk kembali? Amarah yang mengerikan ... ngomong-ngomong, aku sedang membacakan amandemen kita ... hem, hem ... 'Penyelidik Tinggi mulai sekarang memiliki kekuasaan tertinggi terhadap semua hukuman, sanksi dan penghilangan hak-hak khusus yang berhubungan dengan murid-murid Hogwarts, dan kekuasaan untuk mengubah hukuman-hukuman, sanksi dan penghilangan hak-hak khusus tersebut yang mungkin telah diperintahkan oleh para anggota staf yang lain. Tertanda, Cornelius Fudge, Menteri Sihir, Order of Merlin Kelas Pertama, etc., etc.'"

Dia menggulung perkamen itu dan meletakkannya kembali ke dalam tas tangannya, masih tersenyum.

"Jadi ... kukira aku akan harus melarang yang dua ini dari bermain Quidditch selamanya," katanya sambil melihat dari Harry ke George dan balik lagi.

Harry merasa Snitch berkibar-kibar dengan hebat dalam tangannya.

"Melarang kami?" katanya, dan suaranya anehnya terdengar jauh. "Dari bermain ... selamanya?"

"Ya, Mr Potter, kukira larangan bermain seumur hidup akan berhasil," kata Umbridge, senyumnya melebar lagi selagi dia menyaksikannya bersusah payah mengerti apa yang telah dikatakannya. "Kamu dan Mr Weasley. Dan kukira, agar amannya, kembaran pria muda ini harus dihentikan juga -- kalau para anggota timnya tidak menahan dia, aku merasa yakin dia pasti telah menyerang Mr Malfoy muda juga. Aku mau sapu-sapu mereka disita, tentu saja; aku akan menyimpannya dengan aman di dalam kantorku, untuk menjamin tidak ada pelanggaran dari laranganku.

Tapi aku tidak bersikap tak masuk akal, Profesor McGonagall," lanjutnya, sambil berpaling kembali kepada Profesor McGonagall yang sekarang sedang berdiri diam seolah-olah terpahat dari es, sambil menatapnya. "Sisa tim yang lain boleh terus bermain, aku tidak melihat tanda-tanda kekerasan dari mereka. Well ... selamat sore kepada kalian."

Dan dengan tampang kepuasan penuh, Umbridge meninggalkan ruangan, menyisakan keheningan mengerikan di belakangnya.

*

"Dilarang bertanding," kata Angelina dengan suara hampa, larut malam itu di dalam ruang duduk. "Dilarang bertanding. Tak ada Seeker dan tak ada Beater ... apa yang akan kita lakukan?"

Rasanya sama sekali tidak seperti mereka telah memenangkan pertandingan itu. Ke manapun Harry memandang ada wajah-wajah sedih dan marah; tim itu sendiri merosot di sekitar api, semuanya kecuali Ron, yang belum terlihat sejak akhir pertandingan.

"Begitu tidak adil," kata Alicia dengan kaku. "Maksudku, bagaimana dengan Crabbe dan Bludger yang dipukulnya setelah peluit ditiup? Sudahkah dia melarangnya bertanding?"

"Tidak," kata Ginny dengan merana; dia dan Hermione duduk di kedua sisi Harry. "Dia cuma dihukum menulis, kudengar Montague menertawakannya saat makan malam."

"Dan melarang Fred bertanding saat dia bahkan tidak melakukan apapun!" kata Alicia marah besar, sambil meninju lututnya dengan kepalan tangannya.

"Bukan salahku aku tidak melakukan apa-apa," kata Fred, dengan tampang sangat jelek di wajahnya, "aku sudah memukul kantong sampah kecil itu kalau kalian bertiga tidak mencegahku."

Harry memandang ke jendela yang gelap dengan sengsara. Salju sedang turun. Snitch yang telah ditangkapnya tadi sekarang sedang meluncur mengitari ruang duduk; orang-orang sedang mengawasi pergerakannya seolah-olah dihipnotis dan Crookshanks sedang melompat dari kursi ke kursi, mencoba menangkapnya.

"Aku akan pergi tidur," kata Angelina, sambil bangkit lambat-lambat. "Mungkin ini semua akan berubah menjadi mimpi buruk ... mungkin aku akan terbangun besok dan mendapati kita belum bermain ..."

Dia segera diikuti oleh Alicia dan Katie. Fred dan George naik ke tempat tidur beberapa waktu kemudian, sambil menatap tajam kepada semua orang yang mereka lewati, dan Ginny pergi tak lama setelah itu. Hanya Harry dan Hermione yang tertinggal di sisi api.

"Apakah kau sudah melihat Ron?" Hermione bertanya dengan suara rendah.

Harry menggelengkan kepalanya.

"Kukira dia sedang menghindari kita," kata Hermione. "Menurutmu di mana dia --?"

But pada saat itu juga, ada suara keriut di belakang mereka sementara Nyonya Gemuk berayun ke depan dan Ron memanjat masuk melalui lubang potret. Dia sangat pucat dan ada salju di rambutnya. Ketika dia melihat Harry dan Hermione, dia berhenti melangkah.

"Ke mana kau tadi?" kata Hermione dengan cemas, sambil melompat bangkit.

"Berjalan," Ron bergumam. Dia masih mengenakan baju Quidditchnya.

"Kau tampak membeku," kata Hermione. "Kemari dan duduklah!"

Ron berjalan ke sisi perapian dan merosot ke kursi terjauh dari Harry, tanpa memandangnya. Snitch curian itu meluncur di atas kepala mereka.

"Aku minta maaf," Ron berkomat-kamit, sambil memandang kakinya.

"Untuk apa?" kata Harry.

"Karena berpikir aku bisa bermain Quidditch," kata Ron. "Aku akan mengundurkan diri besok pagi-pagi sekali."

"Kalau kau mengundurkan diri," kata Harry dengan tidak sabar, "hanya akan ada tiga pemain yang tertinggal dalam tim." Dan ketika Ron terlihat bingung, dia berkata, "Aku telah diberi larangan bermain seumur hidup. Begitu juga Fred dan George."

"Apa?" Ron berteriak.

Hermione memberitahunya cerita lengkapnya; Harry tidak sanggup menceritakannya lagi. Ketika dia selesai, Ron terlihat lebih menderita daripada sebelumnya.

"Ini semua salahku --"

"Kau tidak menyuruhku memukul Malfoy," kata Harry dengan marah.

"-- kalau aku tidak begitu buruk dalam Quidditch --"

"-- tak ada hubungannya dengan itu."

"-- lagu itu yang memicuku --"

"-- pasti akan memicu siapapun."

Hermione bangkit dan berjalan ke jendela, menjauh dari perseteruan itu, sambil mengamati salju yang beterbangan turun ke kaca.

"Lihat, hentikan, bisakah!" Harry meledak. "Sudah cukup buruk, tanpa kau yang menyalahkan dirimu untuk semuanya!"

Ron tidak berkata apa-apa melainkan duduk menatapi tepi jubahnya yang lembab dengan sengsara. Setelah beberapa saat dia berkata dengan suara tak berminat, "Ini yang terburuk yang pernah kurasakan seumur hidupku."

"Bergabunglah dengan klub," kata Harry dengan getir.

"Well," kata Hermione, suaranya sedikit bergetar. "Aku bisa memikirkan satu hal yang mungkin menghibur kalian berdua."

"Oh yeah?" kata Harry dengan skeptis.

"Yeah," kata Hermione sambil berpaling dari jendela yang hitam pekat dan penuh bintik salju, sebuah senyum lebar terentang di wajahnya. "Hagrid sudah kembali."

Learn languages from TV shows, movies, news, articles and more! Try LingQ for FREE