Bab 9: Penderitaan Mrs Weasley (2/2)
"Prefek, eh?" gerutu Moody, mata normalnya menatap Ron dan mata sihirnya berputar berkeliling dan memandang ke sisi kepalanya. Harry punya perasaan tak nyaman bahwa mata itu sedang melihatnya dan pindah mendekat kepada Sirius dan Lupin.
"Well, selamat," kata Moody, masih melotot kepada Ron dengan mata normalnya, "figur-figur dalam kekuasaan selalu menarik masalah, tapi kurasa Dumbledore mengira kamu bisa menahan kebanyakan kutukan utama atau dia tidak akan menunjukmu ..."
Ron terlihat agak terkejut atas sudut pandang ini tetapi diselamatkan dari keharusan untuk menjawab oleh kedatangan ayah dan kakak tertuanya. Mrs Weasley merasa sangat senang sehingga dia bahkan tidak mengeluh bahwa mereka membawa Mundungus bersama mereka; dia memakai jas luar panjang yang terlihat menggembung di tempat-tempat aneh dan menolak tawaran untuk melepaskannya dan meletakkannya bersama mantel bepergian Moody.
"Well, kukira kita harus bersulang," kata Mr Weasley, ketika semua orang sudah minum. Dia mengangkat pialanya. "Kepada Ron dan Hermione, para prefek baru Gryffindor!"
Ron dan Hermione tersenyum ketika semua orang minum untuk mereka, dan lalu bertepuk tangan.
"Aku sendiri tak pernah jadi prefek," kata Tonks dengan ceria dari balik Harry ketika semua orang bergerak menuju meja untuk makan. Rambutnya merah tomat dan sepanjang pinggang hari ini; dia tampak seperti kakak perempuan Ginny. "Kepala Asramaku mengatakan aku kurang sifat-sifat tertentu yang diperlukan."
"Seperti apa?" kata Ginny, yang sedang memilih kentang panggang.
"Seperti kemampuan untuk menjaga tingkah lakuku," kata Tonks.
Ginny tertawa; Hermione terlihat seakan-akan tidak tahu apakah harus tersenyum atau tidak dan memutuskan untuk minum Butterbeer banyak-banyak dan tersedak olehnya.
"Bagaimana denganmu, Sirius?" Ginny bertanya, sambil memukul-mukul punggung Hermione.
Sirius, yang tepat di samping Harry, mengeluarkan tawa mirip gonggongan yang biasa.
"Tak seorang pun yang akan menjadikanku prefek, aku menghabiskan terlalu banyak waktu dalam detensi bersama James. Lupin anak yang baik, dia dapat lencana."
"Kukira Dumbledore mungkin berharap aku akan bisa melakukan sedikit pengendalian terhadap sahabat-sahabat baikku," kata Lupin. "Aku hampir tidak perlu bilang bahwa aku gagal."
Perasaan Harry mendadak membaik. Ayahnya juga tidak jadi prefek. Seketika pesta itu tampak lebih menyenangkan; dia memenuhi piringnya, merasa dua kali lebih suka kepada semua orang dalam ruangan itu.
Ron sedang bercerita dengan gembira mengenai sapu barunya kepada siapa pun yang mau mendengarkan.
"... nol ke tujuh puluh dalam sepuluh detik, tidak jelek, 'kan? Kalau kau pertimbangkan Komet Dua Sembilan Puluh hanya nol ke enam puluh dan itu pun dengan angin buritan yang bagus menurut Sapu yang Mana?"
Hermione sedang berbincang-bincang dengan bersemangat kepada Lupin mengenai pandangannya terhadap hak-hak peri.
"Maksudku, itu omong kosong yang sejenis dengan pemisahan manusia serigala, bukan begitu? Semuanya berakar dari hal mengerikan yang dimiliki oleh para penyihir yaitu pemikiran bahwa mereka lebih baik daripada makhluk-makhluk lain ..."
Mrs Weasley dan Bill sedang berdebat seperti biasa mengenai rambut Bill.
"... sudah tak bisa diurus, dan kau begitu tampan, akan tampak lebih baik kalau lebih pendek, bukankah begitu, Harry?"
"Oh -- aku tak tahu --" kata Harry, agak terkejut dimintai pendapat, dia menyelinap menjauh dari mereka ke arah Fred dan George yang sedang berkerumun di sudut dengan Mundungus.
Mundungus berhenti berbicara ketika dia melihat Harry, tetapi Fred berkedip dan memberi isyarat kepada Harry untuk mendekat.
"Tidak apa-apa," dia memberitahu Mundungus, "kita bisa mempercayai Harry, dia pendukung finansial kami."
"Lihat apa yang dibawa Dung untuk kami," kata George, sambil mengulurkan tangannya kepada Harry. Tangan itu penuh dengan apa yang terlihat seperti kacang polong hitam yang mengkerut. Sebuah suara derak samar datang dari kacang-kacang itu, walaupun mereka benar-benar tidak bergerak.
"Biji-biji Tentakel Berbisa," kata George. "Kami butuh mereka untuk Kotak Makanan Pembolos tapi mereka adalah Benda Tidak Diperdagangkan Kelas C jadi kami agak kesulitan mendapatkannya."
"Kalau begitu, sepuluh Galleon untuk semuanya, Dung?" kata Fred.
"D'gan semua masalah yang kulalui untuk mendapatkannya?" kata Mundungus, matanya yang merah darah dan kendor meregang lebih lebar lagi. "Maaf, nak, tapi aku tak akan mengambil satu Knut pun di bawah dua puluh."
"Dung suka lelucon kecilnya," Fred berkata kepada Harry.
"Yeah, yang terbaik sejauh ini adalah enam Sickle untuk sekantong pena bulu Knarl," kata George.
"Hati-hati," Harry memperingatkan mereka dengan pelan.
"Apa?" kata Fred. "Mum sibuk memuji Prefek Ron, kita tidak apa-apa."
"Tapi Moody bisa memandang kalian dengan matanya," Harry menunjukkan.
Mundungus memandang dengan gugup lewat bahunya.
"Poin yang bagus itu," gerutunya. "Baiklah, nak, sepuluh jadinya, kalau kalian mengambilnya dengan cepat."
"Cheers, Harry!" kata Fred dengan senang, sewaktu Mundungus telah mengosongkan kantongnya ke tangan-tangan si kembar yang dijulurkan dan berjalan tergesa-gesa menuju makanan. "Kita sebaiknya membawa ini ke atas ..."
Harry memperhatikan mereka pergi, sambil merasa agak kurang enak. Baru saja terpikir olehnya bahwa Mr dan Mrs Weasley akan mau tahu bagaimana Fred dan George membiayai bisnis toko lelucon mereka ketika, seperti yang tidak terhindarkan, mereka akhirnya mengetahui hal itu. Memberikan hasil kemenangan Triwizardnya kepada si kembar tampak hal yang sederhana untuk dilakukan pada saat itu, tetapi bagaimana kalau itu menuntun kepada pertengkaran keluarga lain dan kerenggangan seperti Percy? Apakah Mrs Weasley masih akan merasa bahwa Harry seperti anaknya sendiri kalau dia mengetahui bahwa dia yang memungkinkan Fred dan George memulai karir yang dianggapnya tidak sesuai?
Sambil berdiri di tempat si kembar meninggalkannya, hanya ditemani oleh perasaan bersalah yang memberati dasar perutnya, Harry mendengar namanya sendiri diucapkan. Suara dalam Kingsley Shacklebolt terdengar bahkan melewati obrolan di sekeliling.
"... kenapa Dumbledore tidak menjadikan Potter prefek?" kata Kingsley.
"Dia punya alasannya tersendiri," jawab Lupin.
"Tapi akan memperlihatkan keyakinan pada dirinya. Itu yang akan kulakukan," Kingsley bersikeras, "terutama dengan Daily Prophet yang mengoloknya tiap beberapa hari sekali ..."
Harry tidak berpaling; dia tidak mau Lupin atau Kingsley mengetahui dia telah mendengarnya. Walaupun sama sekali tidak lapar, dia mengikuti Mundungus kembali menuju meja. Kesenangannya atas pesta itu telah menguap secepat datangnya; dia berharap dia ada di atas di tempat tidurnya.
Mad-Eye Moody sedang membaui sebuah paha ayam dengan apa yang tersisa dari hidungnya; jelas dia tidak bisa mendeteksi sisa-sisa racun apapun, karena dia lalu mengoyaknya dengan gigi.
"... pegangannya terbuat dari kayu ek Spanyol dengan pernis anti kutukan dan kendali getar terpasang --" Ron sedang berkata kepada Tonks.
Mrs Weasley menguap lebar-lebar.
"Well, kukira aku akan mengatasi Boggart itu sebelum tidur ... Arthur, aku tidak mau mereka terjaga terlalu malam, oke? Malam, Harry, sayang."
"Kau baik-baik saja, Potter?" gerutu Moody.
"Yeah, baik," dusta Harry.
Moody meneguk dari botol labunya, mata biru elektriknya menatap ke samping kepada Harry.
"Kemarilah, aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagimu," katanya.
Dari salah satu kantong dalam di jubahnya Moody menarik sebuah foto sihir tua yang sangat compang-camping.
"Order of the Phoenix yang asli," geram Moody. "Akhirnya kutemukan tadi malam sewaktu aku sedang mencari Jubah Gaib cadanganku, karena Podmore tidak punya sopan santun untuk mengembalikan jubah terbaikku ... kukira orang-orang mungkin ingin melihatnya."
Harry mengambil foto itu. Kerumunan kecil orang, beberapa melambai kepadanya, yang lain mengangkat kacamata mereka, memandang balik kepadanya.
"Itu aku," kata Moody sambil menunjuk kepada dirinya sendiri. Moody di gambar itu tidak bisa salah dikenali, walaupun rambutnya tidak begitu kelabu dan hidungnya utuh. "Dan itu Dumbledore di sampingku, Dedalus Diggle di sisi lain ... itu Marlene McKinnon, dia terbunuh dua minggu setelah ini diambil, mereka membunuh semua keluarganya. Itu Frank dan Alice Longbottom --"
Perut Harry, yang telah tidak enak, mengejang ketika dia melihat kepada Alice Longbottom; dia mengenali wajah bulatnya yang bersahabat dengan baik, walaupun mereka belum pernah berjumpa, karena dia sangat mirip dengan anaknya, Neville.
"-- orang-orang malang," geram Moody. "Lebih baik mati daripada apa yang terjadi dengan mereka ... dan itu Emmeline Vance, kau sudah bertemu dengannya, dan di sana Lupin, tentu saja ... Benjy Fenwick, dia kena juga, kami hanya pernah menemukan potongan-potongan tubuhnya ... geser ke samping yang di sana," tambahnya sambil menyodok gambar itu, dan orang-orang kecil di foto menepi ke samping, sehingga yang tertutup sebagian bisa pindah ke depan.
"Itu Edgar Bones ... kakak Amelia Bones, mereka bunuh dia dan keluarganya juga, dia adalah penyihir hebat ... Sturgis Podmore, astaga, dia tampak muda ... Caradoc Dearborn, menghilang enam bulan setelah ini, kami tidak pernah menemukan mayatnya ... Hagrid, tentu saja, terlihat persis sama ... Elphias Doge, kau sudah bertemu dengannya, aku lupa dia dulu suka memakai topi bodoh itu ... Gideon Prewett, butuh lima Pelahap Maut untuk membunuhnya dan saudaranya Fabian, mereka bertarung seperti pahlawan ... geser, geser ..."
Orang-orang kecil di foto itu saling mendesak satu sama lain dan yang tersembunyi tepat di belakang muncul di bagian depan gambar.
"Itu saudara lelaki Dumbledore, Aberforth, satu-satunya pertemuanku dengannya, lelaki aneh ... itu Dorcas Meadows, Voldemort membunuhnya sendiri ... Sirius, waktu dia masih berambut pendek ... dan ... itu dia, kukira itu akan membuatmu tertarik!"
Jantung Harry berbalik. Ibu dan ayahnya sedang tersenyum kepadanya, duduk di kedua sisi seorang lelaki kecil yang matanya berair yang dikenali Harry dengan seketika sebagai Wormtail, orang yang telah mengkhianati keberadaan orang tuanya kepada Voldemort dan dengan begitu membantu mendatangkan kematian mereka.
"Eh?" kata Moody.
Harry memandang wajah Moody yang penuh luka dan lubang. Jelas Moody mendapat kesan bahwa dia baru saja memberi Harry sesuatu yang menyenangkan.
"Yeah," kata Harry, mencoba menyeringai sekali lagi. "Er ... dengar, aku baru saja ingat, aku belum mengepak ..."
Dia bebas dari keharusan menciptakan benda yang belum dikemasnya. Sirius baru saja berkata, "Apa yang kau punya di sana, Mad-Eye?" dan Moody berpaling kepadanya. Harry menyeberangi dapur, menyelinap melalui pintu dan naik tangga sebelum siapa pun bisa memanggilnya kembali.
Dia tidak tahu mengapa jadi terguncang begitu; dia sudah pernah melihat gambar-gambar orang tuanya ... tapi mendapatkan mereka diberikan kepadanya seperti itu, ketika dia sama sekali tidak menduga ... tak ada yang suka itu, pikirnya dengan marah ...
Dan lalu, melihat mereka dikelilingi oleh semua wajah gembira lain ... Benjy Fenwick, yang telah ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh, dan Gideon Prewett, yang telah mati seperti pahlawan, dan keluarga Longbottom, yang telah disiksa hingga gila ... semua melambai dengan gembira dari foto itu untuk selamanya, tanpa tahu bahwa mereka sudah dikutuk ... well, Moody mungkin menganggap itu menarik ... dia, Harry, menganggapnya mengganggu ...
Harry berjingkat menaiki tangga di aula melewati kepala peri yang disumpal, senang berada sendirian lagi, tetapi ketika dia mendekati puncak tangga pertama dia mendengar suara-suara. Seseorang sedang tersedu-sedan di ruang duduk.
"Halo?" Harry berkata.
Tidak ada jawaban tetapi sedu sedan itu berlanjut terus. Dia menaiki sisa anak tangga dua-dua, berjalan menyeberangi puncak tangga dan membuka pintu ruang duduk.
Seseorang sedang gemetar ketakutan pada dinding yang gelap, dengan tongkat di tangannya, seluruh tubuhnya bergetar akibat tangisannya. Tergeletak di karpet tua berdebu dalam seberkas cahaya bulan, jelas-jelas sudah mati, adalah Ron.
Semua udara seakan menghilang dari paru-paru Harry; dia merasa seolah-olah dia sedang jatuh melalui lantai; otaknya menjadi sedingin es -- Ron mati, tidak, tidak mungkin --
Tapi tunggu sebentar, itu tidak mungkin -- Ron ada di bawah --
"Mrs Weasley?" Harry berkata dengan parau.
"R--r--riddikulus!" Mrs Weasley tersedu-sedu, sambil menunjukkan tongkatnya ke tubuh Ron.
Crack.
Tubuh Ron berubah menjadi tubuh Bill, telentang dengan tangan dan kaki terentang lebar, matanya terbuka lebar dan kosong. Mrs Weasley tersedu lebih keras dari sebelumnya.
"R--riddikulus!" dia terisak lagi.
Crack.
Tubuh Mr Weasley menggantikan tubuh Bill, kacamatanya miring, aliran darah kecil mengalir menuruni wajahnya.
"Tidak!" Mrs Weasley mengerang. "Tidak ... riddikulus! Riddikulus! RIDDIKULUS!"
Crack. Si kembar yang sudah mati. Crack. Percy yang sudah mati. Crack. Harry yang sudah mati ...
"Mrs Weasley, keluarlah dari sini!" teriak Harry sambil menatap ke mayatnya sendiri di lantai. "Biarkan orang lain --"
"Apa yang sedang terjadi?"
Lupin telah datang sambil berlari ke dalam ruangan itu, diikuti segera oleh Sirius, dengan Moody terseok-seok di belakang mereka. Lupin melihat dari Mrs Weasley ke mayat Harry di lantai dan terlihat mengerti dalam sekejap. Sambil menarik keluar tongkatnya sendiri, dia berkata dengan sangat tegas dan jelas:
"Riddikulus!"
Tubuh Harry menghilang. Sebuah bola keperakan tergantung di udara di atas titik di mana tubuh itu tadi terbaring. Lupin mengayunkan tongkatnya sekali lagi dan bola itu menghilang menjadi segumpal asap.
"Oh -- oh -- oh!" Mrs Weasley bernapas tertahan-tahan dan tangisannya pecah, dengan wajah tertutup tangannya.
"Molly," kata Lupin dengan suram, sambil berjalan ke arahnya. "Molly, jangan ..."
Detik berikutnya, dia menangis sepuas hati di bahu Lupin.
"Molly, itu hanya Boggart," katanya menenangkan, sambil menepuk-nepuk kepalanya. "Hanya Boggart bodoh ..."
"Aku melihat mereka m-m-mati setiap kali!" Mrs Weasley mengerang ke bahunya. "Setiap k-k-kali! Aku b-b-bermimpi tentang hal itu ..."
Sirius sedang menatap potongan karpet tempat Boggart, yang berpura-pura sebagai mayat Harry, berada tadi. Moody sedang memandang Harry, yang menghindari tatapannya. Dia punya perasaan aneh bahwa mata sihir Moody telah mengikutinya sepanjang jalan dari dapur itu.
"J-j-jangan beritahu Arthur," Mrs Weasley bernapas tertahan sekarang, sambil menyeka matanya dengan kalut dengan ujung lengan bajunya. "Aku t-t-tak mau dia tahu ... bersikap tolol ..."
Lupin memberikan kepadanya sebuah sapu tangan dan dia meniup hidungnya.
"Harry, aku sangat menyesal. Apa yang pasti kaupikirkan tentang diriku?" dia berkata gemetaran. "Bahkan tidak bisa mengenyahkan Boggart ..."
"Jangan bodoh," kata Harry, sambil mencoba tersenyum.
"Aku hanya b-b-begitu khawatir," katanya, air mata bercucuran dari matanya lagi. "Setengah dari keluarga ada dalam Order, p-p-pastilah keajaiban kalau kami semua selamat melewati ini ... dan P-P-Percy tidak mau bicara dengan kami ... bagaimana kalau sesuatu yang m-m-mengerikan terjadi dan kami tidak akan pernah b-b-berbaikan dengannya? Dan apa yang akan terjadi kalau Arthur dan aku terbunuh, siapa yang akan menjaga Ron dan Ginny?"
"Molly, sudah cukup," kata Lupin dengan tegas. "Ini tidak seperti terakhir kali. Order sudah lebih siap, kita mulai duluan, kita tahu apa yang sedang direncanakan Voldemort --"
Mrs Weasley mengeluarkan cicit ketakutan kecil ketika mendengar nama itu.
"Oh, Molly, ayolah, sudah waktunya kamu terbiasa mendengar namanya -- lihat, aku tidak bisa menjanjikan bahwa tak seorang pun akan terluka, tidak ada yang bisa menjanjikan itu, tapi kita jauh lebih baik daripada terakhir kali. Kamu tidak ada dalam Order saat itu, kamu tidak mengerti. Terakhir kali kami kalah jumlah dua puluh lawan satu oleh para Pelahap Maut dan mereka mengerjai kami satu demi satu ..."
Harry memikirkan foto itu lagi, wajah-wajah orang tuanya yang tersenyum. Dia tahu Moody masih mengamatinya.
"Jangan khawatir tentang Percy," kata Sirius dengan kasar. "Dia akan sadar. Hanya masalah waktu sebelum Voldemort bergerak terang-terangan; sekali dia melakukan itu, seluruh Kementerian akan memohon kita untuk memaafkan mereka. Dan aku tidak yakin aku akan menerima permintaan maaf mereka," dia menambahkan dengan getir.
"Dan mengenai siapa yang akan menjaga Ron dan Ginny kalau kamu dan Arthur mati," kata Lupin sambil tersenyum sedikit, "apa yang kaukira akan kami lakukan, membiarkan mereka kelaparan?"
Mrs Weasley tersenyum dengan gemetar.
"Bersikap tolol," dia bergumam lagi, sambil menyeka matanya.
Tetapi Harry, ketika menutup pintu kamar tidurnya sekitar sepuluh menit kemudian, tidak bisa berpikir bahwa Mrs Weasley tolol. He masih bisa melihat orang tuanya tersenyum kepadanya dari foto tua yang compang-camping itu, tidak menyadari bahwa hidup mereka, seperti begitu banyak orang yang mengelilingi mereka, sedang menuju akhirnya. Citra Boggart yang berlagak seperti mayat dari tiap-tiap anggota keluarga Weasley secara bergantian terus berkelebat di depan matanya.
Tanpa peringatan, bekas luka di dahinya membakar dengan menyakitkan lagi dan perutnya terkocok dengan mengerikan.
"Hentikan," katanya dengan tegas, sambil menggosok bekas luka itu ketika rasa sakit mereda.
"Tanda kegilaan pertama, berbicara dengan kepalamu sendiri," kata sebuah suara licik dari lukisan kosong di dinding.
Harry mengabaikannya. Dia merasa lebih tua daripada yang pernah dirasakannya seumur hidup dan tampaknya luar biasa bagi dirinya bahwa belum satu jam yang lalu dia mengkhawatirkan tentang sebuah toko lelucon dan siapa yang mendapatkan lencana prefek.