Bab 9: Penderitaan Mrs Weasley
Kepergian Dumbledore yang mendadak benar-benar mengejutkan Harry. Dia terus duduk di kursi berantai itu, sambil bergumul dengan perasaan terguncang dan lega. Wizengamot semuanya sedang bangkit, sambil berbincang-bincang, mengumpulkan kertas-kertas mereka dan mengemasinya. Harry berdiri. Tak ada yang tampaknya memperhatikan dia sedikitpun, kecuali penyihir wanita mirip katak di sebelah kanan Fudge, yang sekarang sedang memandanginya bukannya memandangi Dumbledore. Sambil mengabaikan dia, Harry mencoba memandang mata Fudge, atau Madam Bones, ingin bertanya apakah dia boleh pergi, tapi Fudge tampaknya sangat berketetapan untuk tidak memperhatikan Harry, dan Madam Bones sibuk dengan kopernya, jadi dia mengambil beberapa langkah coba-coba menuju pintu keluar dan, ketika tak seorang pun memanggilnya kembali, berjalan dengan cepat.
Dia berlari pada beberapa langkah terakhirnya, merenggut pintu hingga terbuka dan hampir menubruk Mr Weasley, yang sedang berdiri tepat di luar, terlihat pucat dan gelisah.
"Dumbledore tidak bilang --"
"Dibebaskan," Harry berkata sambil menarik pintu menutup di belakangnya, "dari semua tuntutan."
Sambil tersenyum, Mr Weasley memegang bahu Harry.
"Harry, itu bagus sekali! Well, tentu saja, mereka tidak akan bisa menetapkanmu bersalah, tidak dengan bukti, tapi walau begitu, aku tidak bisa berpura-pura aku tidak --"
Tapi Mr Weasley berhenti, karena pintu ruang sidang baru saja terbuka lagi. Para Wizengamot sedang keluar.
"Jenggot Merlin!" seru Mr Weasley dengan terkejut, sambil menarik Harry ke samping untuk membiarkan mereka semua lewat. "Kau disidang oleh pengadilan lengkap?"
"Kukira begitu," kata Harry dengan pelan.
Satu atau dua penyihir mengangguk kepada Harry ketika mereka lewat dan beberapa, termasuk Madam Bones, berkata, "Pagi, Arthur," kepada Mr Weasley, tetapi kebanyakan menghindari pandangannya. Cornelius Fudge dan penyihir wanita mirip katak itu hampir yang terakhir meninggalkan ruang bawah tanah itu. Fudge bertingkah seolah-olah Mr Weasley dan Harry merupakan bagian dari dinding, tetapi lagi-lagi, penyihir wanita itu melihat Harry hampir seperti sedang menilainya ketika dia lewat. Yang terakhir lewat adalah Percy. Seperti Fudge, dia sepenuhnya mengabaikan ayahnya dan Harry; dia berderap lewat sambil mengepit sebuah gulungan perkamen besar dan segenggam pena bulu cadangan, punggungnya kaku dan hidungnya diangkat tinggi-tinggi. Garis-garis di sekitar mulut Mr Weasley menegang sedikit, tetapi selain ini dia tidak memberi tanda apa pun bahwa dia baru melihat anak ketiganya.
"Aku akan membawamu langsung pulang sehingga kau bisa memberitahu yang lain kabar baik ini," katanya sambil memberi isyarat kepada Harry untuk maju ketika tumit Percy menghilang ke anak tangga menuju Tingkat Sembilan. "Akan kuantar kau dalam perjalanan ke toilet di Bethnal Green. Ayolah ..."
"Jadi, apa yang harus Anda lakukan dengan toilet itu?" Harry bertanya sambil nyengir. Segalanya mendadak tampak lima kali lebih lucu daripada biasanya. Hal-hal mulai masuk: dia dibebaskan, dia akan kembali ke Hogwarts.
"Oh, cuma anti-kutukan yang sederhana," kata Mr Weasley selagi mereka menaiki tangga, "tapi bukan tentang memperbaiki kerusakan, melainkan lebih kepada sikap di belakang pengrusakan, Harry. Pengumpanan-Muggle mungkin dianggap lucu oleh beberapa penyihir, tetapi itu adalah ekspresi dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan mengerikan, dan aku sendiri --"
Mr Weasley tidak melanjutkan kalimatnya. Mereka baru saja mencapai koridor tingkat sembilan dan Cornelius Fudge sedang berdiri beberapa kaki dari mereka, berbicara dengan pelan kepada seorang pria jangkung yang berambut pirang licin dan memiliki wajah tajam yang pucat.
Pria itu berpaling ketika mendengar suara langkah kaki mereka. Dia juga tidak melanjutkan perkataannya, mata kelabunya yang dingin menyipit dan menatap wajah Harry lekat-lekat.
"Well, well, well ... Patronus Potter," kata Lucius Malfoy dengan dingin.
Harry merasa kehabisan napas, seakan-akan dia baru saja berjalan ke dalam sesuatu yang padat. Terakhir kali dia melihat mata kelabu yang dingin itu adalah melalui celah di kerudung Pelahap Maut, dan terakhir kali dia mendengar suara lelaki itu adalah ketika sedang mengejek di sebuah pekuburan gelap sementara Lord Voldemort menyiksanya. Harry tidak bisa percaya bahwa Lucius Malfoy berani menatapnya di wajah; dia tidak bisa percaya bahwa dia ada di sini, dalam Kementerian Sihir, atau bahwa Cornelius Fudge sedang berbicara kepadanya, padahal Harry telah memberitahu Fudge hanya beberapa minggu yang lalu bahwa Malfoy adalah seorang Pelahap Maut.
"Menteri baru saja memberitahuku mengenai kelolosanmu yang mujur, Potter," Mr Malfoy berkata dengan suara dipanjang-panjangkan. "Sangat mengejutkan, caramu terus berkelit keluar dari lubang-lubang yang amat sempit ... bahkan, mirip ular."
Mr Weasley mencengkeram bahu Harry untuk memperingatkannya.
"Yeah," kata Harry, "yeah, aku pandai meloloskan diri."
Lucius Malfoy menaikkan matanya ke wajah Mr Weasley.
"Dan Arthur Weasley juga! Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Arthur?"
"Aku bekerja di sini," kata Mr Weasley dengan masam.
"Bukan di sini, tentunya?" kata Mr Malfoy sambil menaikkan alisnya dan melihat sekilas ke pintu melalui bahu Mr Weasley. "Kukira Anda ada di lantai kedua ... bukankah Anda melakukan sesuatu yang melibatkan penyelundupan benda-benda Muggle ke rumah dan menyihirnya?"
"Tidak," sambar Mr Weasley, jari-jarinya sekarang mencengkeram kuat ke bahu Harry.
"Ngomong-ngomong, apa yang Anda lakukan di sini?" Harry bertanya kepada Lucius Malfoy.
"Kukira urusan pribadi antara diriku sendiri dengan Menteri bukan urusanmu, Potter," kata Malfoy sambil melicinkan bagian depan jubahnya. Harry mendengar dengan jelas dentingan lembut dari apa yang terdengar seperti sekantong penuh emas. "Benar saja, hanya karena kau anak kesayangan Dumbledore, kau tidak boleh mengharapkan perlakuan yang sama dari kami semua ... kalau begitu, kita naik ke kantor Anda, Menteri?"
"Tentu saja," kata Fudge sambil memalingkan badan dari Harry dan Mr Weasley. "Lewat sini, Lucius."
Mereka melangkah bersama sambil berbicara dengan suara rendah. Mr Weasley tidak melepaskan bahu Harry sampai mereka telah menghilang ke dalam lift.
"Mengapa dia tidak menunggu di luar kantor Fudge kalau mereka punya urusan untuk diselesaikan bersama?" Harry meledak marah. "Apa yang dia lakukan di bawah sini?"
"Mencoba menyelinap ke dalam ruang sidang, kalau kau tanya aku," kata Mr Weasley sambil terlihat sangat gelisah dan melihat melalui bahunya seolah-olah sedang memastikan mereka tidak dapat didengar. "Mencoba mengetahui apakah kau telah dikeluarkan atau tidak. Akan kutinggalkan catatan untuk Dumbledore ketika aku mengantarmu, dia harus tahu Malfoy sudah berbicara kepada Fudge lagi."
"Lagipula, urusan pribadi apa yang mereka miliki?"
"Emas, kukira," kata Mr Weasley dengan marah. "Malfoy telah memberikan emas dengan murah hati untuk segala jenis hal selama bertahun-tahun ... membuatnya dekat dengan orang-orang yang tepat ... lalu dia bisa minta bantuan ... menunda hukum-hukum yang dia tidak ingin dilewatkan ... oh, dia punya koneksi yang luas, Lucius Malfoy."
Lift tiba; kosong kecuali sekelompok memo yang berkepak di sekitar kepala Mr Weasley ketika dia menekan tombol Atrium dan pintu berdentang tertutup. Dengan kesal dia melambaikan memo-memo itu untuk pergi.
"Mr Weasley," kata Harry pelan-pelan, "kalau Fudge bertemu dengan para Pelahap Maut seperti Malfoy, kalau dia menemui mereka sendirian, bagaimana kita tahu bahwa mereka belum menempatkan Kutukan Imperius kepada dirinya?"
"Jangan kira itu belum terpikir oleh kami, Harry," kata Mr Weasley dengan pelan. "Tapi Dumbledore pikir Fudge bertindak atas keputusannya sendiri saat ini -- yang, menurut Dumbledore, bukanlah penghiburan. Hal terbaik adalah tidak membicarakannya lebih banyak lagi sekarang ini, Harry."
Pintu-pintu bergeser terbuka dan mereka melangkah ke luar ke Atrium yang sekarang hampir kosong. Eric si penyihir penjaga tersembunyi di balik Daily Prophet-nya lagi. Mereka telah berjalan tepat melewati air mancur keemasan itu sebelum Harry teringat.
"Tunggu ..." dia memberitahu Mr Weasley, dan, sambil menarik kantong uangnya dari kantongnya, dia berpaling ke air mancur.
Dia memandang ke atas ke wajah penyihir pria tampan itu, tetapi dari dekat Harry berpikir dia tampak agak lemah dan bodoh. Si penyihir wanita sedang tersenyum lebar seperti kontestan kecantikan, dan dari yang Harry tahu tentang goblin-goblin dan centaur, mereka paling tidak mungkin terlihat sedang menatap penuh pemujaan kepada manusia dalam bentuk apa pun. Hanya perilaku peri-rumah yang seperti budak terlihat meyakinkan. Dengan sengiran karena memikirkan apa yang akan dikatakan Hermione kalau dia bisa melihat patung peri itu, Harry membalikkan kantong uangnya dan mengosongkan bukan hanya sepuluh Galleon, tetapi keseluruhan isinya ke dalam kolam.
*
"Aku tahu itu!" teriak Ron, sambil meninju ke udara. "Kau selalu lolos dari semua hal!"
"Mereka harus membebaskanmu," kata Hermione, yang terlihat akan pingsan karena cemas ketika Harry memasuki dapur dan sekarang meletakkan tangan yang bergetar menutupi matanya, "tidak ada kasus melawanmu, tak ada sama sekali."
"Walaupun begitu, semua orang terlihat sangat lega, mengingat kalian semua tahu aku akan lolos," kata Harry sambil tersenyum.
Mrs Weasley sedang menyeka wajahnya dengan celemeknya, dan Fred, George dan Ginny melakukan semacam tarian perang sambil bernyanyi: "Dia lolos, dia lolos, dia lolos ..."
"Sudah cukup! Tenanglah!" teriak Mr Weasley, walaupun dia juga tersenyum. "Dengar, Sirius, Lucius Malfoy tadi ada di Kementerian --"
"Apa?" kata Sirius dengan tajam.
"Dia lolos, dia lolos, dia lolos ..."
"Diamlah, kalian bertiga! Ya, kami melihatnya berbicara dengan Fudge di Tingkat Sembilan, lalu mereka naik ke kantor Fudge bersama-sama. Dumbledore harus tahu."
"Tentu saja," kata Sirius. "Kita akan memberitahu dia, jangan khawatir."
"Well, sebaiknya aku pergi, ada toilet muntah yang menungguku di Bethnal Green. Molly, aku pulang terlambat, aku akan menggantikan Tonks, tapi Kingsley mungkin mampir untuk makan malam --"
"Dia lolos, dia lolos, dia lolos ..."
"Sudah cukup -- Fred -- George -- Ginny!" kata Mrs Weasley, ketika Mr Weasley meninggalkan dapur. "Harry, sayang, kemari dan duduklah, makan siang, kau hampir tidak makan malam."
Ron dan Hermione duduk di seberangnya, terlihat lebih gembira daripada sebelumnya sejak dia pertama tiba di Grimmauld Place, dan perasaan lega Harry, yang telah agak terusik oleh pertemuannya dengan Lucius Malfoy, membengkak lagi. Rumah yang suram itu kelihatan lebih hangat dan lebih menyambut secara mendadak; bahkan Kreacher tampak tidak begitu jelek ketika dia menampakkan hidungnya yang mirip moncong ke dapur untuk menyelidiki sumber semua keributan itu.
"Tentu saja, sekali Dumbledore muncul untuk membelamu, mereka tidak punya cara untuk menghukummu," kata Ron dengan gembira, yang sekarang sedang menghidangkan tumpukan kentang tumbuk ke piring-piring semua orang.
"Yeah, dia mengatasinya untukku," kata Harry. Dia merasa akan terdengar sangat tidak berterima kasih, belum lagi kekanak-kanakan, untuk berkata, "Walaupun kuharap dia berbicara kepadaku. Atau bahkan melihat kepadaku."
Dan selagi dia memikirkan hal ini, bekas luka di dahinya membara sangat parah sehingga dia menepukkan tangannya ke bekas luka itu.
"Ada apa?" kata Hermione, terlihat cemas.
"Bekas luka," Harry bergumam. "Tapi bukan apa-apa ... terjadi sepanjang waktu sekarang ..."
Tak seorang pun dari mereka memperhatikan apa-apa; semuanya sekarang sedang makan sementara mensyukuri kelolosan Harry; Fred, George dan Ginny masih sedang bernyanyi. Hermione terlihat agak cemas, tapi sebelum dia bisa berkata apa pun, Ron telah berkata dengan senang, "Aku bertaruh Dumbledore muncul malam ini, untuk merayakan dengan kita, kau tahu."
"Kukira dia tidak akan bisa, Ron," kata Mrs Weasley sambil menempatkan sepiring besar ayam panggang ke depan Harry. "Dia benar-benar sangat sibuk saat ini."
"DIA LOLOS, DIA LOLOS, DIA LOLOS ..."
"DIAM!" raung Mrs Weasley.
*
Selama beberapa hari berikutnya Harry tidak bisa tidak memperhatikan bahwa ada seseorang dalam Grimmauld Place nomor dua belas yang terlihat tidak sepenuhnya kegirangan bahwa dia akan kembali ke Hogwarts. Sirius telah menampilkan kebahagiaan saat pertama kali mendengarnya, meremas-remas tangan Harry dan tersenyum seperti yang lain. Akan tetapi, segera saja dia semakin murung dan merengut daripada sebelumnya, lebih sedikit berbicara kepada siapapun, bahkan Harry, dan menghabiskan lebih banyak waktu terkurung dalam kamar ibunya bersama Buckbeak.
"Kau jangan merasa bersalah!" kata Hermione dengan tegas, setelah Harry menceritakan sebagian perasaannya kepada dia dan Ron selagi mereka menggosok sebuah lemari berjamur di lantai ketiga beberapa hari kemudian. "Hogwarts adalah tempatmu berada dan Sirius tahu itu. Secara pribadi, kukira dia hanya bersikap egois."
"Itu agak keras, Hermione," kata Ron sambil merengut selagi dia mencoba melepaskan sedikit jamur yang telah melekat dengan kuat ke jarinya, "kau tidak akan mau terperangkap di dalam rumah ini tanpa teman apapun."
"Dia akan punya teman!" kata Hermione. "Ini adalah Markas Besar Order of Phoenix, bukan begitu? Dia hanya mengharap terlalu tinggi bahwa Harry akan datang tinggal di sini bersamanya."
"Kukira itu benar," kata Harry sambil meremas pakaiannya. "Dia tidak mau memberiku jawaban langsung ketika aku bertanya kepadanya apakah aku bisa."
"Dia hanya tidak ingin berharap terlalu tinggi," kata Hermione dengan bijaksana. "Dan dia sendiri mungkin merasa sedikit bersalah, karena kukira sebagian dari dirinya sebenarnya berharap kau akan dikeluarkan. Dengan begitu kalian berdua akan jadi orang buangan bersama-sama."
"Hentikan itu!" kata Harry and Ron bersamaan, tetapi Hermione hanya mengangkat bahu.
"Terserah kalian. Tapi terkadang kupikir ibu Ron benar dan Sirius jadi bingung apakah kau itu kau atau ayahmu, Harry."
"Jadi menurutmu dia agak kurang waras?" tanya Harry dengan panas.
"Tidak, aku hanya mengira dia telah sangat kesepian untuk waktu yang lama," kata Hermione.
Pada saat ini, Mrs Weasley memasuki kamar tidur.
"Masih belum selesai?" katanya sambil menjulurkan kepala ke dalam lemari.
"Kukira Ibu datang ke sini untuk menyuruh kami beristirahat!" kata Ron dengan getir. "Tahukah Ibu berapa banyak jamur yang telah kami enyahkan sejak kami tiba di sini?"
"Kau sangat ingin membantu Order," kata Mrs Weasley, "kau bisa melakukan bagianmu dengan membuat Markas Besar pantas ditinggali."
"Aku merasa seperti peri-rumah," gerutu Ron.
"Well, sekarang kau mengerti betapa mengerikannya hidup mereka, mungkin kau akan lebih aktif dalam SPEW!" kata Hermione penuh harapan, ketika Mrs Weasley meninggalkan mereka. "Kau tahu, mungkin bukan ide buruk memperlihatkan kepada orang-orang betapa mengerikannya bersih-bersih sepanjang waktu -- kita bisa melakukan penggosokan tersponsor di ruang duduk Gryffindor setiap waktu, semua keuntungan untuk SPEW, akan meningkatkan kesadaran beserta dana."
"Akan kusponsor kau untuk tutup mulut mengenai SPEW," Ron bergumam dengan kesal, tapi hanya supaya Harry bisa mendengarnya.
*
Harry menemukan dirinya semakin sering melamun mengenai Hogwarts selagi akhir liburan mendekat; dia tidak sabar untuk bertemu Hagrid lagi, untuk bermain Quidditch, bahkan untuk berjalan di petak-petak sayuran di rumah-rumah kaca Herbologi; pasti sangat menyenangkan bisa meninggalkan rumah berjamur dan berdebu ini, yang setengah dari lemari-lemarinya masih terkunci rapat dan Kreacher mengeluarkan hinaan-hinaan dari balik bayangan ketika kau lewat, walaupun Harry berhati-hati tidak mengatakan semua ini dalam jarak pendengaran Sirius.
Kenyataannya adalah tinggal dalam Markas Besar pergerakan anti-Voldemort tidak semenarik atau memberi semangat seperti yang diharapkan Harry sebelum dia merasakannya. Walaupun para anggota Order of Phoenix datang pergi secara teratur, kadang-kadang tinggal untuk makan, terkadang hanya selama beberapa menit untuk bercakap-cakap secara berbisik, Mrs Weasley memastikan bahwa Harry dan yang lain berada di luar jangkauan pendengaran (baik telinga normal maupun Yang-Dapat-Dipanjangkan) dan tak seorang pun, bahkan tidak juga Sirius, tampak merasa bahwa Harry perlu tahu apa-apa lebih dari yang telah didengarnya pada malam kedatangannya.
Pada hari terakhir dari liburan, Harry sedang menyapu kotoran Hedwig dari puncak lemari pakaian ketika Ron memasuki kamar tidur mereka sambil membawa dua buah amplop.
"Daftar buku sudah tiba," katanya sambil melemparkan salah satu amplop kepada Harry, yang sedang berdiri di atas sebuah kursi. "Sudah waktunya, kukira mereka sudah lupa, biasanya datang lebih cepat dari ini ..."
Harry menyapukan kotoran terakhir ke dalam kantong sampah dan melemparkan kantong itu melewati kepala Ron ke dalam keranjang sampah di sudut, yang menelannya dan bersendawa dengan keras. Dia lalu membuka suratnya. Isinya dua lembar perkamen: satu pengingat yang biasa bahwa semester dimulai pada satu September; yang lain memberitahunya buku-buku yang akan dibutuhkannya tahun ini.
"Hanya dua yang baru," katanya sambil membaca daftar itu, "Buku Mantera Standar, Tingkat 5, oleh Miranda Goshawk, dan Teori Sihir untuk Pertahanan, oleh Wilbert Slinkhard."
Crack.
Fred dan George ber-Apparate tepat di samping Harry. Dia sudah begitu terbiasa dengan perbuatan mereka ini sekarang sehingga dia bahkan tidak jatuh dari kursinya.
"Kami hanya bertanya-tanya siapa yang menggunakan buku Slinkhard," kata Fred memulai percakapan.
"Karena artinya Dumbledore sudah menemukan seorang guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru," kata George.
"Dan sudah waktunya juga," kata Fred.
"Apa maksudmu?" Harry bertanya sambil melompat turun ke sisi mereka.
"Well, kami mencuri dengar Mum dan Dad berbicara dengan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan beberapa minggu yang lalu," Fred memberitahu Harry, "dan dari apa yang mereka katakan, Dumbledore mengalami kesulitan besar untuk menemukan siapapun untuk pekerjaan itu tahun ini."
"Tidak mengejutkan, bukan, kalau kau lihat apa yang terjadi pada empat guru yang terakhir?" kata George.
"Satu dipecat, satu mati, satu ingatannya hilang dan satu terkunci dalam sebuah koper selama sembilan bulan," kata Harry sambil menghitung mereka dengan jari-jarinya. "Yeah, aku tahu maksudmu."
"Ada apa denganmu, Ron?" tanya Fred.
Ron tidak menjawab. Harry melihat berkeliling. Ron sedang berdiri tidak bergerak dengan mulut agak terbuka, menganga memandangi suratnya dari Hogwarts.
"Ada apa sih?" kata Fred dengan tidak sabar, sambil bergerak mengitari Ron untuk melihat perkamen itu melalui bahunya.
Mulut Fred juga jadi terbuka.
"Prefek?" katanya sambil menatap surat itu dengan tidak percaya. "Prefek?"
George melompat maju, menyambar amplop dari tangan Ron yang lain dan membalikkannya. Harry melihat sesuatu yang berwarna merah tua dan emas jatuh ke telapak tangan George.
"Tidak mungkin," kata George dengan suara kecil.
"Ada kesalahan," kata Fred sambil menyambar surat itu dari genggaman Ron dan memegangnya ke lampu seolah-olah mencari tanda air. "Tak seorang pun yang waras akan menjadikan Ron prefek."
Kepala si kembar berpaling serempak dan keduanya menatap Harry.
"Kami pikir sudah pasti kau!" kata Fred, dengan nada yang menuduh Harry telah menipu mereka dengan suatu cara.
"Kami pikir Dumbledore pasti memilihmu!" kata George tidak percaya.
"Memenangkan Triwizard dan segalanya!" kata Fred.
"Kukira semua hal gila itu dihitung melawannya," kata George kepada Fred.
"Yeah," kata Fred pelan-pelan. "Yeah, kau telah menyebabkan terlalu banyak masalah, sobat. Well, setidaknya salah satu dari kalian punya prioritas yang benar."
Dia berjalan ke arah Harry dan menepuk punggungnya sementara memberi Ron pandangan tajam.
"Prefek ... ickle Ronnie si Prefek."
"Ohh, Mum akan jadi memuakkan," erang George, sambil mendorong lencana prefek balik kepada Ron seolah-olah benda itu bisa mencemarkannya.
Ron, yang masih belum berkata sepatah kata pun, mengambil lencana itu, menatapnya sejenak, lalu mengulurkannya kepada Harry seakan-akan bertanya tanpa suara untuk meminta konfirmasi atas keasliannya. Harry mengambilnya. Sebuah huruf "P" besar dilapiskan ke atas singa Gryffindor. Dia telah melihat lencana yang persis seperti ini di dada Percy pada hari pertamanya di Hogwarts.
Pintu terbanting membuka. Hermione masuk ke dalam kamar dengan cepat, pipinya merona dan rambutnya beterbangan. Ada amplop di tangannya.
"Apakah kau -- apakah kau mendapat --?"
Dia melihat lencana di tangan Harry dan mengeluarkan pekikan.
"Aku tahu itu!" katanya dengan bersemangat, sambil mengacungkan suratnya. "Aku juga, Harry, aku juga!"
"Bukan," kata Harry dengan cepat, sambil mendorong lencana itu kembali ke tangan Ron. "Ron, bukan aku."
"Apa?"
"Ron yang jadi prefek, bukan aku," Harry berkata.
"Ron?" kata Hermione, rahangnya membuka. "Tapi ... apakah kau yakin? Maksudku ..."
Dia berubah menjadi merah sementara Ron melihat ke arahnya dengan ekspresi menantang di wajahnya.
"Namaku ada dalam surat," katanya.
"Aku ..." kata Hermione sambil terlihat benar-benar bingung. "Aku ... well ... wow! Bagus, Ron! Itu benar-benar --"
"Tidak terduga," kata George sambil mengangguk.
"Bukan," kata Hermione, lebih merona daripada sebelumnya, "bukan begitu ... Ron telah melakukan banyak ... dia benar-benar ..."
Pintu di belakangnya terbuka sedikit lebih lebar dan Mrs Weasley masuk ke dalam kamar sambil membawa setumpukan jubah yang baru dicuci.
"Ginny bilang daftar buku sudah tiba akhirnya," katanya, sambil melihat sekilas ke amplop-amplop itu ketika dia berjalan ke tempat tidur dan mulai menyortir jubah-jubah ke dalam dua tumpukan. "Kalau kalian memberikan daftar-daftar itu kepadaku aku akan membawanya ke Diagon Alley sore ini dan mengambilkan buku-buku kalian selagi kalian berkemas. Ron, aku harus membelikanmu piyama-piyama baru, yang ini setidaknya enam inci terlalu pendek, aku tidak percaya betapa cepatnya kau tumbuh ... warna apa yang kau suka?"
"Berikan dia yang berwarna merah dan emas agar serasi dengan lencananya," kata George sambil tersenyum menyeringai.
"Serasi dengan apanya?" kata Mrs Weasley dengan linglung sambil menggulung sepasang kaus kaki merah marun dan menempatkannya ke tumpukan Ron.
"Lencananya," kata Fred, dengan suasana ingin melewatkan hal terburuk secepatnya. "Lencana prefek barunya yang bagus dan berkilat."
Kata-kata Fred butuh waktu sejenak untuk dipahami Mrs Weasley yang sedang disibukkan oleh piyama.
"Tapi ... Ron, kau tidak ...?"
Ron mengacungkan lencananya.
Mrs Weasley mengeluarkan pekik seperti Hermione.
"Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Oh, Ron, betapa bagusnya! Seorang prefek! Jadinya semua orang dalam keluarga!"
"Apa Fred dan aku ini, tetangga sebelah rumah?" kata George dengan tidak senang, ketika ibunya mendorongnya ke samping dan menghempaskan lengannya melingkari putra bungsunya.
"Tunggu sampai ayah kalian dengar! Ron, aku sangat bangga padamu, betapa bagusnya berita ini, kau bisa berakhir jadi Ketua Murid seperti Bill dan Percy, ini langkah pertama! Oh, hal bagus yang terjadi di tengah semua kekuatiran ini, aku hanya senang sekali, oh, Ronnie --"
Fred dan George keduanya membuat suara muntah keras di balik punggung ibu mereka tetapi Mrs Weasley tidak memperhatikan; lengannya melingkari leher Ron dengan ketat, dia sedang menciumnya di seluruh wajah, yang telah berubah menjadi merah tua lebih terang daripada lencananya.
"Mum ... jangan ... Mum, kendalikan diri ..." gumamnya sambil mencoba mendorongnya menjauh.
Dia melepaskannya dan berkata dengan terengah-engah, "Well, apa jadinya? Kami memberi Percy seekor burung hantu, tapi kau sudah punya satu, tentu saja."
"A-apa maksud Ibu?" kata Ron, terlihat seolah-olah dia tidak berani mempercayai telinganya.
"Kau harus dapat hadiah untuk ini!" kata Mrs Weasley dengan sayang. "Bagaimana kalau satu set jubah pesta baru?"
"Kami sudah membelikannya beberapa buah," kata Fred dengan masam, yang terlihat seolah-olah dia menyesali kebaikan hati ini.
"Atau sebuah kuali baru, kuali tua Charlie sudah mulai berkarat, atau seekor tikus baru, kau selalu suka Scabbers --"
"Mum," kata Ron penuh harap, "bisakah aku punya sapu baru?"
Wajah Mrs Weasley agak berubah; sapu terbang harganya mahal.
"Bukan yang benar-benar bagus!" Ron cepat-cepat menambahkan. "Hanya -- hanya yang baru untuk peralihan ..."
Mrs Weasley bimbang, lalu tersenyum.
"Tentu kau bisa ... well, aku sebaiknya cepat pergi kalau aku juga harus beli sapu. Akan kutemui kalian semua nanti ... Ronnie kecil, seorang prefek! Dan jangan lupa kemasi koper-koper kalian ... seorang prefek ... oh, aku sangat sibuk!"
Dia memberi Ron ciuman di pipi lagi, mengambil napas dengan keras, dan buru-buru keluar dari kamar.
Fred dan George saling berpandangan.
"Kau tidak keberatan kalau kami tidak menciummu, 'kan, Ron?" kata Fred dengan suara cemas yang palsu.
"Kami bisa memberi hormat, kalau kau mau," kata George.
"Oh, diam," kata Ron, sambil cemberut kepada mereka.
"Atau apa?" kata Fred, seringai jahat membentang di wajahnya. "Akan memberi kami detensi?"
"Aku ingin melihatnya mencoba," cibir George.
"Dia bisa kalau kalian tidak hati-hati!" kata Hermione dengan marah.
Fred dan George meledak tertawa, dan Ron bergumam, "Sudahlah, Hermione."
"Kita harus menjaga langkah kita, George," kata Fred, berpura-pura gemetar, "dengan dua orang ini mengawasi kita ..."
"Yeah, tampaknya hari-hari melawan hukum kita sudah berakhir," kata George sambil menggelengkan kepalanya.
Dan dengan suara crack lagi, si kembar ber-Disapparate.
"Yang dua itu!" kata Hermione dengan marah, sambil menatap langit-langit, dari mana mereka bisa mendengar Fred dan George tertawa bergemuruh di kamar atas. "Jangan perhatikan mereka, Ron, mereka cuma iri!"
"Aku kira mereka tidak begitu," kata Ron dengan ragu, juga menatap langit-langit. "Mereka selalu bilang hanya orang brengsek yang jadi prefek ... tetap saja," dia menambahkan dengan nada lebih senang, "mereka belum pernah punya sapu baru! Kuharap aku bisa pergi dengan Mum dan memilih ... dia tidak akan pernah bisa membeli Nimbus, tapi ada Sapu Bersih baru yang keluar, itu akan bagus sekali ... yeah, kukira aku akan pergi memberitahunya aku suka Sapu Bersih, hanya agar dia tahu ..."
Dia berlari keluar kamar, meninggalkan Harry dan Hermione sendiri.
Untuk alasan-alasan tertentu, Harry menemukan dirinya tidak mau memandang Hermione. Dia berpaling ke tempat tidurnya, memungut tumpukan jubah bersih yang telah diletakkan Mrs Weasley ke atasnya dan menyeberangi kamar menuju kopernya.
"Harry?" kata Hermione untuk melihat reaksinya.
"Bagus, Hermione," kata Harry, dengan setengah hati sehingga sama sekali tidak terdengar seperti suaranya, dan, masih tidak memandangnya, "brilian. Prefek. Bagus."
"Trims," kata Hermione. "Erm -- Harry -- bolehkah aku pinjam Hedwig agar aku bisa memberitahu Mum dan Dad? Mereka akan sangat senang -- maksudku prefek adalah sesuatu yang bisa mereka mengerti."
"Yeah, tak masalah," kata Harry, masih dalam suara setengah hati yang mengerikan itu yang bukan suaranya. "Ambil dia!"
Dia membungkuk ke kopernya, meletakkan jubah-jubah itu ke dasarnya dan berpura-pura menggeledah sesuatu sementara Hermione menyeberang ke lemari pakaian dan memanggil Hedwig turun. Beberapa saat lewat; Harry mendengar pintu menutup tetapi tetap membungkuk, sambil mendengarkan; satu-satunya suara yang dapat didengarnya adalah lukisan kosong di dinding yang mencibir lagi dan keranjang sampah di sudut yang memuncratkan kotoran burung hantu.
Dia meluruskan badan dan melihat ke belakangnya. Hermione dan Hedwig telah pergi. Harry bergegas menyeberangi kamar, menutup pintu, lalu kembali pelan-pelan ke ranjangnya dan merosot ke atasnya, sambil menatap kosong kaki lemari pakaian.
Dia telah sepenuhnya lupa tentang pemilihan para prefek di tahun kelima. Dia terlalu cemas akan kemungkinan dikeluarkan sehingga tidak menyisakan pikiran tentang fakta bahwa lencana-lencana itu pasti sedang dalam perjalanan menuju orang-orang tertentu. Tapi kalau dia ingat ... kalau dia memikirkan tentang hal itu ... apa yang akan diharapkannya?
Bukan ini, kata sebuah suara kecil yang jujur di dalam kepalanya.
Harry mengernyitkan wajahnya dan menutupnya dengan tangan. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri; kalau dia tahu lencana prefek sedang dalam perjalanan, dia akan mengharapkannya datang kepada dirinya, bukan Ron. Apakah ini membuatnya searogan Draco Malfoy? Apakah dia mengira dirinya lebih hebat daripada orang lain? Apakah dia benar-benar percaya bahwa dia lebih baik daripada Ron?
Tidak, kata suara kecil itu dengan menantang.
Benarkah itu? Harry bertanya-tanya sambil menyelidiki perasaannya dengan cemas.
Aku lebih pandai dalam Quidditch, kata suara itu. Tapi aku tidak lebih baik dalam hal lain.
Itu sangat benar, Harry berpikir; dia tidak lebih baik daripada Ron dalam hal pelajaran. Tapi bagaimana dengan di luar pelajaran? Bagaimana dengan petualangan-petualangan yang dia, Ron dan Hermione alami bersama sejak masuk Hogwarts, seringkali mempertaruhkan hal yang jauh lebih buruk daripada pengeluaran dari sekolah?
Well, Ron dan Hermione ada bersamaku kebanyakan waktu, kata suara di kepala Harry.
Namun tidak sepanjang waktu, Harry membantah dirinya sendiri. Mereka tidak bertarung dengan Quirrell bersamaku. Mereka tidak melawan Riddle dan Basilisk. Mereka tidak mengenyahkan para Dementor itu di malam Sirius kabur. Mereka tidak ada di pekuburan itu bersamaku, di malam Voldemort kembali ...
Dan perasaan disalahgunakan yang dulu telah meliputi dirinya di malam dia tiba bangkit lagi. Aku jelas telah melakukan lebih banyak, pikir Harry marah. Aku telah melakukan lebih banyak daripada mereka!
Tapi mungkin, kata suara kecil itu dengan adil, mungkin Dumbledore tidak memilih prefek karena mereka melibatkan diri ke banyak situasi berbahaya ... mungkin dia memilih prefek karena alasan-alasan lain ... Ron pasti punya sesuatu yang tidak kau punya ...
Harry membuka matanya dan menatap melalui jari-jarinya ke kaki bercakar lemari pakaian, sambil mengingat apa yang telah dikatakan Fred: "Tak seorang pun yang waras akan menjadikan Ron seorang prefek ..."
Harry mengeluarkan dengusan tawa. Sedetik kemudian dia merasa muak dengan dirinya sendiri.
Ron tidak meminta Dumbledore memberinya lencana prefek. Ini bukan salah Ron. Apakah dia, Harry, sahabat terbaik Ron di seluruh dunia, akan merajuk karena dia tidak memiliki lencana, tertawa bersama si kembar di belakang Ron, mengacaukan ini bagi Ron ketika, untuk pertama kalinya, dia telah mengalahkan Harry dalam sesuatu?
Sampai sini Harry mendengar langkah-langkah kaki Ron di tangga lagi. Dia berdiri, meluruskan kacamatanya, dan menyeringai ketika Ron masuk lewat pintu.
"Baru saja mengejarnya!" dia berkata dengan gembira. "Dia bilang dia akan membelikan Sapu Bersih kalau dia bisa."
"Keren," Harry berkata, and dia lega mendengar suaranya telah tidak terdengar setengah hati lagi. "Dengar -- Ron -- selamat, sobat."
Senyum memudar dari wajah Ron.
"Aku tak pernah mengira aku yang akan terpilih!" katanya sambil menggelengkan kepalanya. "Kukira kau!"
"Tidak, aku sudah menyebabkan terlalu banyak masalah," kata Harry meniru Fred.
"Yeah," kata Ron, "yeah, kurasa ... well, kita sebaiknya mengepak koper-koper kita, bukan begitu?"
Tampaknya ganjil bagaimana barang-barang milik mereka seolah berceceran sendiri sejak mereka tiba. Mereka butuh hampir sesorean untuk mengambil kembali buku-buku dan barang-barang dari segala tempat di rumah dan memuatkannya kembali ke dalam koper sekolah mereka. Harry memperhatikan bahwa Ron terus memindahkan lencana prefeknya ke sekitar, pertama menempatkannya di meja samping tempat tidur, lalu meletakkannya ke dalam kantong celana jinsnya, lalu mengeluarkannya dan meletakkannya di atas jubahnya yang terlipat, seolah-olah ingin melihat pengaruh warna merah pada warna hitam. Hanya setelah Fred dan George mampir dan menawarkan untuk melekatkannya ke dahinya dengan Mantera Lekat Permanen barulah dia membungkusnya dengan hati-hati dalam kaus kaki merah marunnya dan menguncinya di dalam kopernya.
Mrs Weasley kembali dari Diagon Alley sekitar jam enam, diberati oleh buku-buku dan membawa sebuah paket panjang yang dibungkus dengan kertas coklat tebal yang diambil Ron dengan erangan rasa ingin.
"Tidak usah membuka bungkusnya sekarang, orang-orang akan tiba untuk makan malam, aku mau kalian semua turun," katanya, tapi saat dia menghilang dari pandangan Ron merobek kertas itu dengan gila-gilaan dan memeriksa setiap inci sapu barunya dengan ekspresi kegirangan di wajahnya.
Di ruang bawah tanah Mrs Weasley telah menggantungkan sebuah spanduk merah tua di atas meja yang penuh, yang bertuliskan:
SELAMAT
RON DAN HERMIONE
PREFEK - PREFEK BARU
Dia terlihat dalam keadaan jiwa yang lebih baik daripada yang pernah dilihat Harry selama liburan.
"Kukira kita akan mengadakan pesta kecil, bukan makan malam di meja," dia memberitahu Harry, Ron, Hermione, Fred, George dan Ginny ketika mereka memasuki ruangan. "Ayahmu dan Bill sedang dalam perjalanan, Ron. Aku sudah mengirim burung hantu kepada mereka berdua dan mereka sangat senang," dia menambahkan sambil tersenyum.
Fred menggulirkan matanya.
Sirius, Lupin, Tonks dan Kingsley Shacklebolt telah berada di sana dan Mad-Eye Moody melangkah masuk segera setelah Harry memperoleh Butterbeer untuk dirinya sendiri.
"Oh, Alastor, aku senang kamu ada di sini," kata Mrs Weasley dengan ceria, selagi Mad-Eye melepaskan mantel bepergiannya. "Kami sudah lama ingin menanyaimu -- bisakah kamu melihat ke meja tulis di ruang duduk dan memberitahu kami apa yang ada di dalamnya? Kami belum mau membukanya kalau-kalau isinya sesuatu yang mengerikan."
"Tidak masalah, Molly ..."
Mata biru elektrik Moody berputar ke atas dan menatap melalui langit-langit dapur.
"Ruang duduk ..." gerutunya, selagi pupil matanya mengerut. "Meja tulis di sudut? Yeah, aku melihatnya ... yeah, sebuah Boggart ... ingin aku naik dan melenyapkannya, Molly?"
"Tidak, tidak, akan kulakukan sendiri nanti," kata Mrs Weasley sambil tersenyum, "kamu minumlah. Sebenarnya kami sedang mengadakan perayaan kecil-kecilan ..." Dia memberi tanda ke spanduk merah tua itu. "Prefek keempat dalam keluarga!"