BAB 6: Rumah Black yang Mulia dan Paling Kuno (2/2)
Sirius memperagakan meledakkan permadani itu dengan sebuah tongkat dan tertawa masam. Akan tetapi, Harry tidak tertawa; dia terlalu sibuk menatap ke nama-nama di sebelah kanan tanda hangus Andromeda. Sebuah garis ganda bordir emas menghubungkan Narcissa Black dengan Lucius Malfoy dan sebuah garis tunggal vertikal dari nama-nama mereka menuntun ke nama Draco.
"Kau berkerabat dengan keluarga Malfoy!"
"Keluarga-keluarga berdarah-murni semuanya saling berhubungan," kata Sirius. "Kalau kau hanya akan membolehkan anak lelaki dan perempuanmu menikahi darah-murni pilihanmu sangat terbatas; hampir tidak ada lagi dari kami yang tersisa. Molly dan aku bersepupu karena pernikahan dan Arthur semacam sepupu dari sepupuku. Tapi tidak ada gunanya mencari mereka di sini -- kalau ada keluarga yang merupakan sekumpulan pengkhianat darah, itulah keluarga Weasley."
Tapi Harry sekarang sedang melihat ke nama-nama di sebelah kiri tanda hangus Andromeda: Bellatrix Black, yang dihubungkan dengan garis ganda ke Rodolphus Lestrange.
"Lestrange..." Harry berkata dengan keras. Nama itu telah menggerakkan sesuatu dalam ingatannya; dia tahu nama itu dari suatu tempat, tapi selama beberapa saat dia tidak bisa berpikir di mana, walaupun memberinya sensasi aneh yang menjalar di dasar perutnya.
"Mereka ada di Azkaban," kata Sirius singkat.
Harry menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Bellatrix dan suaminya Rodolphus masuk bersama Barty Crouch Junior," kata Sirius, dengan nada kasar yang sama. "Saudara lelaki Rodolphus, Rabastan ada bersama mereka juga."
Lalu Harry teringat. Dia telah melihat Bellatrix Lestrange di dalam Pensieve Dumbledore, alat aneh yang dapat menyimpan pikiran dan ingatan: seorang wanita jangkung berkulit gelap dengan mata berkelopak tebal, yang telah berdiri di persidangannya dan menyatakan kesetiaannya yang terus-menerus kepada Lord Voldemort, rasa bangganya karena dia terus berusaha menemukannya setelah kejatuhannya, dan keyakinannya bahwa suatu hari dia akan diberi ganjaran atas kesetiaannya.
"Kau tidak pernah bilang dia --"
"Apakah ada pengaruhnya kalau dia sepupuku?" sambar Sirius. "Sejauh menyangkut diriku, mereka bukan keluargaku. Dia jelas bukan keluargaku. Aku belum melihatnya sejak aku seumurmu, kecuali kau hitung sekilas waktu dia masuk Azkaban. Apa menurutmu aku bangga punya kerabat seperti dia?"
"Maaf," kata Harry dengan cepat, "aku tidak bermaksud -- aku hanya terkejut, itu saja --"
"Tidak mengapa, jangan minta maaf," Sirius bergumam. Dia berpaling dari permadani dinding itu, tangannya dijejalkan ke dalam kantongnya. "Aku tidak suka kembali ke sini," katanya sambil menatap ke seberang ruang duduk. "Aku tidak pernah mengira akan terperangkap di dalam rumah ini lagi."
Harry mengerti sepenuhnya. Dia tahu bagaimana dia akan merasa, ketika dia sudah dewasa dan berpikir dirinya bebas dari tempat itu untuk selamanya, harus kembali dan tinggal di Privet Drive nomor empat.
"Tentu saja ideal untuk Markas Besar," Sirius berkata. "Ayahku menempatkan semua alat pengamanan yang dikenal oleh kelompok penyihir sewaktu dia tinggal di sini. Tidak tampak di peta, jadi para Muggle tidak akan pernah datang dan berkunjung -- seakan-akan mereka mau -- dan sekarang Dumbledore sudah menambahkan perlindungannya, kau akan sulit mencari rumah yang lebih aman di tempat lain. Dumbledore adalah Penjaga Rahasia Order, kau tahu -- tak seorang pun bisa menemukan Markas Besar kecuali dia memberitahu mereka secara pribadi di mana letaknya -- catatan yang diperlihatkan Moody kepadamu tadi malam, itu dari Dumbledore..." Sirius tertawa pendek mirip gonggongan. "Kalau saja orang tuaku bisa melihat kegunaan rumah mereka sekarang... well, potret ibuku pasti sudah memberimu sejumlah ide..."
Dia merengut sebentar, lalu menghela napas.
"Aku tidak akan keberatan kalau aku bisa keluar kadang-kadang dan melakukan sesuatu yang berguna. Aku sudah bertanya kepada Dumbledore apakah aku bisa mengawalmu ke dengar pendapatmu -- sebagai Snuffles, tentu saja -- sehingga aku bisa memberimu sedikit dukungan moral, bagaimana menurutmu?"
Harry merasa seakan-akan perutnya telah tenggelam ke karpet berdebu. Dia belum memikirkan dengar pendapat itu sekalipun sejak makan malam kemarin; dalam semangatnya kembali bersama orang-orang yang paling disenanginya, dan mendengar semua yang sedang berlangsung, dengar pendapat itu telah benar-benar keluar dari kepalanya. Namun, mendengar kata-kata Sirius, rasa takut yang mencekam kembali timbul dalam dirinya. Dia menatap ke Hermione dan keluarga Weasley, semuanya sedang makan roti isi, dan berpikir bagaimana perasaannya kalau mereka kembali ke Hogwarts tanpa dirinya.
"Jangan khawatir," Sirius berkata. Harry melihat ke atas dan menyadari bahwa Sirius telah mengamati dirinya. "Aku yakin mereka akan melepaskanmu, pasti ada sesuatu dalam Undang-Undang Kerahasiaan Internasional mengenai izin menggunakan sihir untuk menyelamatkan hidupmu."
"Tapi kalau mereka mengeluarkanku," Harry berkata dengan pelan, "bolehkah aku kembali ke sini dan tinggal bersamamu?"
Sirius tersenyum sedih.
"Kita lihat nanti."
"Aku akan merasa jauh lebih baik mengenai dengar pendapat itu kalau aku tahu aku tidak perlu kembali ke keluarga Dursley," Harry menekannya.
"Mereka pastilah tidak menyenangkan kalau kau memilih tempat ini," kata Sirius dengan suram.
"Cepatlah, kalian berdua, atau tidak akan ada makanan yang tersisa," Mrs Weasley memanggil.
Sirius menghela napas sekali lagi, menatap permadani dinding itu dengan pandangan tidak suka, lalu dia dan Harry pergi bergabung dengan yang lain.
Harry mencoba sebaik mungkin tidak memikirkan dengar pendapat ketika mereka mengosongkan lemari-lemari berpintu kaca sore itu. Untung saja, itu merupakan pekerjaan yang membutuhkan banyak konsentrasi, banyak dari benda-benda yang ada di dalam sana yang terlihat enggan meninggalkan rak-rak berdebu mereka. Sirius mengalami luka gigitan parah dari sebuah kotak tembakau perak; dalam beberapa detik tangannya yang tergigit telah tumbuh kulit tebal yang tidak menyenangkan seperti memakai sarung tangan keras warna cokelat.
"Tidak apa-apa," katanya sambil memeriksa tangannya dengan penuh minat sebelum mengetuknya dengan ringan dengan tongkatnya dan mengembalikan kulitnya ke keadaan normal, "pastilah di dalam itu bubuk Wartcap."
Dia melemparkan kotak itu ke samping ke dalam kantong tempat mengumpulkan puing-puing dari lemari-lemari itu; Harry melihat George membelit tangannya dengan kain secara hati-hati beberapa saat kemudian dan menyelinapkan kotak itu ke dalam kantongnya yang telah dipenuhi dengan Doxy.
Mereka menemukan sebuah instrumen perak yang tampak tidak menyenangkan, sesuatu yang mirip pasangan penjepit berkaki banyak, yang berlari menaiki lengan Harry seperti laba-laba ketika dia memungutnya, dan mencoba menusuk kulitnya. Sirius menyambarnya dan menghancurkannya dengan sebuah buku tebal yang berjudul Kemuliaan Alam: Sebuah Silsilah Penyihir. Ada sebuah kotak musik yang mengeluarkan nada berdenting agak seram ketika diputar, dan mereka semua merasa menjadi lemah dan mengantuk, sampai Ginny sadar dan membanting tutupnya; sebuah liontin berat yang tidak bisa mereka buka; sejumlah cap kuno; dan dalam kotak berdebu, sebuah Order of Merlin, Kelas Pertama, yang telah diserahkan kepada kakek Sirius untuk "jasa-jasa bagi Kementerian".
"Maksudnya dia memberi mereka banyak emas," kata Sirius dengan menghina sambil melemparkan medali itu ke dalam kantong sampah.
Beberapa kali Kreacher memasuki ruangan dan mencoba menyelundupkan barang-barang di bawah cawatnya, sambil menggumamkan kutukan-kutukan mengerikan setiap kali mereka menangkap basahnya. Ketika Sirius merebut sebuah cincin keemasan besar yang memiliki lambang keluarga Black dari pegangannya, Kreacher bahkan menangis marah dan meninggalkan ruangan tersedu-sedu dan memanggil Sirius dengan nama-nama yang belum pernah didengar Harry.
"Itu milik ayahku," kata Sirius sambil melempar cincin itu ke dalam kantong. "Kreacher tidak begitu setia kepadanya seperti kepada ibuku, tapi aku masih saja menangkapnya sedang mencuri sepotong celana tua ayahku minggu lalu."
*
Mrs Weasley menyibukkan mereka semua selama beberapa hari berikutnya. Ruang duduk perlu tiga hari untuk disucihamakan. Akhirnya, satu-satunya benda tidak diinginkan yang tertinggal di dalamnya adalah permadani dinding, yang bertahan dari semua usaha mereka untuk melepaskannya dari dinding, dan meja tulis yang berderak itu. Moody belum mampir ke Markas Besar, jadi mereka tidak bisa yakin apa yang ada di dalam.
Mereka pindah dari ruang duduk ke sebuah ruang makan di lantai dasar di mana mereka menemukan laba-laba sebesar tatakan cangkir yang bersembunyi di dalam lemari (Ron meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa untuk membuat secangkir teh dan tidak kembali selama satu setengah jam). Barang-barang pecah belahnya, yang memiliki lambang keluarga dan motto Black, semuanya dibuang ke dalam kantong oleh Sirius, dan nasib yang sama menimpa serangkaian foto-foto tua dalam bingkai-bingkai perak ternoda, yang semua penghuninya mendengking dengan nyaring ketika kaca-kaca yang menutupi mereka pecah.
Snape mungkin menyebut pekerjaan mereka "membersihkan", tapi menurut pendapat Harry mereka sebenarnya sedang berperang melawan rumah itu, yang memberikan perlawanan yang cukup hebat, dibantu dan disekutui oleh Kreacher. Peri-rumah itu terus berada di manapun mereka berkelompok, gerutuannya menjadi semakin menghina selagi dia berusaha memindahkan apa pun yang bisa dilakukannya dari tempat sampah. Sirius bahkan sampai mengancamnya dengan pakaian, tapi Kreacher memberinya tatapan berair dan berkata, "Tuan harus melakukan yang Tuan inginkan," sebelum berpaling dan menggerutu dengan sangat keras, "tapi Tuan tidak akan mengenyahkan Kreacher, tidak, karena Kreacher tahu apa yang sedang mereka rencanakan, oh ya, dia sedang membuat rencana melawan Pangeran Kegelapan, ya, dengan para Darah-lumpur ini dan pengkhianat dan sampah..."
Mendengar itu Sirius, sambil mengabaikan protes Hermione, menyambar Kreacher di bagian belakang cawatnya dan melemparkannya keluar dari ruangan itu.
Bel pintu berbunyi beberapa kali dalam sehari, yang merupakan petunjuk bagi ibu Sirius untuk mulai memekik lagi, dan bagi Harry dan yang lain untuk mencoba mencuri dengar para pengunjung, walaupun mereka mengumpulkan sangat sedikit keterangan dari kilasan dan potongan singkat percakapan yang bisa mereka kuping sebelum Mrs Weasley menyuruh mereka kembali ke tugas mereka. Snape keluar-masuk rumah itu beberapa kali lagi, walaupun yang membuat Harry lega mereka belum pernah bertatap muka; Harry juga melihat guru Transfigurasinya Professor McGonagall, terlihat sangat aneh dalam baju dan mantel Muggle, dan dia juga terlihat terlalu sibuk untuk berlama-lama. Akan tetapi, kadang-kadang para pengunjung tinggal untuk membantu. Tonks bergabung dengan mereka dalam sebuah sore yang penuh kenangan di mana mereka menemukan hantu tua pembunuh yang bersembunyi di toilet atas, dan Lupin, yang tinggal di rumah itu bersama Sirius tapi meninggalkannya untuk waktu yang lama untuk melakukan pekerjaan misterius bagi Order, membantu mereka memperbaiki sebuah jam berdiri yang memiliki kebiasaan tidak menyenangkan yaitu menembakkan baut-baut berat ke orang-orang yang melewatinya. Mundungus menebus dirinya sedikit dalam mata Mrs Weasley dengan menyelamatkan Ron dari satu stel jubah ungu kuno yang mencoba mencekiknya ketika dia memindahkannya dari lemari.
Walaupun dia masih susah tidur, masih bermimpi mengenai koridor-koridor dan pintu-pintu terkunci yang membuat bekas lukanya perih, Harry berhasil bersenang-senang untuk pertama kalinya sepanjang musim panas itu. Selama dia sibuk dia gembira; namun ketika aksinya mereda, kapanpun dia kurang waspada, atau berbaring kelelahan di tempat tidur sambil mengamati bayangan-bayangan kabur yang bergerak di langit-langit, pikiran mengenai dengar pendapat Kementerian yang membayang kembali kepada dirinya. Rasa takut menerkam bagian dalam tubuhnya seperti jarum ketika dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi kepada dirinya kalau dia dikeluarkan. Gagasan itu begitu mengerikan sehingga dia tidak berani mengucapkannya keras-keras, bahkan tidak kepada Ron dan Hermione, yang, walaupun dia sering melihat mereka berbisik satu sama lain dan memandang ke arahnya dengan cemas, mengikuti petunjuk dengan tidak menyebut hal itu. Kadang-kadang, dia tidak bisa menghalangi imajinasinya memperlihatkan kepada dirinya seorang pejabat Kementerian yang tidak berwajah yang sedang mematahkan tongkatnya menjadi dua dan memerintahkannya kembali ke keluarga Dursley... tapi dia tidak mau pergi. Dia sudah menetapkan hati dalam hal itu. Dia akan kembali ke sini ke Grimmauld Place dan tinggal bersama Sirius.
Dia merasa seolah-olah sebuah batu bata telah jatuh ke dalam perutnya ketika Mrs Weasley berpaling kepadanya sewaktu makan malam pada Rabu malam dan berkata dengan pelan, "Aku telah menyetrika baju terbaikmu untuk besok pagi, Harry, dan aku juga mau kau mencuci rambut malam ini. Kesan pertama yang baik bisa membuat keajaiban."
Ron, Hermione, Fred, George dan Ginny semuanya berhenti berbicara dan melihat kepadanya. Harry mengangguk dan mencoba tetap makan, tapi mulutnya telah menjadi begitu kering sehingga dia tidak bisa mengunyah.
"Bagaimana aku akan pergi ke sana?" dia bertanya kepada Mrs Weasley, sambil mencoba terdengar tidak khawatir.
"Arthur akan membawamu ke tempat kerja bersamanya," kata Mrs Weasley dengan lembut.
Mr Weasley tersenyum menguatkan kepada Harry dari seberang meja.
"Kau bisa menunggu di kantorku sampai waktunya untuk dengar pendapat," katanya.
Harry memandang Sirius, tetapi sebelum dia bisa bertanya, Mrs Weasley telah menjawabnya.
"Professor Dumbledore mengira bukan ide yang bagus bagi Sirius untuk pergi bersamamu, dan harus kubilang aku --"
"-- mengira dia benar," kata Sirius melalui gigi-gigi yang dikatupkan.
Mrs Weasley mengerutkan bibirnya.
"Kapan Dumbledore memberitahumu hal itu?" Harry berkata, sambil menatap Sirius.
"Dia datang tadi malam, ketika kau masih tidur," kata Mrs Weasley.
Sirius menusuk kentangnya dengan murung. Harry menurunkan pandangannya ke piringnya sendiri. Pikiran bahwa Dumbledore telah berada dalam rumah ini pada malam sebelum dengar pendapatnya dan tidak meminta untuk bertemu dengannya membuat dia merasa, kalau mungkin, bahkan lebih buruk lagi.
HARRY POTTER and the Order of the Phoenix