BAB 6: Rumah Black yang Mulia dan Paling Kuno (1/2)
Mrs Weasley mengikuti mereka ke atas sambil terlihat muram.
"Aku mau kalian semua langsung tidur, tak ada bincang-bincang," dia berkata ketika mereka mencapai puncak tangga yang pertama, "kita punya hari yang sibuk besok. Kurasa Ginny sedang tertidur," dia menambahkan kepada Hermione, "jadi cobalah tidak membangunkannya."
"Tertidur, yeah, benar," kata Fred dengan nada rendah, setelah Hermione memberi mereka selamat malam dan mereka sedang naik ke lantai berikutnya. "Kalau Ginny tidak sedang terbaring bangun sambil menunggu Hermione menceritakan kepadanya semua yang mereka katakan di bawah maka aku seekor Flobberworm ..."
"Baiklah, Ron, Harry," kata Mrs Weasley di puncak tangga kedua, sambil menunjukkan mereka ke kamar tidur mereka. "Tidurlah kalian berdua."
"Malam," Harry dan Ron berkata kepada si kembar.
"Tidur yang nyenyak," kata Fred sambil mengedip.
Mrs Weasley menutup pintu di belakang Harry dengan bunyi keras. Kamar itu terlihat, kalaupun bisa, bahkan lebih lembap dan lebih suram daripada pandangan pertama tadi. Lukisan kosong di dinding sekarang sedang bernapas pelan-pelan dan dalam-dalam, seakan-akan penghuninya yang tidak tampak sedang tertidur. Harry memakai piyamanya, melepaskan kacamatanya dan memanjat ke atas tempat tidurnya yang dingin sementara Ron melemparkan Owl Treat ke puncak lemari pakaian untuk menenangkan Hedwig dan Pigwidgeon, yang sedang bergerak ke sana ke mari dengan berisik dan mengibas-ngibaskan sayap mereka dengan gelisah.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka keluar berburu setiap malam," Ron menjelaskan selagi dia memakai piyama merah marunnya. "Dumbledore tidak ingin terlalu banyak burung hantu berkeliaran di sekitar alun-alun ini, dipikirnya itu akan terlihat mencurigakan. Oh yeah ... aku lupa ..."
Dia menyeberangi ruangan dan menguncinya.
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Kreacher," kata Ron sambil memadamkan lampu. "Malam pertama aku di sini dia datang keluyuran ke sini pukul tiga pagi. Percayalah, kau takkan mau terbangun dan menemukannya berkeliaran di dalam kamarmu. Lagipula ..." dia naik ke tempat tidurnya, masuk ke bawah selimutnya dan berpaling kepada Harry dalam kegelapan; Harry bisa melihat garis tubuhnya dalam cahaya bulan yang merembes masuk dari jendela yang kusam, "bagaimana menurutmu?"
Harry tidak perlu bertanya apa yang dimaksud Ron.
"Well, mereka tidak memberitahu kita banyak yang belum kita tebak, bukan begitu?" dia berkata sambil memikirkan semua yang telah diperbincangkan di bawah. "Maksudku, semua yang mereka katakan hanyalah bahwa Order sedang mencoba menghentikan orang-orang bergabung dengan Vol--"
Ada suara napas tajam dari Ron.
"--demort," kata Harry dengan tegas. "Kapan kau akan mulai menggunakan namanya? Sirius dan Lupin begitu."
Ron mengabaikan komentar terakhir itu.
"Yeah, kau benar," katanya, "kita sudah tahu hampir semua yang mereka beritahukan kepada kita, dari penggunaan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan. Satu-satunya yang baru adalah --"
Crack.
"ADUH!"
"Rendahkan suaramu, Ron, atau Mum akan kembali ke sini."
"Kalian berdua baru saja ber-Apparate ke atas lututku!"
"Yeah, well, lebih sulit melakukannya dalam gelap."
Harry melihat garis samar Fred dan George melompat turun dari tempat tidur Ron. Ada deritan per tempat tidur dan kasur Harry turun beberapa inci ketika George duduk dekat kakinya.
"Jadi, sudah sampai di sana?" kata George dengan bersemangat.
"Senjata yang disebut Sirius?" kata Harry.
"Lebih tepatnya, tercetus," kata Fred dengan seenak hatinya, sekarang dia duduk di sebelah Ron. "Kami tidak mendengar mengenai itu pada Telinga, benar 'kan?"
"Menurut kalian apa itu?" kata Harry.
"Bisa apa pun," kata Fred.
"Tapi tidak ada yang lebih buruk daripada Kutukan Avada Kedavra, benar 'kan?" kata Ron. "Apa yang lebih buruk dari kematian?"
"Mungkin sesuatu yang dapat membunuh banyak orang seketika," usul George.
"Mungkin suatu cara membunuh orang yang benar-benar menyakitkan," kata Ron dengan takut.
"Dia punya Kutukan Cruciatus untuk menimbulkan rasa sakit," kata Harry, "dia tidak butuh apa pun yang lebih efisien daripada itu."
Ada keheningan sejenak dan Harry tahu bahwa yang lainnya, seperti dirinya, sedang mengira-ngira kengerian apa yang dapat disebabkan oleh senjata ini.
"Jadi, menurutmu siapa yang memilikinya sekarang?" tanya George.
"Kuharap dari sisi kita," kata Ron, terdengar sedikit gugup.
"Kalau benar, Dumbledore mungkin sedang menyimpannya," kata Fred.
"Di mana?" kata Ron dengan cepat. "Hogwarts?"
"Pasti di sana!" kata George. "Di sanalah dia menyembunyikan Batu Bertuah."
"Akan tetapi, sebuah senjata akan jauh lebih besar daripada Batu itu!" kata Ron.
"Belum tentu!" kata Fred.
"Yeah, ukuran bukan jaminan kekuatan," kata George. "Lihat saja Ginny."
"Apa maksudmu?" kata Harry.
"Kau belum pernah menerima salah satu Guna-Guna Hantu Kelelawarnya, 'kan?"
"Shhh!" kata Fred, setengah bangkit dari tempat tidur. "Dengar!"
Mereka terdiam. Langkah-langkah kaki datang menaiki tangga.
"Mum," kata George dan tanpa penundaan lagi ada suara crack keras dan Harry merasakan berat menghilang dari ujung tempat tidurnya. Beberapa detik kemudian, mereka mendengar papan lantai menderit di luar pintu mereka; Mrs Weasley jelas sedang mendengarkan untuk memeriksa apakah mereka sedang berbicara.
Hedwig dan Pigwidgeon beruhu dengan muram. Papan lantai berderit lagi dan mereka mendengarnya menuju lantai atas untuk mengecek Fred dan George.
"Dia tidak mempercayai kami semua, kau tahu," kata Ron dengan menyesal.
Harry yakin dia tidak akan bisa tertidur; malam itu begitu penuh hal-hal untuk dipikirkan sehingga dia sepenuhnya berharap akan terbaring bangun selama beberapa jam sambil memikirkan semuanya. Dia ingin terus berbincang dengan Ron, tapi Mrs Weasley sekarang sedang berderit ke bawah lagi, dan segera setelah dia pergi Harry mendengar dengan jelas yang lainnya sedang menuju ke atas ... bahkan, makhluk berkaki banyak sedang berlari dengan lembut ke atas dan ke bawah di luar pintu kamar tidur, dan Hagrid si guru Pemeliharaan Satwa Gaib sedang berkata, "Mereka indah, bukankah begitu, eh, Harry? Kita akan mempelajari senjata-senjata pada semester ini ..." dan Harry melihat bahwa makhluk-makhluk itu berkepala meriam dan sedang berputar untuk menghadapnya ... dia menunduk ...
Hal berikutnya yang dia tahu, dia tergulung menjadi bola hangat di bawah pakaian tidurnya dan suara keras George mengisi kamar itu.
"Mum bilang bangun, sarapan kalian ada di dapur dan kemudian dia perlu kalian di ruang duduk, ada lebih banyak Doxy daripada yang dikiranya dan dia menemukan sarang Puffskein mati di bawah sofa."
Setengah jam kemudian Harry dan Ron, yang telah berpakaian dan makan pagi dengan cepat, memasuki ruang duduk, sebuah ruangan panjang berlangit-langit tinggi di lantai pertama dengan dinding-dinding hijau zaitun yang ditutupi permadani-permadani dinding yang kotor. Karpet mengeluarkan awan debu kecil setiap kali seseorang menaruh kaki di atasnya dan tirai-tirai beludru panjang berwarna hijau lumut berdengung seakan-akan dipenuhi lebah-lebah yang tidak tampak. Di sekitar tirai-tirai inilah Mrs Weasley, Hermione, Ginny, Fred dan George berkumpul, semuanya tampak aneh karena memakai sepotong kain yang diikatkan menutupi hidung dan mulut mereka. Masing-masing sedang memegang sebuah botol besar dengan mulut pipa di ujungnya yang berisi cairan hitam.
"Tutupi wajah kalian dan ambil penyemprot," Mrs Weasley berkata kepada Harry dan Ron saat dia melihat mereka, sambil menunjuk kepada dua lagi botol cairan hitam yang terletak di sebuah meja berkaki kurus panjang. "Itu Doxycide. Aku belum pernah melihat hama separah ini --apa yang telah dilakukan peri-rumah itu selama sepuluh tahun belakangan ini --"
Wajah Hermione setengah tertutupi oleh sebuah tudung teh tetapi Harry dengan jelas melihatnya memberi Mrs Weasley pandangan mencela.
"Kreacher sangat tua, dia mungkin tidak bisa --"
"Kau akan terkejut apa yang bisa dilakukan Kreacher kalau dia mau, Hermione," kata Sirius, yang baru saja memasuki ruangan itu sambil membawa sebuah kantong bernoda darah yang tampaknya berisi tikus-tikus mati. "Aku baru saja memberi makan Buckbeak," dia menambahkan, sebagai jawaban atas pandangan bertanya Harry. "Aku memeliharanya di atas di kamar tidur ibuku. Bagaimanapun ... meja tulis ini ..."
Dia menjatuhkan kantong berisi tikus itu ke sebuah kursi berlengan, lalu membungkuk untuk memeriksa lemari terkunci yang, Harry sekarang memperhatikan untuk pertama kalinya, sedang bergetar sedikit.
"Well, Molly, aku cukup yakin ini Boggart," kata Sirius, sambil mengintip lewat lubang kunci, "tapi mungkin kita harus membiarkan Mad-Eye memeriksanya sejenak sebelum kita mengeluarkannya --kalau kenal ibuku, bisa saja sesuatu yang jauh lebih buruk."
"Benar katamu, Sirius," kata Mrs Weasley.
Mereka berdua berbicara dengan suara sopan dan ringan yang memberitahu Harry dengan jelas bahwa keduanya belum melupakan perseteruan malam sebelumnya.
Sebuah suara deringan yang keras datang dari bawah, diikuti segera oleh hiruk pikuk jeritan dan raungan yang dipicu malam sebelumnya oleh Tonks yang menjatuhkan tempat payung.
"Aku terus memberitahu mereka jangan membunyikan bel pintu!" kata Sirius dengan putus asa, sambil bergegas keluar ruangan. Mereka mendengarnya berderap menuruni tangga selagi pekikan Mrs Black menggema ke seluruh rumah sekali lagi:
"Noda-noda aib, keturunan campuran yang kotor, pengkhianat darah, anak-anak sampah ..."
"Tolong tutup pintunya, Harry," kata Mrs Weasley.
Harry mengambil waktu selama yang dia bisa untuk menutup pintu ruang duduk itu; dia ingin mendengar apa yang sedang berlangsung di bawah. Sirius jelas telah berhasil menutup tirai menutupi potret ibunya karena dia telah berhenti menjerit. Dia mendengar Sirius berjalan sepanjang aula, lalu gemerincing rantai di pintu depan, dan kemudian sebuah suara dalam yang dia kenali sebagai Kingsley Shacklebolt yang sedang berkata, "Hestia baru saja menggantikanku, jadi dia pegang Jubah Moody sekarang, kukira aku akan meninggalkan laporan untuk Dumbledore ..."
Merasakan mata Mrs Weasley di belakang kepalanya, Harry menutup pintu ruang duduk dengan perasaan menyesal dan bergabung kembali ke pesta Doxy.
Mrs Weasley sedang membungkuk untuk memeriksa halaman mengenai Doxy dalam Penuntun Hama Rumah Tangga Gilderoy Lockhart, yang tergeletak terbuka di sofa.
"Benar, kalian semua, kalian harus berhati-hati, karena Doxy menggigit dan gigi-gigi mereka beracun. Aku punya sebotol penawar di sini, tapi aku lebih suka kalau tidak ada yang membutuhkannya."
Dia bangkit, menempatkan dirinya di depan gorden dan memberi isyarat kepada mereka untuk maju.
"Sewaktu kusuruh, segera mulai menyemprot," katanya. "Mereka akan terbang mendatangi kita, kukira, tapi di penyemprot ini dikatakan satu percikan yang jitu akan melumpuhkan mereka. Ketika mereka lumpuh, lemparkan saja ke dalam ember ini."
Dia melangkah dengan hati-hati keluar dari garis penembakan mereka, dan mengangkat alat penyemprotnya sendiri.
"Baiklah -- semprot!"
Harry baru saja menyemprot selama beberapa detik ketika seekor Doxy dewasa datang membumbung keluar dari lipatan bahan, sayapnya yang berkilat seperti kumbang berdesing, gigi-gigi kecil yang setajam jarum tampak jelas, tubuhnya yang seperti peri ditutupi oleh rambut hitam tebal dan keempat tinjunya yang kecil mengepal karena marah. Harry mengenainya di bagian muka dengan Doxycide. Dia membeku di udara dan terjatuh, dengan suara thunk yang keras, ke karpet usang di bawah. Harry memungutnya dan melemparkannya ke dalam ember.
"Fred, apa yang kau lakukan?" kata Mrs Weasley dengan tajam. "Semprot seketika dan buang itu!"
Harry memandang ke sekitar. Fred sedang memegang seekor Doxy yang melawan di antara jari telunjuk dan jempolnya.
"Baiklah," Fred berkata dengan cerah, sambil menyemprot Doxy itu dengan cepat di bagian muka sehingga dia pingsan, tetapi begitu punggung Mrs Weasley dibalikkan dia mengantonginya dengan sebuah kedipan.
"Kami ingin bereksperimen dengan bisa Doxy untuk Kotak Makanan Pembolos kami," George memberitahu Harry dengan suara rendah.
Sambil menyemprot dua Doxy dengan sekali semprot ketika mereka membumbung langsung ke hidungnya, Harry bergerak lebih dekat ke George dan bergumam dari sudut mulutnya, "Apa itu Kotak Makanan Pembolos?"
"Pilihan permen untuk membuatmu sakit," George berbisik, sambil memandang punggung Mrs Weasley dengan waspada. "Bukan benar-benar sakit, tahu, hanya cukup sakit untuk keluar dari kelas kalau kau mau. Fred dan aku telah mengembangkannya sepanjang musim panas ini. Permen-permen itu berujung ganda, diberi kode warna dan bisa dikunyah. Kalau kau makan bagian yang jingga dari Pastilles Muntah, kau akan muntah. Saat kau telah didorong keluar dari pelajaran ke sayap rumah sakit, kau telan bagian yang ungu --"
"--yang memulihkan kesehatanmu, memungkinkanmu mengejar kegiatan luang pilihanmu sendiri selama satu jam yang seharusnya terbuang untuk kebosanan yang tidak menguntungkan. Itu yang kami taruh di iklannya," bisik Fred, yang telah menepi dari pandangan Mrs Weasley dan sekarang sedang menyapu beberapa Doxy dari lantai dan menambahkan mereka ke dalam kantongnya. "Tapi mereka masih perlu sedikit kerja. Saat ini para penguji kami masih mengalami kesulitan menghentikan diri mereka muntah cukup lama untuk menelan ujung ungu."
"Para penguji?"
"Kami sendiri," kata Fred. "Kami memakainya bergantian. George makan Manisan Pingsan -- kami berdua mencoba Gula-Gula Mimisan --"
"Mum mengira kami habis berduel," kata George.
"Kalau begitu, toko leluconnya masih jalan?" Harry bergumam, sambil berpura-pura menyesuaikan ujung penyemprot pada semprotannya.
"Well, kami masih belum berkesempatan untuk mendapatkan tempat usaha," kata Fred, sambil menurunkan suaranya lebih rendah lagi ketika Mrs Weasley menyeka alis dengan scarfnya sebelum melanjutkan penyerangan, "jadi saat ini kami menjalankannya sebagai usaha pesanan lewat pos. Kami menaruh iklan di Daily Prophet minggu lalu."
"Semuanya berkat kau, sobat," kata George. "Tapi jangan kuatir ... Mum tidak tahu sedikitpun. Dia tidak membaca Daily Prophet lagi, kar'na menceritakan berita-berita bohong mengenaimu dan Dumbledore."
Harry nyengir. Dia telah memaksa si kembar Weasley mengambil hadiah uang seribu Galleon yang telah dimenangkannya dalam Turnamen Triwizard untuk membantu mereka mewujudkan ambisi mereka untuk membuka sebuah toko lelucon, tetapi dia masih senang mengetahui bahwa bagiannya dalam memajukan rencana mereka belum diketahui oleh Mrs Weasley. Dia tidak berpikir menjalankan sebuah toko lelucon merupakan karir yang pantas bagi dua anaknya.
Penghilangan Doxy dari tirai-tirai berlangsung sepanjang pagi itu. Sudah lewat tengah hari ketika Mrs Weasley akhirnya melepaskan scarf pelindungnya, terhenyak ke kursi berlengan dan melompat bangkit lagi dengan jeritan jijik, karena telah menduduki sekantong tikus mati. Tirai-tirai tidak lagi berdesing; mereka bergantung lemas dan lembap dari penyemprotan habis-habisan. Di kaki mereka terletak Doxy-Doxy tidak sadar yang terjejal di dalam ember di samping semangkok telur hitam mereka, yang sedang diendusi Crookshanks dan Fred dan George sedang saling memandang dengan pandangan tamak.
"Kukira kita akan mengerjakan yang itu sehabis makan siang," Mrs Weasley menunjuk kepada lemari-lemari berpintu kaca yang berdebu yang terletak di kedua sisi rak perapian. Lemari-lemari itu penuh dengan aneka benda aneh; pilihan belati berkarat, cakar, kulit ular yang bergulung, sejumlah kotak perak pudar yang diberi tulisan dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti Harry dan, yang paling tidak menyenangkan dari semuanya, sebuah botol kristal berhias dengan sebuah batu opal besar yang ditempatkan pada penutupnya, penuh dengan apa yang Harry yakini sebagai darah.
Bel pintu yang berkelontang berbunyi lagi. Semua orang memandang kepada Mrs Weasley.
"Tetap di sini," dia berkata dengan tegas, sambil menyambar kantong tikus itu selagi pekikan Mrs Black mulai lagi di bawah. "Aku akan membawakan beberapa roti isi."
Dia meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya. Seketika, semua orang menyerbu ke jendela untuk melihat ke bawah ke ambang pintu. Mereka bisa melihat puncak dari sebuah kepala merah kekuningan yang tidak terurus dan setumpuk kuali yang keseimbangannya sangat genting.
"Mundungus!" kata Hermione. "Untuk apa dia membawa kuali-kuali itu?"
"Mungkin mencari tempat yang aman untuk menyimpannya," kata Harry. "Bukankah itu yang dia lakukan pada malam dia seharusnya mengekoriku? Mengambil kuali-kuali itu?"
"Yeah, kau benar!" kata Fred, ketika pintu depan terbuka; Mundungus menyeret kuali-kualinya melalui pintu dan menghilang dari pandangan. "Ya ampun, Mum tidak akan menyukainya ..."
Dia dan George menyeberang ke pintu dan berdiri di sampingnya, sambil mendengarkan dengan seksama. Jeritan Mrs Black telah berhenti.
"Mundungus sedang berbicara dengan Sirius dan Kingsley," Fred bergumam, sambil merengut penuh konsentrasi. "Tidak bisa dengar dengan jelas ... menurutmu kita bisa mengambil resiko dengan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan?"
"Mungkin berharga," kata George. "Aku bisa menyelinap ke atas dan mengambil sepasang --"
Tetapi pada saat itu juga ada suara ledakan dari bawah yang membuat Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan tidak diperlukan lagi. Mereka semua dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang diteriakkan Mrs Weasley pada puncak suaranya.
"KITA TIDAK MENJALANKAN RUMAH PERSEMBUNYIAN UNTUK BARANG-BARANG CURIAN!"
"Aku suka mendengar Mum berteriak kepada orang lain," kata Fred, dengan senyum kepuasan di wajahnya ketika dia membuka pintu sekitar satu inci untuk membiarkan suara Mrs Weasley memasuki ruangan itu dengan lebih baik, "benar-benar perubahan yang sangat baik."
"-- BENAR-BENAR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, SEAKAN-AKAN KITA BELUM PUNYA CUKUP MASALAH UNTUK DIKHAWATIRKAN TANPA KAMU MENYERET KUALI-KUALI CURIAN KE DALAM RUMAH --"
"Para idiot itu membiarkannya berlarut-larut," kata George, sambil menggelengkan kepalanya. "Kau harus mengalihkannya dari awal kalau tidak dia akan menambah kekuatan dan berteriak terus selama berjam-jam. Dan dia sudah sangat ingin memarahi Mundungus sejak dia menyelinap pergi sewaktu seharusnya mengikutimu, Harry -- dan ibunya Sirius mulai lagi --"
Suara Mrs Weasley tertelan oleh jeritan dan pekikan baru yang datang dari potret-potret di aula.
George bergerak menutup pintu untuk menenggelamkan keributan itu, tetapi sebelum dia bisa melakukannya, seorang peri-rumah memasuki ruangan itu.
Kecuali kain rombengan kotor yang diikat seperti cawat di sekitar bagian tengahnya, dia benar-benar telanjang. Kelihatannya sangat tua. Kulitnya terlihat beberapa kali lebih besar bagi dirinya dan, walaupun dia botak seperti semua peri-rumah, ada sejumlah rambut putih yang tumbuh mencuat dari telinga besarnya yang seperti telinga kelelawar. Matanya yang berwarna kelabu berair dan pembuluh darahnya tampak dan hidungnya yang penuh daging besar dan mirip moncong.
Peri itu sama sekali tidak memperhatikan Harry dan yang lain. Bertindak seakan-akan dia tidak bisa melihat mereka, dia bergerak dengan bungkuk, pelan-pelan dan pasti, menuju ujung jauh dari ruangan itu, sambil bergumam pelan dalam suara serak dan dalam seperti katak.
"... baunya seperti selokan dan seorang kriminal untuk ditendang, tapi yang wanita juga tidak lebih baik, si pengkhianat darah yang menjijikkan dengan anak-anak nakalnya mengotori rumah nyonyaku, oh, nyonyaku yang malang, kalau saja dia tahu, kalau dia tahu sampah yang telah mereka masukkan ke dalam rumahnya, apa yang akan dikatakannya kepada Kreacher tua ini, oh, betapa malunya, Darah-lumpur dan manusia serigala dan pengkhianat dan pencuri, Kreacher tua yang malang, apa yang bisa dilakukannya ..."
"Halo, Kreacher," kata Fred dengan sangat keras, sambil menutup pintu dengan sekali banting.
Peri-rumah itu membeku di tempat, berhenti bergumam, dan mengeluarkan suara terkejut yang sangat dibuat-buat dan sangat tidak meyakinkan.
"Kreacher tidak melihat tuan muda," katanya, sambil berpaling dan membungkuk kepada Fred. Masih menghadap karpet, dia menambahkan, jelas terdengar, "Anak nakal menjijikkan dari seorang pengkhianat darah."
"Maaf?" kata George. "Tidak dengar yang terakhir itu."
"Kreacher tidak berkata apa-apa," kata si peri-rumah, dengan membungkuk kedua kali kepada George, sambil menambahkan dengan suara rendah yang jelas, "dan itu kembarannya, bangsat-bangsat kecil tidak alami mereka itu."
Harry tidak tahu apakah harus tertawa atau tidak. Peri-rumah itu meluruskan dirinya sambil mengintai mereka semua dengan bengis, dan tampaknya yakin bahwa mereka tidak bisa mendengarnya ketika dia terus bergumam.
"... dan itu si Darah-lumpur, berdiri di sana sehebat kuningan, oh, kalau nyonyaku tahu, oh, bagaimana dia akan menangis, dan ada anak baru, Kreacher tidak tahu namanya. Apa yang sedang dia lakukan di sini? Kreacher tidak tahu ..."
"Ini Harry, Kreacher," kata Hermione. "Harry Potter."
Mata pucat Kreacher melebar dan dia bergumam lebih cepat dan lebih marah dari sebelumnya.
"Si Darah-lumpur berbicara kepada Kreacher seolah-olah dia temanku, kalau nyonya Kreacher melihatnya bersama orang seperti itu, oh, apa yang akan dikatakannya --"
"Jangan sebut dia Darah-lumpur!" kata Ron dan Ginny bersama-sama, dengan sangat marah.
"Tidak masalah," Hermione berbisik, "dia tidak dalam pikiran sehatnya, dia tidak tahu apa yang dia --"
"Jangan bodohi dirimu, Hermione, dia tahu persis apa yang dia katakan," kata Fred, sambil memandang Kreacher dengan rasa tidak suka.
Kreacher masih bergumam, matanya memandang Harry.
"Benarkah itu? Benar Harry Potter? Kreacher bisa melihat bekas lukanya, pastilah benar, itu anak yang menghentikan Pangeran Kegelapan, Kreacher bertanya-tanya bagaimana dia melakukannya --"
"Bukankah kita semua begitu, Kreacher," kata Fred.
"Apa yang kau inginkan?" George bertanya.
Mata besar Kreacher beralih kepada George.
"Kreacher sedang bersih-bersih," dia berkata mengelak.
"Cerita yang mungkin sekali," kata sebuah suara di belakang Harry.
Sirius telah kembali; dia sedang menatap tajam kepada peri itu dari ambang pintu. Keributan di aula telah reda; mungkin Mrs Weasley dan Mundungus telah memindahkan perseteruan mereka ke bawah ke dapur. Ketika melihat Sirius, Kreacher membungkukkan dirinya rendah sekali sehingga hidungnya yang mirip moncong rata ke lantai.
"Berdiri tegak," kata Sirius dengan tidak sabar. "Sekarang, apa yang sedang kau rencanakan?"
"Kreacher sedang bersih-bersih," peri-rumah itu mengulangi. "Kreacher hidup untuk melayani Rumah Black yang Mulia --"
"Dan semakin kelam saja setiap harinya, sehingga jadi sangat kotor," kata Sirius.
"Tuan selalu suka lelucon kecilnya," kata Kreacher sambil membungkuk lagi, dan meneruskan dengan suara rendah, "Tuan adalah babi tidak tahu berterima kasih yang menjijikkan yang meremukkan hati ibunya --"
"Ibuku tidak punya hati, Kreacher," sambar Sirius. "Dia bertahan hidup semata-mata dengan rasa dengki."
Kreacher membungkuk lagi ketika dia berkata.
"Apapun yang Tuan katakan," dia bergumam dengan marah. "Tuan tidak pantas menyeka lendir dari sepatu bot ibunya, oh, nyonyaku yang malang, apa yang akan dikatakannya kalau dia melihat Kreacher melayaninya, bagaimana dia membencinya, betapa mengecewakannya dirinya --"
"Kutanya kau apa yang sedang kau rencanakan," kata Sirius dengan dingin. "Tiap kali kau muncul sambil berpura-pura bersih-bersih, kau menyelinapkan sesuatu ke kamarmu sehingga kami tidak bisa membuangnya."
"Kreacher tidak akan memindahkan apa pun dari tempat yang seharusnya dalam rumah Tuan," kata peri-rumah itu, lalu bergumam dengan amat cepat, "Nyonya tidak akan pernah memaafkan Kreacher kalau permadani dinding itu dibuang, sudah berada dalam keluarga selama tujuh abad, Kreacher harus menyelamatkannya, Kreacher tidak akan membiarkan Tuan dan para pengkhianat darah dan anak-anak nakal itu menghancurkannya --"
"Kukira juga mungkin itu," kata Sirius, sambil memberi pandangan menghina pada dinding di seberang. "Dia pasti telah menempatkan Mantera Lekat Permanen lagi ke bagian belakangnya, aku tidak ragu, tetapi kalau bisa kuhilangkan pasti akan kulakukan. Sekarang pergilah, Kreacher."
Tampaknya Kreacher tidak berani tidak mematuhi perintah langsung, walaupun begitu, pandangan yang diberikannya kepada Sirius ketika dia bergerak melewatinya penuh dengan kebencian yang amat sangat dan dia bergumam sepanjang jalan keluar dari ruangan itu.
"-- pulang dari Azkaban sambil menyuruh-nyuruh Kreacher, oh, nyonyaku yang malang, apa yang akan dikatakannya kalau dia melihat rumah ini sekarang, sampah tinggal di dalamnya, barang-barang berharganya dibuang, nyonya bersumpah dia bukan anaknya dan dia sudah kembali, mereka juga bilang dia pembunuh --"
"Terus menggerutu dan aku akan jadi pembunuh!" kata Sirius dengan jengkel selagi dia membanting pintu menutup.
"Sirius, dia tidak menyadari perbuatannya," Hermione memohon, "kukira dia tidak sadar bahwa kita mendengarnya."
"Dia sudah sendirian terlalu lama," kata Sirius, "menuruti perintah gila dari potret ibuku dan berbicara kepada dirinya sendiri, tapi dia dari dulu memang seorang bajingan kecil --"
"Kalau saja kau membebaskannya," kata Hermione penuh harap, "mungkin --"
"Kita tidak bisa membebaskannya, dia tahu terlalu banyak tentang Order," kata Sirius dengan masam. "Dan lagipula, rasa terguncang akan membunuhnya. Kau sarankan dia meninggalkan rumah ini, lihat bagaimana tanggapannya."
Sirius berjalan menyeberangi ruangan ke tempat permadani dinding yang Kreacher coba lindungi yang bergantung sepanjang dinding. Harry dan yang lain mengikuti.
Permadani dinding itu tampak sangat tua; warnanya sudah pudar dan terlihat seakan-akan sudah digerogoti Doxy di banyak tempat. Walau begitu, benang keemasan yang membordirnya masih berkilau cukup cemerlang untuk memperlihatkan kepada mereka pohon keluarga yang membentang yang bertanggal (sejauh yang dapat dilihat Harry) dari Abad Pertengahan. Huruf-huruf besar di bagian paling atas permadani dinding itu bertuliskan:
Rumah Black yang Mulia dan Paling Kuno
"Toujours pur" (Selalu Murni)
"Kau tidak ada di sini!" kata Harry, setelah mengamati bagian bawah pohon itu dengan seksama.
"Aku dulu ada di sana," kata Sirius sambil menunjuk ke sebuah lubang kecil bulat bekas terbakar di permadani, yang mirip sundutan rokok. "Ibuku tersayang meledakkanku setelah aku lari dari rumah -- Kreacher sangat suka menggumamkan cerita itu."
"Kau lari dari rumah?"
"Sewaktu aku berusia sekitar enam belas tahun," kata Sirius. "Aku sudah muak."
"Ke mana kau pergi?" tanya Harry sambil menatapnya.
"Tempat ayahmu," kata Sirius. "Kakek-nenekmu sangat baik; mereka seperti mengangkatku sebagai anak kedua. Yeah, aku berkemah di luar rumah ayahmu saat liburan sekolah, dan ketika aku berumur tujuh belas aku mempunyai tempat sendiri. Pamanku Alphard meninggalkanku sejumlah emas -- dia juga telah dihapus dari sini, mungkin itu sebabnya --lagipula, setelah itu aku menjaga diriku sendiri. Namun, aku selalu diterima di rumah keluarga Potter untuk makan siang Minggu."
"Tapi ... kenapa kau ...?"
"Pergi?" Sirius tersenyum getir dan menyisir rambut panjangnya yang tak terawat dengan jari-jarinya. "Karena aku benci mereka semua; orang tuaku, dengan mania darah-murni mereka, yakin bahwa menjadi seorang Black membuatmu berdarah biru ... adikku yang idiot, cukup lembek untuk mempercayai mereka ... itu dia."
Sirius menusukkan sebuah jari ke bagian paling bawah dari pohon itu, pada nama "Regulus Black". Sebuah tanggal kematian (sekitar lima belas tahun sebelumnya) mengikuti tanggal kelahiran.
"Dia lebih muda dariku," kata Sirius, "dan merupakan anak yang lebih baik, seperti yang selalu diingatkan kepadaku."
"Tapi dia meninggal," kata Harry.
"Yeah," kata Sirius. "Idiot bodoh ... dia bergabung dengan para Pelahap Maut."
"Kau bercanda!"
"Ayolah, Harry, bukankah kau sudah lihat cukup banyak dari rumah ini untuk mengetahui penyihir macam apa keluargaku itu?" kata Sirius dengan tidak sabar.
"Apakah -- apakah orang tuamu juga Pelahap Maut?"
"Tidak, tidak, tapi percayalah kepadaku, mereka berpikir Voldemort memiliki gagasan yang benar, mereka mendukung pemurnian ras penyihir, mengenyahkan para kelahiran Muggle dan memberi kekuasaan kepada darah-murni. Mereka juga tidak sendirian, ada sejumlah orang, sebelum Voldemort menunjukkan wajah aslinya, yang berpikir bahwa dia punya gagasan yang benar mengenai banyak hal ... namun, mereka jadi pengecut ketika mereka melihat dia bersiap-siap mengambil kekuasaan. Tapi aku yakin orang tuaku mengira Regulus adalah pahlawan kecil karena bergabung sejak awal."
"Apakah dia dibunuh oleh Auror?" Harry bertanya.
"Oh, tidak," kata Sirius. "Tidak, dia dibunuh oleh Voldemort. Atau atas perintah Voldemort, lebih tepatnya; aku ragu Regulus pernah cukup penting untuk dibunuh sendiri oleh Voldemort. Dari apa yang kuketahui setelah dia mati, dia masuk cukup jauh, lalu panik mengenai apa yang harus dikerjakannya dan mencoba mundur. Well, kau tidak bisa menyerahkan surat pengunduran diri begitu saja kepada Voldemort. Pilihannya pelayanan seumur hidup atau kematian."
"Makan siang," kata suara Mrs Weasley.
Dia sedang mengangkat tongkat tinggi-tinggi di depannya, sambil menyeimbangkan sebuah nampan besar yang penuh berisi roti isi dan kue dengan ujung tongkat. Wajahnya sangat merah dan terlihat masih marah. Yang lain berpindah mendekatinya, ingin mendapatkan makanan, tapi Harry tetap bersama Sirius, yang telah membungkuk lebih dekat ke permadani.
"Aku belum melihat ini selama bertahun-tahun. Itu Phinneas Nigellus ... kakek buyutku, lihat? ... Kepala Sekolah paling tidak populer yang pernah dimiliki Hogwarts ... dan Araminta Meliflua ... sepupu ibuku ... mencoba memaksakan Undang-Undang Kementerian untuk melegalkan perburuan Muggle ... dan Bibi Elladora sayang ... dia memulai tradisi keluarga memenggal kepala peri-rumah ketika mereka terlalu tua untuk membawa nampan teh ... tentu saja, tiap kali keluarga menghasilkan seseorang yang kurang pantas mereka tidak diakui. Kulihat Tonks tidak ada di sini. Mungkin itu sebabnya Kreacher tidak mau menerima perintah darinya -- dia seharusnya melakukan apa pun yang diminat siapa saja dalam keluarga --"
"Kau dan Tonks berkerabat?" Harry bertanya, terkejut.
"Oh, yeah, ibunya Andromeda adalah sepupu yang paling kusukai," kata Sirius, sambil memeriksa permadani dinding itu dengan seksama. "Tidak, Andromeda juga tidak di sini, lihat --"
Dia menunjuk ke tanda hangus bulat kecil di antara dua nama, Bellatrix dan Narcissa.
"Saudara-saudara perempuan Andromeda masih di sini karena mereka menikah secara terhormat dengan darah-murni, tapi Andromeda menikahi seorang kelahiran Muggle, Ted Tonks, jadi --"