Apakah Kapitalisme Gagal?
Untuk menilai kinerja Kapitalisme, pertama
kita harus memahami dulu apa itu Kapitalisme.
Kapitalisme adalah saat faktor produksi dimiliki oleh individu
secara pribadi dengan satu intensi, yakni memperkaya diri sendiri.
Oleh karena itu,
mereka menggunakannya bukan untuk memenuhi kebutuhan
tetapi untuk memperkaya diri mereka sebanyak-banyaknya.
Mau disadari atau tidak, sistem Kapitalisme telah merajalela di seluruh dunia.
Negara-negara yang ingin berkembang
akan mengadopsi Kapitalisme dan telah menjadi norma untuk mereka bila mereka ingin “berkembang”.
Apa yang terjadi?
Kondisi dunia saat ini adalah terjadinya ketimpangan kekayaan dan kemiskinan yang merajalela.
Yang kedua, Globalisme.
Salah satu tren dalam Kapitalisme adalah timbulnya badan-badan seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.
Badan-badan ini memberikan pinjaman pada negara-negara
negara peminjam harus melakukan penstrukturan ekonomi seperti
liberalisasi perdagangan
penurunan mata uang pribadi dan pengurangan subsidi yang diberikan pemerintah.
Ini semua sesuai dengan paham Kapitalisme
untuk mengurangi regulasi pemerintah dalam aspek ekonomi.
Secara praktis, kaum kapitalis juga memerlukan peran pemerintah
untuk menyebar luaskan kepentingan kaum borjuis ke negara-negara lain.
Apakah Kapitalisme menghasilkan Demokrasi?
Demokrasi adalah di mana rakyat bisa berpartisipasi baik secara publi atau perwakilan
terhadap politik dan ekonomi sebuah negara.
Untuk setiap dollar yang dihabiskan oleh serikat buruh
dan kepentingan publik lainnya,
perusahaan besar akan menghabiskan 34 dollar.
Bahkan, praktik lobbying seperti mempengaruhi media,
menghasilkan data data yang menguntungkan mereka, dilakukan.
Berdasarkan ini,
kepentingan perusahaan-perusahaan besar akan lebih diutamakan ketimbang entitas lain.
Semua orang memiliki self-interest.
Namun pada Kapitalisme, beberapa kaum mampu mengalahkan mayoritas.
Berakar dari sini,
Apakah Kapitalisme merupakan sesuatu yang adil?