Bab 14: Percy dan Padfoot (2/2)
"Bukalah!" kata Hermione penuh semangat, dan Harry mengangguk. Ron membuka gulungan itu dan mulai membaca. Semakin matanya bergerak ke bawah dari perkamen itu, semakin terlihat cemberutnya. Ketika dia telah selesai membaca, dia terlihat jijik. Dia menyorongkan surat itu kepada Harry dan Hermione, yang mencondongkan badan kepada satu sama lain untuk membacanya bersama.
Dear Ron,
Aku baru saja dengar (tidak kurang dari Menteri Sihir sendiri, yang mendengarnya dari guru barumu, Profesor Umbridge) bahwa kamu telah menjadi seorang prefek Hogwarts. Aku mendapat kejutan yang sangat menyenangkan ketika aku mendengar kabar ini dan harus menawarkan ucapan selamat dariku. Aku harus mengakui bahwa aku selalu takut kau akan mengambil apa yang kami sebut jalan "Fred dan George", bukannya mengikuti langkahku, sehingga kau bisa membayangkan perasaanku ketika mendengar kau telah berhenti melawan pihak berkuasa dan telah memutuskan untuk menanggung beberapa tanggung jawab nyata. Tapi aku ingin memberimu lebih dari ucapan selamat, Ron, aku ingin memberimu sedikit nasihat, itulah sebabnya aku mengirimkan ini malam hari bukannya dengan pos pagi yang biasa. Harapanku, kau akan bisa membaca ini jauh-jauh dari mata yang mengintip dan menghindari pertanyaan-pertanyaan tidak mengenakkan.
Dari sesuatu yang terceplos oleh Menteri ketika memberitahuku kau sekarang seorang prefek, kudapati bahwa kau masih sering berjumpa dengan Harry Potter. Aku harus memberitahumu, Ron, bahwa tak ada apa pun yang bisa menempatkanmu dalam bahaya kehilangan lencanamu lebih daripada persahabatan yang diteruskan dengan anak itu. Ya, aku yakin kau terkejut mendengar ini—tidak diragukan lagi kau akan bilang bahwa Potter selalu menjadi anak kesayangan Dumbledore—tapi aku merasa harus memberitahumu bahwa Dumbledore mungkin tidak akan memimpin Hogwarts lebih lama lagi dan orang-orang yang penting memiliki pandangan lain—dan mungkin lebih akurat—mengenai perilaku Potter. Aku tidak akan mengatakan lebih banyak lagi di sini, tapi kalau kau baca di Daily Prophet besok kau akan dapat gagasan bagus mengenai arah tiupan angin—dan lihat apakah kau bisa menemukan arah anginmu! Serius, Ron, kau tidak mau dikelompokkan bersama dengan Potter, bisa sangat merusak prospek masa depanmu, dan aku membicarakan tentang kehidupan sehabis sekolah juga.
Seperti yang pasti kau sadari, mengingat ayah kita mengantarnya ke sidang, Potter mengikuti dengar pendapat kedisiplinan musim panas ini di depan seluruh Wizengamot dan dia tidak lolos dengan tampang terlalu bagus. Dia lolos hanya karena soal teknis, kalau kau tanya aku, dan banyak orang yang telah berbicara denganku tetap yakin akan kesalahannya. Mungkin kau takut putus hubungan dengan Potter—aku tahu dia bisa jadi tidak seimbang dan, sejauh yang kutahu, bengis—tapi kalau kau punya kekhawatiran apa pun mengenai ini, atau telah menemukan hal lain dalam perilaku Potter yang menyusahkanmu, kudorong kamu untuk berbicara kepada Dolores Umbridge, seorang wanita yang sangat menyenangkan yang kutahu hanya akan senang sekali untuk memberimu nasihat.
Ini membawaku pada nasihatku yang lain. Seperti yang telah kuisyaratkan di atas, rezim Dumbledore di Hogwarts mungkin akan segera berakhir. Kesetiaanmu, Ron, seharusnya tidak kepada dia, tetapi kepada sekolah dan Kementerian. Aku sangat menyesal mendengar bahwa, sejauh ini, Profesor Umbridge menghadapi kerja sama yang sangat sedikit dari para staf sementara dia berjuang untuk membuat perubahan-perubahan yang dibutuhkan itu di dalam Hogwarts yang sangat diinginkan Menteri (walaupun dia seharusnya akan mendapati hal ini lebih mudah semenjak minggu depan—sekali lagi, baca Daily Prophet besok!). Aku hanya akan mengatakan ini—seorang murid yang memperlihatkan dirinya bersedia membantu Profesor Umbridge sekarang mungkin akan mendapat tempat sepantasnya menjadi Ketua Murid dalam beberapa tahun!
Aku menyesal aku tidak dapat bertemu denganmu lebih sering di musim panas. Menyakitkan bagiku untuk mengkritik orang tua kita, tapi aku takut aku tidak bisa lagi tinggal di bawah atap mereka sementara mereka terus berkumpul dengan kerumunan berbahaya di sekitar Dumbledore. (Kalau kau menulis surat kepada Ibu kapan pun, kau bisa memberitahunya bahwa seorang Sturgis Podmore tertentu, yang merupakan teman akrab Dumbledore, baru-baru ini telah dikirim ke Azkaban karena masuk tanpa izin ke Kementerian. Mungkin itu akan membuka mata mereka akan jenis kriminal rendahan yang dekat dengan mereka sekarang ini.)
Aku menganggap diriku sendiri beruntung karena lolos dari noda pergaulan dengan orang-orang seperti ini—Menteri tidak bisa lebih ramah lagi kepadaku—dan aku berharap, Ron, bahwa kau juga tidak akan membiarkan ikatan keluarga membutakanmu pada keyakinan dan tindakan orang tua kita yang salah arah. Aku setulusnya berharap bahwa, bila waktunya tiba, mereka akan menyadari betapa salahnya mereka dan aku akan, tentu saja, siap menerima permintaan maaf penuh ketika hari itu tiba. Tolong pikirkan apa yang baru saja kukatakan dengan sangat hati-hati, khususnya yang mengenai Harry Potter, dan selamat lagi atas pengangkatanmu menjadi prefek.
Kakakmu,
Percy
Harry memandang Ron.
"Well," katanya, mencoba terdengar seolah-olah dia menganggap semua itu lelucon, "kalau kau mau—er—apa itu? "—dia memeriksa surat Percy—"Oh yeah—'putus hubungan' denganku, aku bersumpah aku tidak akan menjadi bengis."
"Kembalikan itu," kata Ron sambil mengulurkan tangannya. "Dia—" Ron berkata dengan tersentak, sambil merobek surat Percy menjadi setengah bagian "orang—" dia merobeknya menjadi seperempat "terbrengsek—" dia merobeknya menjadi seperdelapan "di dunia." Dia melemparkan potongan-potongan itu ke dalam api.
"Ayolah, kita harus menyelesaikan ini sebelum fajar," katanya dengan cepat kepada Harry, sambil menarik esai Profesor Sinistra kembali ke hadapannya.
Hermione sedang memandangi Ron dengan ekspresi aneh di wajahnya.
"Oh, berikan kemari," katanya mendadak.
"Apa?" kata Ron.
"Berikan kepadaku, aku akan memeriksanya dan mengoreksinya," katanya.
"Apakah kau serius? Ah—Hermione, kau penyelamat hidupku," kata Ron, "apa yang bisa aku—"
"Yang bisa kau katakan adalah, 'Kami berjanji kami tidak akan membiarkan PR kami sampai selambat ini lagi,'" katanya sambil mengulurkan kedua tangan untuk mengambil esai mereka, tapi dia terlihat agak terhibur juga.
"Sejuta terima kasih, Hermione," kata Harry dengan lemah, sambil menyerahkan esainya dan terbenam kembali ke dalam kursi berlengannya sambil menggosok matanya.
Sekarang sudah lewat tengah malam dan ruang duduk sudah ditinggalkan semua orang kecuali mereka bertiga dan Crookshanks. Satu-satunya suara yang ada hanyalah pena bulu Hermione yang mencoretkan kalimat di sana-sini di esai mereka dan kelepak halaman-halaman buku ketika dia memeriksa fakta-fakta di dalam buku-buku referensi yang bertebaran di meja. Harry sangat letih. Dia juga merasakan perasaan aneh, memuakkan, hampa dalam perutnya yang tidak berhubungan dengan keletihannya dan berhubungan sekali dengan surat yang sekarang bergelung hitam di tengah api.
Dia tahu bahwa setengah dari orang-orang di dalam Hogwarts mengiranya aneh, bahkan gila; dia tahu bahwa Daily Prophet telah membuat sindiran menghina kepadanya selama berbulan-bulan, tetapi ada sesuatu mengenai melihatnya tertulis seperti itu dalam tulisan Percy, mengenai mengetahui bahwa Percy menasihati Ron untuk tidak berhubungan dengannya dan bahkan menceritakan kisah-kisah mengenai dia kepada Umbridge, itu membuat situasinya nyata baginya yang tidak bisa dilakukan hal lain. Dia sudah mengenal Percy selama empat tahun, telah tinggal di rumahnya sepanjang liburan musim panas, berbagi tenda dengannya selama Piala Dunia Quidditch, bahkan telah dihadiahkan nilai penuh darinya di tugas kedua dari Turnamen Triwizard tahun lalu, tetapi sekarang, Percy menganggapnya tidak seimbang dan mungkin bengis.
Dan sekarang dengan serbuan simpati kepada ayah angkatnya, Harry berpikir Sirius mungkin satu-satunya orang yang dikenalnya yang bisa benar-benar mengerti bagaimana perasaannya saat itu, karena Sirius berada dalam situasi yang sama. Hampir semua orang dalam dunia sihir mengira Sirius seorang pembunuh berbahaya dan pendukung besar Voldemort dan dia harus hidup dengan pengetahuan itu selama empat belas tahun...
Harry berkedip. Dia baru saja melihat sesuatu di dalam api yang tidak mungkin berada di sana. Benda itu telah tampak dan menghilang dengan segera. Tidak... tidak mungkin... dia telah membayangkannya karena dia baru saja memikirkan Sirius...
"OK, tulis itu," Hermione berkata kepada Ron, sambil mendorong esainya dan sehelai perkamen yang penuh tulisannya sendiri kepada Ron, "lalu tambahkan kesimpulan yang telah kutuliskan untukmu."
"Hermione, sejujurnya kau orang paling menakjubkan yang pernah kutemui," kata Ron dengan lemah, "dan kalau aku pernah kasar kepadamu lagi—"
"—aku akan tahu kau sudah kembali normal," kata Hermione. "Harry, esaimu OK kecuali yang sedikit ini di akhir, kukira kau pasti salah mendengar ucapan Profesor Sinistra, Europa tertutup es, bukan tikus—Harry?"
Harry telah meluncur turun dari kursinya bertumpu pada lututnya dan sekarang sedang berjongkok di permadani yang gosong dan tipis, menatap ke dalam api.
"Er—Harry?" kata Ron dengan tidak yakin. "Kenapa kau di bawah sana?"
"Karena aku baru saja melihat kepala Sirius di dalam api," kata Harry.
Dia berbicara dengan tenang; lagipula, dia telah melihat kepala Sirius di api yang sama ini tahun sebelumnya dan berbicara dengannya juga; walau begitu, dia tidak bisa yakin bahwa dia benar-benar melihatnya kali ini... kepala itu telah menghilang begitu cepat...
"Kepala Sirius?" Hermione mengulangi. "Maksudmu seperti ketika dia mau berbicara kepadamu selama Turnamen Triwizard? Tapi dia tidak akan melakukan itu sekarang, itu akan terlalu—Sirius!"
Dia menarik napas cepat, sambil menatap ke api; Ron menjatuhkan pena bulunya. Di sana di tengah nyala api yang menari-nari ada kepala Sirius, rambut panjang gelap berjatuhan di sekitar wajahnya yang menyengir.
"Aku mulai mengira kalian akan pergi tidur sebelum semua orang lainnya menghilang," katanya. "Aku telah memeriksa setiap jam."
"Kau telah muncul ke dalam api setiap jam?" Harry berkata, setengah tertawa.
"Hanya selama beberapa detik untuk memeriksa apakah keadaan aman."
"But bagaimana kalau kau terlihat?" kata Hermione dengan cemas.
"Well, kukira seorang anak perempuan—kelas satu, dari tampangnya—mungkin melihatku sekilas, tapi jangan khawatir," Sirius berkata dengan buru-buru, ketika Hermione mengatupkan tangan ke mulutnya, "Aku sudah pergi saat dia memandang balik kepadaku dan aku bertaruh dia cuma mengira aku batang kayu yang berbentuk aneh atau apa pun."
"Tapi, Sirius, ini mengambil risiko besar—" Hermione mulai.
"Kau terdengar seperti Molly," kata Sirius. "Ini satu-satunya cara yang bisa kudapat untuk menjawab surat Harry tanpa menggunakan kode—dan kode bisa dipecahkan."
Ketika menyebut surat Harry, Hermione dan Ron berpaling kepadanya.
"Kau tidak bilang kau menulis surat kepada Sirius!" kata Hermione menuduh.
"Aku lupa," kata Harry, yang memang benar; pertemuannya dengan Cho di Kandang Burung Hantu telah mengenyahkan semua hal sebelumnya keluar dari pikirannya. "Jangan melihat kepadaku seperti itu, Hermione, tidak mungkin seseorang mendapatkan informasi rahasia darinya, benar bukan, Sirius?"
"Tidak, sangat bagus," kata Sirius, sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, kita sebaiknya bergegas, kalau-kalau kita diganggu—bekas lukamu."
"Bagaimana dengan—?" Ron mulai, tetapi Hermione menyelanya. "Kami akan memberitahumu nanti. Teruskan, Sirius."
"Well, aku tahu tidak menyenangkan ketika sakit, tapi kami tidak mengira ada yang patut dikhawatirkan. Bekas lukamu terus sakit sepanjang tahun lalu, bukan?"
"Yeah, dan Dumbledore bilang terjadi kapanpun Voldemort merasakan emosi yang kuat," kata Harry, sambil mengabaikan, seperti biasa, kerenyit di wajah Ron dan Hermione. "Jadi mungkin dia hanya, aku tak tahu, benar-benar marah atau apa pun malam aku melewati detensi itu."
"Well, sekarang setelah dia kembali pasti akan lebih sering sakit," kata Sirius.
"Jadi menurutmu tidak berhubungan dengan Umbridge menyentuhku ketika aku dalam detensi bersamanya?" Harry bertanya.
"Aku meragukan itu," kata Sirius. "Aku kenal reputasinya dan aku yakin dia bukan Pelahap Maut—"
"Dia cukup jahat untuk jadi satu," kata Harry dengan muram, dan Ron dan Hermione mengangguk kuat-kuat menyetujui.
"Ya, tapi dunia ini tidak terbagi ke dalam orang baik dan para Pelahap Maut," kata Sirius dengan senyum masam. "Walaupun aku tahu dia tidak menyenangkan—kau seharusnya mendengar Remus berbicara mengenai dia."
"Apakah Lupin kenal dia?" kata Harry cepat-cepat, teringat komentar Umbridge mengenai keturunan campuran yang berbahaya dalam pelajaran pertamanya.
"Tidak," kata Sirius, "tetapi dia mengusulkan undang-undang anti-manusia serigala dua tahun yang lalu yang membuatnya hampir tidak mungkin mendapatkan pekerjaan."
Harry teringat betapa lebih kusamnya Lupin terlihat akhir-akhir ini dan ketidaksukaannya pada Umbridge lebih mendalam lagi.
"Ada apa antara dia dan manusia serigala?" kata Hermione dengan marah.
"Kukira takut pada mereka," kata Sirius, sambil tersenyum melihat kemarahannya. "Tampaknya dia membenci setengah manusia; dia juga berkampanye agar para manusia duyung dikumpulkan dan diberi tanda pengenal tahun lalu. Bayangkan memboroskan waktu dan energimu menyiksa para manusia duyung ketika ada kain rombeng seperti Kreacher yang berkeliaran."
Ron tertawa tetapi Hermione tampak tidak senang.
"Sirius!" katanya dengan mencela. "Jujur saja, kalau kau membuat usaha dengan Kreacher, aku yakin dia akan menanggapi. Lagipula, kau satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya, dan Profesor Dumbledore berkata—"
"Jadi, seperti apa pelajaran Umbridge?" Sirius menyela. "Apakah dia melatih kalian semua untuk membunuh keturunan campuran?"
"Tidak," kata Harry, sambil mengabaikan pandangan tersinggung Hermione karena pembelaannya untuk Kreacher dipotong. "Dia tidak membolehkan kami menggunakan sihir sama sekali!"
"Yang kami lakukan hanyalah membaca buku pegangan bodoh itu," kata Ron.
"Ah, well, itu jelas," kata Sirius. "Informasi kami dari dalam Kementerian adalah bahwa Fudge tidak mau kalian terlatih untuk pertarungan."
"Terlatih untuk pertarungan!" ulang Harry dengan tidak percaya. "Dikiranya apa yang kami lakukan di sini, membentuk semacam tentara sihir?"
"Itulah persisnya apa yang dikiranya sedang kalian lakukan," kata Sirius, "atau, lebih tepatnya, itulah persisnya yang ditakutkannya sedang dilakukan Dumbledore—membentuk tentara pribadinya sendiri, sehingga dia akan bisa mengalahkan Kementerian Sihir."
Ada jeda akibat hal ini, lalu Ron berkata, "Itu hal terbodoh yang pernah kudengar, termasuk semua hal yang dikeluarkan Luna Lovegood."
"Jadi kami dilarang belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam karena Fudge takut kami akan menggunakan mantra-mantra itu melawan Kementerian?" kata Hermione, terlihat marah.
"Yep," kata Sirius. "Fudge mengira Dumbledore tidak akan berhenti demi apapun untuk merebut kekuasaan. Dia menjadi semakin paranoid tentang Dumbledore semakin hari. Cuma masalah waktu sebelum dia menyuruh Dumbledore ditangkap atas tuduhan yang dibuat-buat."
Ini mengingatkan Harry pada surat Percy.
"Tahukah kau kalau akan ada sesuatu mengenai Dumbledore di Daily Prophet besok? Kakak Ron, Percy, berpendapat akan ada—"
"Aku tidak tahu," kata Sirius, "Aku belum bertemu siapa pun dari Orde sepanjang akhir pekan, mereka semua sibuk. Cuma Kreacher dan aku di sini."
Ada nada getir yang nyata dalam suara Sirius.
"Jadi kamu juga belum mendapat kabar apapun tentang Hagrid?"
"Ah..." kata Sirius, "well, dia seharusnya sudah kembali sekarang, tak ada yang yakin apa yang telah menimpanya." Lalu, melihat wajah terpukul mereka, dia menambahkan cepat-cepat, "Tapi Dumbledore tidak khawatir, jadi kalian bertiga jangan khawatir; aku yakin Hagrid baik-baik saja."
"Tapi kalau dia seharusnya sudah kembali sekarang..." kata Hermione dengan suara kecil dan cemas.
"Madame Maxime bersamanya, kami sudah berhubungan dengan dia dan katanya mereka berpisah dalam perjalanan pulang—tapi tidak ada apa pun yang menandakan dia terluka atau—well, tak ada apa pun yang menandakan dia tidak baik-baik saja."
Tidak yakin, Harry, Ron dan Hermione saling pandang dengan cemas.
"Dengar, jangan terlalu banyak bertanya mengenai Hagrid," kata Sirius dengan cepat, "cuma akan menarik lebih banyak perhatian pada kenyataan bahwa dia belum kembali dan aku tahu Dumbledore tidak mau itu. Hagrid kuat, dia akan baik-baik saja." Dan ketika mereka tidak tampak terhibur, Sirius menambahkan, "Ngomong-ngomong, kapan akhir pekan Hogsmeade kalian? Aku berpikir, kita lolos dengan samaran anjing di stasiun, bukan? Kukira aku bisa—"
"TIDAK!" kata Harry dan Hermione bersama-sama, dengan sangat keras.
"Sirius, apakah kau membaca Daily Prophet?" kata Hermione dengan cemas.
"Oh, itu," kata Sirius sambil nyengir, "mereka selalu menebak-nebak di mana aku berada, mereka tidak punya satu pun petunjuk—"
"Yeah, tapi kami kira kali ini mereka punya," kata Harry. "Sesuatu yang dikatakan Malfoy di kereta api membuat kami mengira dia tahu itu kau, dan ayahnya ada di peron, Sirius—kau tahu, Lucius Malfoy—jadi jangan datang ke sini, apapun yang kau lakukan. Kalau Malfoy mengenali kamu lagi—"
"Baiklah, baiklah, aku dapat intinya," kata Sirius. Dia terlihat sangat tidak senang. "Cuma sebuah ide, kukira kau mungkin mau berkumpul."
"Aku mau, aku hanya tidak mau kau tertangkap kembali ke Azkaban!" kata Harry.
Ada jeda sementara Sirius memandang dari api kepada Harry dengan garis di antara matanya yang cekung.
"Kau lebih tidak mirip ayahmu dari yang kukira," akhirnya dia berkata, dengan nada dingin nyata dalam suaranya. "Risiko yang akan membuatnya menyenangkan bagi James."
"Lihat—"
"Well, sebaiknya aku pergi, aku bisa mendengar Kreacher menuruni tangga," kata Sirius, tetapi Harry yakin dia sedang berbohong. "Kalau begitu, aku akan menulis surat kepadamu memberitahumu kapan aku bisa kembali ke api? Kalau kau bisa mengambil risiko?"
Ada bunyi pop kecil, dan di tempat yang tadinya terdapat kepala Sirius, nyala api berkelap-kelip sekali lagi.