Bab 14: Percy dan Padfoot (1/2)
Harry yang pertama terbangun di kamar asramanya keesokan harinya. Dia berbaring sejenak sambil mengamati debu beterbangan dalam cahaya matahari yang masuk melalui celah di kelambu tempat tidur bertiang empatnya, dan menikmati pikiran bahwa hari itu Sabtu. Minggu pertama semester itu tampaknya telah berlangsung selamanya, seperti suatu pelajaran Sejarah Sihir besar-besaran.
Dinilai dari keheningan tidur nyenyak dan tampang segar sinar matahari itu, fajar baru saja tiba. Dia menarik tirai di sekitar tempat tidurnya hingga terbuka, bangkit dan mulai berpakaian. Satu-satunya suara selain kicauan burung di kejauhan adalah napas pelan dan dalam teman-teman Gryffindor-nya. Dia membuka tas sekolahnya dengan hati-hati, menarik keluar perkamen dan pena bulu dan keluar dari kamar menuju ruang duduk.
Berjalan lurus ke kursi berlengan tua yang empuk kesukaannya di samping api yang sekarang sudah padam, Harry duduk dengan nyaman dan membuka gulungan perkamennya sementara memandang berkeliling ruangan itu. Sisa-sisa potongan perkamen yang kusut, Gobstone-Gobstone tua, stoples-stoples bahan yang kosong dan pembungkus-pembungkus permen yang biasanya meliputi ruang duduk di akhir hari setiap harinya telah hilang, begitu juga topi-topi peri Hermione. Sambil bertanya-tanya dengan samar berapa banyak peri yang sekarang telah dibebaskan apakah mereka ingin ataupun tidak, Harry membuka penutup botol tintanya, mencelupkan pena bulunya ke dalamnya, lalu memegangnya satu inci di atas permukaan kekuningan perkamennya, sambil berpikir keras... tetapi setelah sekitar satu menit dia menemukan dirinya menatap ke kisi perapian yang kosong, benar-benar tidak tahu apa yang ingin dikatakan.
Dia sekarang bisa menghargai betapa sulitnya bagi Ron dan Hermione untuk menulis surat kepadanya sepanjang musim panas. Bagaimana dia bisa memberitahu Sirius semua yang telah terjadi selama minggu belakangan ini dan memasukkan semua pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan tanpa memberi para pencuri surat potensial banyak informasi yang dia tidak ingin mereka dapatkan?
Dia duduk tak bergerak sejenak, sambil menatap ke perapian; lalu, akhirnya mengambil keputusan, dia mencelupkan pena bulunya ke dalam botol tinta sekali lagi dan menempatkannya dengan penuh ketetapan hati ke atas perkamen.
"Dear Snuffles,
Kuharap kau OK, minggu pertama kembali ke sini mengerikan, aku benar-benar senang sudah akhir pekan.
Kami dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Profesor Umbridge. Dia hampir sama menyenangnkannya dengan ibumu. Aku menulis karena hal yang kuceritakan kepadamu musim panas lalu terjadi lagi tadi malam ketika aku sedang dalam detensi dengan Umbridge.
Kami semua merindukan teman terbesar kami, kami harap dia akan segera kembali.
Tolong tulis surat balasan secepatnya.
Salam,
Harry"
Harry membaca ulang surat itu beberapa kali, mencoba melihat dari sudut pandang orang luar. Dia tidak bisa melihat bagaimana mereka akan bisa tahu apa yang sedang dia bicarakan—atau dengan siapa dia berbicara—hanya dari membaca surat ini. Dia memang berharap Sirius akan mengetahui petunjuk mengenai Hagrid dan memberitahu mereka kapan dia mungkin kembali. Harry tidak ingin bertanya langsung kalau-kalau hal itu menarik terlalu banyak perhatian atas apa yang mungkin sedang direncanakan Hagrid selagi dia tidak ada di Hogwarts.
Mengingat itu adalah surat yang sangat singkat, surat itu makan waktu lama untuk ditulis; sinar matahari telah memasuki setengah dari ruangan itu selagi dia mengerjakan surat itu dan dia sekarang bisa mendengar suara-suara pergerakan di kejauhan dari kamar-kamar asrama di atas. Sambil menyegel perkamennya dengan hati-hati, dia memanjat melalui lubang potret dan menuju Kandang Burung Hantu.
"Aku tidak akan pergi ke arah sana kalau aku jadi kamu," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, sambil melayang bingung melalui dinding tepat di depan Harry ketika dia berjalan menyusuri gang. "Peeves sedang merencanakan lelucon lucu pada orang berikutnya yang melewati patung dada Paracelsus di tengah koridor."
"Apakah melibatkan Paracelsus yang jatuh ke puncak kepala orang itu?" tanya Harry.
"Lucunya, memang," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan suara bosan. "Kerumitan memang tidak pernah menjadi kekuatan Peeves. Aku akan pergi untuk mencoba mencari Baron Berdarah... dia mungkin bisa menghentikannya... sampai jumpa, Harry."
"Yeah, bye," kata Harry dan bukannya belok kanan, dia membelok ke kiri, mengambil rute yang lebih panjang tetapi lebih aman ke Kandang Burung Hantu. Semangatnya naik ketika dia berjalan melewati jendela demi jendela yang memperlihatkan langit biru cerah, dia akan mengikuti latihan nanti, akhirnya dia akan kembali ke lapangan Quidditch.
Sesuatu menyenggol mata kakinya. Dia memandang ke bawah dan melihat kucing kelabu kurus milik penjaga sekolah, Mrs Norris, sedang menyelinap melewatinya. Dia memalingkan mata kuningnya yang seperti lampu padanya sejenak sebelum menghilang ke balik patung Wilfred si Penuh-Harap.
"Aku tidak melakukan sesuatu yang salah," Harry berseru kepadanya. Dia punya hawa yang tak salah lagi milik kucing yang pergi melapor ke majikannya, walau Harry tidak mengerti mengapa; dia sepenuhnya punya hak untuk berjalan ke Kandang Burung Hantu pada hari Sabtu pagi.
Matahari sudah tinggi di langit sekarang dan ketika Harry memasuki Kandang Burung Hantu jendela-jendela kaca menyilaukan matanya; sinar-sinar keperakan yang berkabut bersilangan di ruang melingkar tempat ratusan burung hantu membaringkan diri dalam kasau-kasau, agak tidak tenang dalam sinar pagi hari, beberapa jelas baru kembali dari berburu. Lantai yang tertutup jerami berderak sedikit ketika dia melangkah melewati tulang-tulang binatang kecil, sambil menjulurkan lehernya mencari-cari Hedwig.
"Di sana kamu," katanya sambil melihat dia di suatu tempat dekat bagian paling puncak dari langit-langit yang berkubah. "Turun ke sini, aku punya surat untukmu."
Dengan uhu rendah dia membentangkan sayap-sayap putih besarnya dan membumbung turun ke bahunya.
"Benar, aku tahu di sini tertulis Snuffles di luarnya," katanya, sambil memberikan surat itu untuk dikatupkan di paruhnya dan, tanpa tahu persisnya mengapa, berbisik, "tapi itu untuk Sirius, OK?"
Dia mengedipkan matanya yang kuning sekali dan Harry menganggap itu berarti dia mengerti.
"Kalau begitu, semoga terbang dengan selamat," kata Harry dan dia membawanya ke salah satu jendela; dengan tekanan sejenak di lengannya, Hedwig lepas landas ke langit cerah yang membutakan. Dia mengamati sambil menjadi titik hitam kecil dan menghilang, lalu mengalihkan pandangannya ke pondok Hagrid, yang tampak jelas dari jendela ini, dan sama jelasnya tidak terhuni, cerobongnya tidak berasap, tirainya tertutup.
Puncak pepohonan di Hutan Terlarang berayun-ayun dalam angin sepoi-sepoi. Harry mengamati mereka, sambil menikmati udara segar di wajahnya, memikirkan tentang Quidditch nanti... lalu dia melihatnya. Seekor kuda bersayap besar mirip reptil, persis seperti yang menarik kereta-kereta Hogwarts, dengan sayap-sayap hitam kasar terbentang lebar seperti sayap pterodactyl (burung purba), naik dari pepohonan seperti burung raksasa yang aneh. Kuda itu membumbung dalam lingkaran besar, lalu menukik kembali ke pepohonan. Seluruhnya terjadi sangat cepat, sehingga Harry hampir tidak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya, kecuali bahwa jantungnya berdebar gila-gilaan.
Pintu Kandang Burung Hantu membuka di belakangnya. Dia melompat terkejut dan, ketika berpaling dengan cepat, melihat Cho Chang yang sedang memegang sepucuk surat dan sebuah bingkisan di tangannya.
"Hai," kata Harry dengan otomatis.
"Oh... hai," katanya terengah-engah. "Aku tidak mengira ada orang yang sudah berada di atas sini sepagi ini... aku baru ingat lima menit yang lalu, ini hari ulang tahun ibuku."
Dia mengangkat bingkisannya.
"Benar," kata Harry. Otaknya seperti macet. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lucu dan menarik, tetapi ingatan tentang kuda bersayap yang mengerikan itu masih segar dalam pikirannya.
"Hari yang indah," katanya sambil memberi isyarat ke jendela. Isi tubuhnya sepertinya telah mengerut akibat rasa malu. Cuaca. Dia berbicara mengenai cuaca...
"Yeah," kata Cho, sambil memandang berkeliling mencari burung hantu yang sesuai. "Kondisi Quidditch yang bagus. Aku belum keluar selama seminggu, kalau kamu?"
"Belum," kata Harry.
Cho telah memilih salah satu burung hantu sekolah. Dia membujuknya turun ke lengannya di mana burung itu menjulurkan kaki dengan patuh sehingga dia bisa mengikatkan bingkisannya.
"Hei, apakah Gryffindor sudah punya Keeper baru?" tanyanya.
"Yeah," kata Harry. "Temanku Ron Weasley, kau kenal dia?"
"Si Pembenci-Tornado?" kata Cho agak dingin. "Apakah mainnya bagus?"
"Yeah," kata Harry. "Kukira begitu. Walau aku tidak melihat uji cobanya, aku sedang dalam detensi."
Cho memandang ke atas, bingkisan itu baru setengah terikat ke kaki burung hantu.
"Wanita Umbridge itu jahat," katanya dengan suara rendah. "Memberimu detensi hanya karena kamu mengatakan yang sebenarnya tentang bagaimana—bagaimana—bagaimana dia mati. Semua orang mendengar hal itu, sudah menyebar ke seluruh sekolah. Kamu benar-benar berani menghadapi dia seperti itu."
Isi tubuh Harry mengembang kembali begitu cepat sehingga dia merasa seolah-olah dia bisa melayang beberapa inci dari lantai yang bertebaran kotoran itu. Siapa yang peduli tentang kuda terbang bodoh, Cho mengira dia benar-benar berani. Sejenak, dia mempertimbangkan untuk memperlihatkan kepadanya secara tidak sengaja (yang disengaja) tangannya yang terluka selagi dia membantunya mengikat bingkisannya ke burung hantu... tetapi tepat saat pikiran menggetarkan itu muncul pintu Kandang Burung Hantu terbuka lagi.
Filch si penjaga sekolah masuk sambil mendesah ke dalam ruangan itu. Ada rona ungu di pipinya yang cekung dan penuh urat halus, daging di bawah dagunya bergetar dan rambut kelabunya yang tipis acak-acakan; dia jelas berlari ke sini. Mrs Norris berderap di belakangnya, sambil menatap ke atas kepada burung-burung hantu di atas kepala dan mengeong lapar. Ada gerakan-gerakan sayap yang tidak tenang dari atas dan seekor burung hantu cokelat besar mengatupkan paruhnya dengan gaya mengancam.
"Aha!" kata Filch, sambil mengambil langkah menuju Harry, pipinya yang berkantung bergetar karena marah. "Aku dapat bisikan bahwa kamu bermaksud memesan Bom Kotoran dalam jumlah besar."
Harry melipat lengannya dan menatap penjaga sekolah itu.
"Siapa yang memberitahumu aku sedang memesan Bom Kotoran?"
Cho memandang dari Harry kepada Filch, juga merengut, burung hantu di lengannya, capek berdiri dengan satu kaki, memberi uhu menegur, tetapi dia mengabaikannya.
"Aku punya sumber-sumberku," kata Filch dalam desis puas diri. "Sekarang serahkan apapun yang sedang kau kirim."
Sambil merasa sangat bersyukur dia tidak berlama-lama mengeposkan surat itu, Harry berkata, "Aku tidak bisa, sudah pergi."
"Pergi?" kata Filch, air mukanya berubah karena marah.
"Pergi," kata Harry dengan tenang.
Filch membuka mulutnya dengan marah, menggerak-gerakkan mulut tanpa suara selama beberapa detik, lalu menyisiri jubah Harry dengan matanya.
"Bagaimana aku tahu kau tidak menyimpannya di kantongmu?"
"Karena—"
"Aku melihatnya mengirimkan surat itu," kata Cho dengan marah.
Filch memberondong dia.
"Kau melihatnya—?"
"Itu benar, aku melihatnya," katanya dengan garang.
Ada jeda sejenak di mana Filch melotot kepada Cho dan Cho melotot balik, lalu si penjaga sekolah membalikkan badannya dan berjalan dengan kaki terseret menuju pintu. Dia berhenti dengan tangan di pegangan pintu dan memandang balik kepada Harry.
"Kalau kutemukan seendus saja Bom Kotoran—"
Dia terseok-seok menuruni tangga. Mrs Norris memandang penuh keinginan pada burung-burung hantu dan mengikuti dia.
Harry dan Cho saling berpandangan.
"Trims," Harry berkata.
"Tidak masalah," kata Cho, akhirnya mengikatkan bingkisan ke kaki burung hantu itu yang sebuah lagi, wajahnya sedikit merona merah muda. "Kau tidak sedang memesan Bom Kotoran, bukan?"
"Tidak," kata Harry.
"Aku ingin tahu mengapa dia mengira begitu?" katanya selagi dia membawa burung hantu itu ke jendela.
Harry mengangkat bahu. Dia sama bingungnya dengan Cho, walaupun anehnya hal itu tidak terlalu mengganggunya saat ini.
Mereka meninggalkan Kandang Burung Hantu bersama-sama. Di pintu masuk koridor yang menuju sayap barat kastil itu, Cho berkata, "Aku akan ke arah sini. Well, aku... jumpa lagi, Harry."
"Yeah... sampai jumpa."
Dia tersenyum kepadanya dan pergi. Harry berjalan terus, diam-diam merasa sangat gembira. Dia telah berhasil mengadakan percakapan penuh dengannya dan tidak mempermalukan dirinya sendiri sekalipun... kamu benar-benar berani menghadapi dia seperti itu... Cho telah menyebutnya berani... dia tidak membencinya karena selamat.
Tentu saja, dia dulu lebih memilih Cedric, Harry tahu itu... walaupun kalau dia mengajaknya ke Pesta sebelum Cedric, keadaan mungkin akan lain... dia tampak tulus menyesali bahwa dia harus menolak ketika Harry mengajaknya...
"Pagi," Harry berkata dengan ceria kepada Ron dan Hermione ketika dia bergabung dengan mereka di meja Gryffindor di Aula Besar.
"Kenapa kau terlihat sangat senang?" kata Ron sambil melirik Harry dengan terkejut.
"Erm... Quidditch nanti," kata Harry dengan gembira, sambil menarik sepiring besar daging asin dan telur ke arahnya.
"Oh... yeah..." kata Ron. Dia meletakkan potongan roti panggang yang sedang dimakannya dan meneguk jus labu banyak-banyak. Lalu dia berkata, "Dengar... kau tidak mau pergi lebih pagi denganku? Cuma untuk—er—memberiku sedikit praktek sebelum latihan? Supaya aku bisa, kau tahu, lebih siap."
"Yeah, OK," kata Harry.
"Lihat, kukira kalian tidak perlu begitu," kata Hermione dengan serius. "Kalian berdua benar-benar sudah ketinggalan PR seperti—"
Tetapi dia berhenti di tengah kalimat; pos pagi telah tiba dan, seperti biasa, Daily Prophet membumbung ke arahnya dalam paruh seekor burung hantu pekik, yang mendarat dekat dengan mangkuk gula dan mengulurkan kakinya. Hermione memasukkan satu Knut ke dalam kantong kulitnya, mengambil surat kabar itu, dan membaca cepat halaman depan dengan kritis selagi burung hantu itu lepas landas.
"Ada yang menarik?" kata Ron. Harry nyengir, tahu Ron ingin menjauhkannya dari subyek PR.
"Tidak," dia menghela napas, "cuma beberapa bantahan tentang pemain bas di Weird Sisters akan menikah."
Hermione membuka surat kabar itu dan menghilang ke baliknya. Harry mencurahkan dirinya untuk makan telur dan daging asin lagi. Ron sedang menatap ke atas ke jendela-jendela yang tinggi, terlihat sedikit khusyuk.
"Tunggu sebentar," kata Hermione tiba-tiba. "Oh tidak... Sirius!"
"Apa yang terjadi?" kata Harry, sambil merampas surat kabar itu dengan sangat kasar sehingga robek di bagian tengah, dia dan Hermione masing-masing memegang satu bagian.
"Kementerian Sihir telah menerima bisikan dari sumber yang dapat dipercaya bahwa Sirius Black, pembunuh massal terkenal... blah blah blah.. sekarang sedang bersembunyi di London!" Hermione membaca dari bagiannya dengan bisikan sedih.
"Lucius Malfoy aku akan bertaruh apapun," kata Harry dengan suara rendah penuh kemarahan. "Dia memang mengenali Sirius di peron..."
"Apa?" kata Ron, terlihat khawatir. "Kau tidak bilang—"
"Shh!" kata dua yang lain.
"... Kementerian memperingatkan komunitas penyihir bahwa Black sangat berbahaya... membunuh tiga belas orang... melarikan diri dari Azkaban... sampah yang biasa," Hermione menyimpulkan, sambil meletakkan bagian korannya dan memandang Harry dan Ron dengan takut. "Well, dia hanya tidak bisa meninggalkan rumah lagi, itu saja," bisiknya. "Dumbledore memang memperingatkannya tidak berbuat begitu."
Harry memandang dengan murung potongan Prophet yang telah dirobeknya. Sebagian besar dari halaman itu dicurahkan untuk iklan Jubah Madam Malkins untuk Segala Kesempatan, yang tampaknya sedang mengadakan obral.
"Hei!" katanya, sambil meratalkannya sehingga Ron dan Hermione bisa melihatnya. "Lihat ini!"
"Aku sudah punya semua jubah yang kuinginkan," kata Ron.
"Bukan," kata Harry. "Lihat... berita kecil di sini..."
Ron dan Hermione membungkuk lebih dekat untuk membacanya; benda itu hampir tidak sepanjang satu inci dan terletak tepat di dasar sebuah kolom. Diberi judul:
MASUK TANPA IZIN DI KEMENTERIAN
Sturgis Podmore, 38, dari Laburnum Gardens nomor dua, Clapham, telah muncul di depan Wizengamot atas tuduhan masuk tanpa izin dan percobaan perampokan di Kementerian Sihir pada tanggal 31 Agustus. Podmore ditangkap oleh penyihir penjaga Kementerian Sihir Eric Munch, yang menemukannya mencoba memaksa masuk ke pintu dengan penjagaan ketat pada pukul satu pagi. Podmore, yang menolak berbicara untuk pembelaan dirinya, dinyatakan bersalah atas kedua tuntutan tersebut dan dihukum enam bulan di Azkaban.
"Sturgis Podmore?" kata Ron lambat-lambat. "Dia pria yang terlihat seperti kepalanya telah lalang, bukan? Dia salah satu dari Orde—"
"Ron, shh!" kata Hermione, sambil memandang ke sekitar mereka dengan ketakutan.
"Enam bulan di Azkaban!" bisik Harry, terguncang. "Hanya karena mencoba melewati sebuah pintu!"
"Jangan bodoh, bukan cuma karena mencoba melewati sebuah pintu. Apa yang sedang dilakukannya di Kementerian Sihir pada pukul satu pagi?" Hermione berkata cepat.
"Menurutmu dia sedang melakukan sesuatu untuk Orde?" Ron bergumam.
"Tunggu sebentar..." kata Harry lambat-lambat. "Sturgis seharusnya datang dan mengantar kita, ingat?"
Dua yang lain memandangnya.
"Yeah, dia seharusnya menjadi bagian dalam pengawalan kita pergi ke King's Cross, ingat? Dan Moody sangat jengkel karena dia tidak muncul; jadi dia tidak mungkin sedang mengerjakan tugas untuk mereka, bukan?"
"Well, mungkin mereka tidak berharap dia tertangkap," kata Hermione.
"Mungkin jebakan!" Ron berseru dengan bersemangat. "Tidak—dengarkan!" dia melanjutkan, sambil merendahkan suaranya dengan dramatis melihat tampang mengancam Hermione. "Kementerian mencurigai dia salah satu dari kelompok Dumbledore jadi—aku tak tahu—mereka memikatnya ke Kementerian, dan dia tidak sedang mencoba melewati pintu sama sekali! Mungkin mereka cuma mengarang sesuatu untuk mendapatkan dia!"
Ada jeda selagi Harry dan Hermione mempertimbangkan ini. Harry mengira ini tampak terlalu berlebihan. Hermione, di sisi lain, terlihat agak terkesan.
"Tahukah kau, aku tidak akan terkejut sama sekali kalau itu benar."
Dia melipat bagian surat kabarnya sambil berpikir. Ketika Harry meletakkan pisau dan garpunya, dia tampak keluar dari lamunan.
"Benar, well, kukira pertama kita harus mengerjakan esai untuk Sprout mengenai semak pupuk-sendiri dan kalau kita beruntung kita akan bisa memulai Mantra Inanimatus Conjurus McGonagall sebelum makan siang..."
Harry merasakan sedikit rasa bersalah ketika memikirkan tumpukan pekerjaan rumah yang sedang menantinya di atas, tapi langit biru cerah, dan dia belum naik Firebolt-nya selama seminggu...
"Maksudku, kita bisa mengerjakannya malam ini," kata Ron, selagi dia dan Harry berjalan menyusuri halaman yang landai menuju lapangan Quidditch, sapu mereka di atas bahu, dan dengan peringatan menakutkan Hermione bahwa mereka akan gagal di OWL mereka yang masih terngiang di telinga mereka. "And kita punya besok. Dia terlalu tegang tentang pekerjaan, itu masalahnya..." Ada jeda dan dia menambahkan, dengan nada sedikit lebih cemas, "Apa kaukira dia sungguh-sungguh ketika dia bilang kita tidak boleh menyalin darinya?"
"Yeah," kata Harry. "Tetap saja, ini juga penting, kita harus berlatih kalau kita mau tetap berada dalam tim Quidditch..."
"Yeah, itu benar," kata Ron, dengan nada berbesar hati. "And kita punya banyak waktu untuk melakukan itu semua..."
Selagi mereka mendekati lapangan Quidditch, Harry memandang sekilas ke sebelah kanannya di mana pohon-pohon Hutan Terlarang berayun dengan suram. Tak ada yang terbang keluar dari pepohonan itu; langit kosong kecuali beberapa burung hantu di kejauhan yang sedang mengitari menara Kandang Burung Hantu. Dia sudah punya cukup yang dikhawatirkan; kuda terbang itu tidak akan membahayakannya; dia mendorongnya keluar dari pikirannya.
Mereka mengumpulkan bola-bola dari lemari di kamar ganti dan mulai bekerja, Ron menjaga ketiga gawang tinggi, Harry bermain sebagai Chaser dan mencoba membawa Quaffle melewati Ron. Harry berpikir Ron cukup bagus; dia menahan tiga perempat gol yang diusahakan Harry untuk melewatinya dan bermain semakin bagus semakin lama mereka berlatih. Setelah beberapa jam mereka kembali ke kastil untuk makan siang—di mana Hermione memperjelas bahwa menurutnya mereka tidak bertanggung jawab—lalu kembali ke lapangan Quidditch untuk sesi latihan sebenarnya. Semua anggota tim mereka kecuali Angelina sudah berada di kamar ganti ketika mereka masuk.
"Baik-baik saja, Ron?" kata George sambil berkedip kepadanya.
"Yeah," kata Ron, yang lebih pendiam dan semakin pendiam sepanjang jalan ke lapangan.
"Siap pamer kepada kami semua, Prefek Ickle?" kata Fred, muncul dengan rambut kusut dari bagian leher jubah Quidditch-nya, dengan seringai agak licik di wajahnya.
"Diamlah," kata Ron, dengan wajah kaku, sambil menarik jubah timnya sendiri untuk pertama kalinya. Jubah itu pas sekali untuknya mengingat dulu milik Oliver, yang bahunya agak lebar.
"OK, semuanya," kata Angelina, masuk dari kantor Kapten, sudah berganti pakaian. "Ayo ke sana; Alicia dan Fred, kalau kalian bisa membawa peti bola untuk kami. Oh, dan ada sejumlah orang di luar sana yang mengamati tapi aku mau kalian mengabaikan mereka, oke?"
Sesuatu dalam suaranya yang seharusnya biasa membuat Harry mengira dia mungkin tahu siapa penonton tidak diundang itu, dan jelas saja, ketika mereka meninggalkan ruang ganti ke lapangan yang penuh sinar matahari cerah lapangan itu diliputi ejekan dan cemoohan dari tim Quidditch Slytherin dan beragam pengikut, yang berkelompok di tengah-tengah tribun yang kosong dan yang suaranya menggema dengan keras ke sekeliling stadium.
"Apa yang sedang dinaiki Weasley?" Malfoy berseru dengan suara mengejeknya yang dipanjang-panjangkan. "Kenapa ada orang yang mau menaruh mantra terbang ke kayu tua berjamur seperti itu?"
Crabbe, Goyle dan Pansy Parkinson tertawa terbahak-bahak dan menjerit dengan tawa. Ron menaiki sapunya dan naik dari tanah dan Harry mengikutinya sambil mengamati telinganya berubah menjadi merah dari belakang.
"Abaikan mereka," katanya, sambil menambah kecepatan untuk mengejar Ron, "kita akan lihat siapa yang tertawa setelah kita bertanding dengan mereka..."
"Persis sikap yang kumau, Harry," kata Angelina menyetujui, sambil membumbung di sekitar mereka dengan Quaffle di bawah lengannya dan melambat untuk melayang di tempat di depan tim udaranya. "OK, semuanya, kita akan mulai dengan beberapa pas hanya untuk pemanasan, seluruh tim tolong—"
"Hei, Johnson, ada apa dengan gaya rambut itu?" teriak Pansy Parkinson dari bawah. "Kenapa ada orang yang mau terlihat seperti mereka punya cacing keluar dari kepala mereka?"
Angelina menyapukan rambut panjangnya yang dikepang kecil-kecil dari wajahnya dan meneruskan dengan tenang, "Kalau begitu berpencar, dan mari lihat apa yang bisa kita lakukan..."
Harry mundur menjauh dari yang lain ke sisi jauh dari lapangan itu. Ron mundur menuju gawang di seberang. Angelina mengangkat Quaffle dengan satu tangan dan melemparkannya keras-keras kepada Fred, yang memberikan kepada George, yang memberikan kepada Harry, yang memberikan kepada Ron, yang menjatuhkannya.
Anak-anak Slytherin, dipimpin oleh Malfoy, meraung dan memekik dengan tawa. Ron, yang telah meluncur ke tanah untuk menangkap Quaffle itu sebelum mendarat, menghentikan tukikannya dengan tidak teratur, sehingga dia selip ke samping di sapunya, dan kembali ke tinggi permainan sambil merona. Harry melihat Fred dan George saling berpandangan, tetapi tidak biasanya tak satupun dari mereka mengatakan apa-apa, sehingga dia bersyukur.
"Berikan, Ron," seru Angelina, seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Ron melemparkan Quaffle itu kepada Alicia, yang memberikan kembali kepada Harry, yang memberikan kepada George...
"Hei, Potter, bagaimana rasanya bekas lukamu?" seru Malfoy. "Yakin kau tidak perlu berbaring? Pastilah, apa, sudah seminggu penuh sejak kau berada di sayap rumah sakit, itu rekor bagimu, bukan?"
George memberikan bola kepada Angelina; dia memberikan balik kepada Harry, yang tidak menduga, tetapi menangkapnya dengan ujung-ujung jarinya dan memberikan dengan cepat kepada Ron, yang menyerbunya tetapi gagal karena beberapa inci.
"Ayolah, Ron," kata Angelina dengan jengkel, ketika dia menukik ke tanah lagi, mengejar Quaffle itu. "Pusatkan perhatian."
Sulit mengatakan apakah wajah Ron atau Quaffle itu lebih merah ketika dia kembali lagi ke tinggi permainan. Malfoy dan tim Slytherin lainnya sedang melolong tertawa.
Pada usaha ketiganya, Ron menangkap Quaffle itu; mungkin karena lega dia memberikannya dengan sangat antusias sehingga bola itu membumbung lurus melalui tangan-tangan terentang Katie dan menghantamnya dengan keras di wajah.
"Sori!" Ron mengerang, sambil meluncur ke depan untuk melihat apakah dia telah mengakibatkan luka.
"Kembali ke posisi, dia baik-baik saja!" gertak Angelina. "Tapi karena kau memberikan kepada kawan satu tim, jangan mencoba menjatuhkannya dari sapunya, bisa 'kan? Kita punya Bludger untuk itu!"
Hidung Katie berdarah. Di bawah, anak-anak Slytherin mengentakkan kaki mereka dan mengejek. Fred dan George mendatangi Katie.
"Ini, makan ini," Fred menyuruhnya, sambil menyerahkan sesuatu yang kecil dan ungu dari kantongnya, "ini akan membersihkannya dalam waktu singkat."
"Baiklah," seru Angelina, "Fred, George, pergi dan ambil pemukul kalian dan sebuah Bludger. Ron, pergi ke gawang. Harry, lepaskan Snitch ketika kubilang. Kita akan membidik gawang Ron, tentu saja."
Harry meluncur mengikuti si kembar untuk mengambil Snitch.
"Ron membuat dirinya tampak seperti orang tolol, bukan?" gumam George, ketika mereka bertiga mendarat di peti yang berisi bola-bola itu dan membukanya untuk mengeluarkan salah satu Bludger dan Snitch.
"Dia cuma gugup," kata Harry, "dia baik-baik saja ketika aku berlatih dengannya pagi ini."
"Yeah, well, kuharap dia tidak mencapai puncak terlalu cepat," kata Fred dengan murung.
Mereka kembali ke udara. Ketika Angelina meniup peluitnya, Harry melepaskan Snitch dan Fred dan George membiarkan Bludger terbang. Semenjak itu, Harry hampir tidak sadar apa yang sedang dilakukan yang lainnya. Tugasnya adalah menangkap kembali bola keemasan kecil yang terbang ke sana kemari yang berharga seratus lima puluh poin bagi tim Seeker tersebut dan melakukan hal ini membutuhkan kecepatan dan keahlian yang tinggi. Dia menambah kecepatan, bergelung dan mengelak dari para Chaser, udara musim gugur yang hangat memecut wajahnya, dan teriakan-teriakan anak-anak Slytherin di kejauhan meraung sama sekali tidak berarti di telinganya... tapi terlalu cepat, peluit membuatnya berhenti lagi.
"Stop—stop—STOP!" teriak Angelina. "Ron—kamu tidak melindungi pos tengahmu!"
Harry memandang kepada Ron, yang sedang melayang di depan gawang kiri, meninggalkan dua yang lain sepenuhnya tidak terjaga.
"Oh... sori..."
"Kau terus bergerak ke sekitar sementara kamu memperhatikan para Chaser!" kata Angelina. "Tetaplah di tengah posisi sampai kau harus pindah untuk menjaga gawang, atau kitari gawang, tapi jangan terlalu condong ke satu sisi, begitulah caranya kau membiarkan tiga gol terakhir masuk!"
"Sori..." Ron mengulangi, wajahnya yang merah berkilat seperti menara api di langit biru cerah itu.
"And Katie, tidak bisakah kau lakukan sesuatu tentang mimisan itu?"
"Terus saja memburuk!" kata Katie dengan parau, sambil mencoba memutuskan alirannya dengan lengan bajunya.
Harry memandang kepada Fred, yang terlihat cemas dan memeriksa kantongnya. Dia melihat Fred menarik keluar sesuatu yang ungu, memeriksanya sejenak dan lalu memandang kepada Katie, jelas terperanjat.
"Well, mari coba lagi," kata Angelina. Dia mengabaikan anak-anak Slytherin, yang sekarang telah menyanyikan "Gryffindor adalah pecundang, Gryffindor adalah pecundang," tetapi walau begitu ada kekakuan tertentu dalam cara duduknya di sapu.
Kali ini mereka belum lagi terbang selama tiga menit ketika peluit Angelina berbunyi. Harry, yang baru saja melihat Snitch mengitari tiang gawang seberang, menarik diri sambil merasa sedih.
"Apa sekarang?" katanya dengan tidak sabar kepada Alicia, yang paling dekat.
"Katie," katanya singkat.
Harry berpaling dan melihat Angelina, Fred dan George semuanya terbang secepat mereka bisa menuju Katie. Harry and Alicia bergegas ke arahnya juga. Jelas Angelina telah menghentikan latihan tepat waktu, Katie sekarang seputih kapur dan penuh darah.
"Dia perlu sayap rumah sakit," kata Angelina.
"Kami akan membawanya," kata Fred. "Dia—er—mungkin telah salah menelan Kacang Darah—"
"Well, tak ada gunanya melanjutkan tanpa Beater dan seorang Chaser," kata Angelina dengan murung ketika Fred dan George meluncur menuju kastil sambil menyokong Katie di antara mereka. "Ayolah, mari pergi dan berganti pakaian."
Anak-anak Slytherin terus bernyanyi ketika mereka kembali ke ruang ganti.
"Bagaimana latihannya?" tanya Hermione agak dingin setengah jam kemudian, ketika Harry dan Ron memanjat melalui lubang potret ke dalam ruang duduk Gryffindor.
"Latihannya—" Harry mulai.
"Benar-benar buruk," kata Ron dengan suara hampa, sambil membenamkan diri ke sebuah kursi di samping Hermione. Dia memandang kepada Ron dan kebekuannya tampak mencair.
"Well, itu baru latihan pertamamu," katanya menenangkan, "perlu waktu untuk—"
"Siapa bilang aku yang membuatnya buruk?" sambar Ron.
"Tak seorangpun," kata Hermione, terlihat terkejut, "kukira—"
"Kaukira aku pasti sampah?"
"Tidak, tentu saja tidak! Lihat, kau bilang buruk jadi aku hanya—"
"Aku akan mulai mengerjakan beberapa PR," kata Ron dengan marah dan mengentakkan kaki ke tangga menuju kamar anak laki-laki dan menghilang dari pandangan. Hermione berpaling kepada Harry.
"Apakah mainnya buruk?"
"Tidak," kata Harry dengan setia.
Hermione mengangkat alisnya.
"Well, kukira dia bisa bermain lebih bagus," Harry bergumam, "tapi baru sesi latihan pertama, seperti yang kau bilang..."
Baik Harry maupun Ron tampaknya tidak membuat banyak kemajuan dengan pekerjaan rumah mereka malam itu. Harry tahu Ron terlalu disibukkan oleh betapa buruknya penampilannya dalam latihan Quidditch itu dan dia sendiri mendapat kesulitan mengeluarkan nyanyian "Gryffindor adalah pecundang" dari kepalanya.
Mereka menghabiskan seluruh hari Minggu di ruang duduk, terbenam dalam buku-buku mereka sementara ruangan di sekitar mereka terisi, lalu kosong. Itu adalah hari lain yang cerah dan indah dan kebanyakan teman Gryffindor mereka menghabiskan hari itu di halaman, menikmati apa yang mungkin menjadi salah satu di antara sinar matahari terakhir tahun itu. Malamnya, Harry merasa seolah-olah seseorang telah memukuli otaknya ke bagian dalam tengkoraknya.
"Kau tahu, kita mungkin seharusnya mencoba menyelesaikan lebih banyak PR sepanjang minggu," Harry bergumam kepada Ron, ketika mereka akhirnya menaruh ke samping esai panjang Profesor McGonagall mengenai Mantra Inanimatus Conjurus dan berpaling dengan menderita ke esai Profesor Sinistra yang sama panjang dan sulitnya mengenai bulan-bulan Jupiter yang banyak.
"Yeah," kata Ron, sambil menggosok matanya yang agak merah dan melemparkan potongan perkamen rusaknya yang kelima ke dalam api di samping mereka. "Dengar... apakah kita bertanya saja kepada Hermione kalau kita boleh melihat apa yang telah dikerjakannya?"
Harry memandang sekilas ke arahnya, dia sedang duduk dengan Crookshanks di pangkuannya dan berbincang-bincang dengan riang kepada Ginny selagi sepasang jarum rajut berkelip di tengah udara di depannya, sekarang sedang merajut sepasang kaus kaki peri yang tidak berbentuk.
"Tidak," katanya dengan berat, "kau tahu dia tidak akan memperbolehkan kita."
And begitulah mereka bekerja terus sementara langit di luar jendela menjadi semakin gelap. Lambat laun, kerumunan orang di ruang duduk mulai menipis lagi. Pada pukul sebelas setengah, Hermione berjalan ke arah mereka, sambil menguap.
"Hampir selesai?"
"Tidak," kata Ron dengan singkat.
"Bulan terbesar Jupiter adalah Ganymede, bukan Callisto," katanya menunjuk melewati bahu Ron ke sebuah baris di esai Astronominya, "dan Io yang punya gunung-gunung berapi."
"Trims," geram Ron, sambil menggores kalimat-kalimat yang salah.
"Sori, aku hanya—"
"Yeah, well, kalau kau datang ke sini hanya untuk mengkritik—"
"Ron—"
"Aku tidak punya waktu untuk mendengar ceramah, oke, Hermione, aku sudah tenggelam sampai leherku di sini—"
"Tidak—lihat!"
Hermione sedang menunjuk ke jendela terdekat. Harry dan Ron keduanya memandang ke sana. Seekor burung hantu pekik yang indah sedang berdiri di ambang jendela, menatap ke dalam ruangan kepada Ron.
"Bukankah itu Hermes?" kata Hermione, terdengar heran.
"Astaga, memang!" kata Ron pelan, sambil melemparkan pena bulunya dan bangkit. "Untuk apa Percy menulis surat kepadaku?"
Dia menyeberang ke jendela dan membukanya; Hermes terbang masuk, mendarat ke esai Ron dan menjulurkan kakinya yang berikatkan surat. Ron mengambil surat itu dan burung hantu itu berangkat seketika, meninggalkan bekas kaki bertinta di gambar bulan Io milik Ron.
"Ini jelas tulisan tangan Percy," kata Ron, sambil terbenam kembali ke dalam kursinya dan menatap kata-kata di bagian luar perkamen itu: Ronald Weasley, Asrama Gryffindor, Hogwarts. Dia memandang kedua orang yang lain. "Bagaimana menurut kalian?"