×

Мы используем cookie-файлы, чтобы сделать работу LingQ лучше. Находясь на нашем сайте, вы соглашаетесь на наши правила обработки файлов «cookie».

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 18: Dumbledore's… – Текст для чтения

Buku 5: Harry Potter dan Orde Pheonix, Bab 18: Dumbledore's Army (2/2)

Средний 1 Урок индонезийского для практики чтения

Начать изучать этот урок прямо сейчас

Bab 18: Dumbledore's Army (1/2)

Mereka melakukannya, berbalik tajam di jendela tepat di sebelah bidang tembok kosong itu, lalu di vas bunga seukuran orang di ujung yang lain. Ron sudah memicingkan mata untuk berkonsentrasi; Hermione sedang membisikkan sesuatu dengan suara rendah; tinju Harry terkepal sementara dia menatap ke depannya.

"Kami perlu suatu tempat untuk belajar bertarung..." pikirnya. "Beri saja kami tempat untuk berlatih... suatu tempat di mana mereka tidak bisa menemukan kami..."

"Harry!" kata Hermione dengan tajam, selagi mereka berbalik setelah berjalan lewat ketiga kalinya.

Sebuah pintu yang terpelitur halus telah muncul di tembok itu. Ron sedang menatapnya, terlihat agak waspada. Harry mengulurkan tangan, meraih pegangan kuningannya, menarik pintu hingga terbuka dan memimpin jalan ke dalam sebuah ruangan luas yang diterangi obor-obor yang berkelap-kelip seperti yang menerangi ruang bawah tanah delapan lantai di bawah.

Di dinding berbaris rak-rak buku kayu dan menggantikan kursi ada bantal-bantal sutera besar di lantai. Serangkaian rak di ujung jauh ruangan itu menyimpan instrumen-instrumen seperti Teropong Curiga, Sensor Rahasia, dan sebuah Cermin-Musuh yang besar dan retak yang Harry yakin pernah tergantung, tahun sebelumnya, di kantor Moody palsu.

"Ini akan bagus ketika kita berlatih Membekukan," kata Ron dengan antusias, sambil menyolok salah satu bantal dengan kakinya.

"Dan lihat saja buku-buku ini!" kata Hermione dengan bersemangat, sambil menggerakkan jari sepanjang punggung-punggung buku besar bersampul kulit. "Suatu Ikhtisar Kutukan-Kutukan Umum dan Kontra-Tindakannya... Mengakali Ilmu Hitam... Mantera Pertahanan Diri... wow..." Dia memandang Harry, wajahnya berseri-seri, dan Harry melihat bahwa kehadiran ratusan buku akhirnya telah meyakinkan Hermione bahwa apa yang sedang mereka lakukan itu benar. "Harry, ini menakjubkan, semua yang kita perlukan tersedia di sini!"

Dan tanpa kegaduhan lagi dia mengambil Kutukan untuk yang Dikutuk dari raknya, merosot ke bantal terdekat dan mulai membaca.

Ada ketukan lembut di pintu. Harry memandang berkeliling. Ginny, Neville, Lavender, Parvati, dan Dean telah tiba.

"Whoa," kata Dean, sambil menatap sekeliling, terkesan. "Tempat apa ini?"

Harry mulai menjelaskan, tetapi sebelum dia selesai lebih banyak orang lagi tiba dan dia harus mulai dari awal lagi. Ketika jam delapan tiba, semua bantal sudah ditempati. Harry bergerak menyeberang ke pintu dan memutar kunci yang menonjol dari gemboknya; kunci itu berbunyi klik keras yang memuaskan dan semua orang terdiam, sambil memandangnya. Hermione memberi tanda dengan hati-hati pada halaman Kutukan untuk yang Dikutuknya dan meletakkan buku itu di samping.

"Well," kata Harry, agak gugup. "Ini adalah tempat yang kami temukan untuk sesi-sesi latihan, dan kalian—er—jelas menganggapnya OK."

"Tempat ini fantastis!" kata Cho, dan beberapa orang menggumamkan persetujuan mereka.

"Aneh," kata Fred sambil merengut ke sekeliling. "Kami pernah sekali bersembunyi dari Filch di dalam sini, ingat, George? Tapi dulu cuma sebuah lemari sapu."

"Hei, Harry, benda apa ini?" tanya Dean dari bagian belakang ruangan itu, sambil memberi tanda pada Teropong Curiga dan Cermin-Musuh.

"Detektor Kegelapan," kata Harry sambil melangkah di antara dua bantal untuk meraihnya. "Pada dasarnya mereka semua memperlihatkan ketika penyihir Gelap atau musuh ada di sekitar, tapi kalian tidak mau terlalu bergantung pada benda-benda ini, mereka bisa dikibuli..."

Dia menatap sejenak ke dalam Cermin-Musuh yang retak; figur-figur seperti bayangan sedang bergerak-gerak di dalamnya, walaupun tidak ada yang bisa dikenali. Dia memalingkan punggungnya.

"Well, aku telah memikirkan tentang jenis hal yang harus kita lakukan dulu dan—er—" Dia memperhatikan sebuah tangan terangkat. "Apa, Hermione?"

"Kukira kita harus memilih seorang pemimpin," kata Hermione.

"Harry pemimpinnya," kata Cho seketika, sambil memandang Hermione seolah-olah dia gila.

Perut Harry bersalto lagi.

"Ya, tapi kukira kita harus memberi suara dengan semestinya," kata Hermione, tidak gentar. "Membuatnya formal dan memberinya kekuasaan. Jadi—semua orang yang menganggap Harry harus menjadi pemimpin kita?"

Semua orang mengangkat tangan mereka, bahkan Zacharias Smith, walaupun dia melakukannya dengan setengah hati.

"Er—benar, trims," kata Harry, yang bisa merasa wajahnya terbakar. "Dan—apa, Hermione?"

"Aku juga mengira kita harus mempunyai nama," katanya dengan cerah, tangannya masih di udara. "Akan memajukan perasaan semangat tim dan kesatuan, bukankah begitu menurut kalian?"

"Bisakah kita menjadi Liga Anti-Umbridge?" kata Angelina penuh harap.

"Atau Kelompok Menteri Sihir adalah Orang Pandir?" saran Fred.

"Aku sedang memikirkan," kata Hermione sambil merengut kepada Fred, "lebih kepada sebuah nama yang tidak memberitahu semua orang apa yang sedang kita rencanakan, sehingga kita bisa mengacu kepadanya dengan aman di luar pertemuan."

"Defence Association—Asosiasi Pertahanan?" kata Cho. "DA singkatannya, sehingga tak seorang pun tahu apa yang sedang kita bicarakan?"

"Yeah, DA bagus," kata Ginny. "Cuma buatlah jadi Dumbledore's Army—Tentara Dumbledore, karena itulah hal yang paling ditakuti Kementerian, bukan?"

Ada banyak gumaman menghargai dan tawa mendengar hal ini.

"Semua yang setuju dengan DA?" kata Hermione sok memerintah, sambil berlutut di bantalnya untuk menghitung. "Itu mayoritas—mosi disetujui!"

Dia menyematkan potongan perkamen dengan semua tanda tangan mereka di atasnya ke dinding dan menulis di bagian atas dalam huruf-huruf besar:

DUMBLEDORE'S ARMY

"Baik," kata Harry, ketika dia sudah duduk lagi, "kalau begitu apakah kita akan mulai berlatih? Aku sedang berpikir, hal pertama yang harus kita lakukan adalah Expelliarmus, kalian tahu, Mantera Pelucut Senjata. Aku tahu itu cukup dasar tapi kudapati sangat berguna—"

"Oh, tolong," kata Zacharias Smith, sambil menggulirkan matanya dan melipat lengannya. "Kukira Expelliarmus tidak akan benar-benar membantu kita melawan Kau-Tahu-Siapa, bukan?"

"Aku pernah menggunakannya melawan dia," kata Harry pelan. "Itu menyelamatkan hidupku di bulan Juni."

Smith membuka mulutnya dengan tolol. Sisa ruangan itu sangat diam.

"Tapi kalau kau mengira itu di bawahmu, kau boleh pergi," Harry berkata.

Smith tidak bergerak. Tidak juga yang lain.

"OK," kata Harry, mulutnya sedikit lebih kering daripada biasa dengan semua mata menatapnya, "menurutku kita harus dibagi menjadi pasangan-pasangan dan berlatih."

Terasa sangat aneh memberikan instruksi, tapi tidak seaneh melihatnya diikuti. Semua orang bangkit seketika dan membentuk pasangan. Bisa diramalkan, Neville tertinggal tanpa rekan.

"Kau bisa berlatih denganku," Harry memberitahunya. "Baik—pada hitungan ketiga, kalau begitu—satu, dua tiga—"

Ruangan itu mendadak penuh teriakan Expelliarmus. Tongkat-tongkat beterbangan ke segala arah; mantera-mantera yang meleset mengenai buku-buku di rak dan membuatnya terbang ke udara. Harry terlalu cepat bagi Neville, yang tongkatnya berputar keluar dari genggamannya, menabrak langit-langit dengan percikan bunga api dan mendarat dengan berkelontang di atas sebuah rak buku, dari mana Harry mengambilnya dengan Mantera Pemanggil. Sambil memandang sekilas ke sekitarnya, dia mengira dia benar menyarankan mereka berlatih dasar-dasarnya terdahulu; ada banyak mantera jelek yang terjadi; banyak orang tidak berhasil Melucuti Senjata lawannya sama sekali, tetapi hanya menyebabkan mereka melompat mundur beberapa langkah atau mengerenyit ketika mantera lemah melewati mereka.

"Expelliarmus!" kata Neville, dan Harry, tidak sadar, merasakan tongkatnya terbang dari tangannya.

"AKU BERHASIL!" kata Neville dengan gembira. "Aku belum pernah melakukannya sebelumnya—AKU BERHASIL!"

"Bagus!" kata Harry menguatkan, memutuskan tidak menunjukkan bahwa dalam duel sebenarnya lawan Neville tidak mungkin menatap ke arah berlawanan dengan tongkat dipegang kendur di sisi tubuhnya. "Dengar, Neville, bisakah kau bergantian berlatih dengan Ron dan Hermione selama beberapa menit sehingga aku bisa berjalan berkeliling dan melihat bagaimana yang lain?"

Harry pindah ke tengah ruangan. Sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada Zacharias Smith. Setiap kali dia membuka mulutnya untuk melucuti Anthony Goldstein, tongkatnya sendiri akan terbang dari tangannya, walau begitu Anthony kelihatannya tidak membuat suara. Harry tidak perlu mencari jauh untuk menyelesaikan misteri itu. Fred dan George berada beberapa kaki dari Smith dan bergantian menunjuk tongkat mereka ke punggungnya.

"Sori, Harry," kata George buru-buru, ketika Harry melihatnya. "Tidak bisa menahan diri."

Harry berjalan mengitari pasangan-pasangan lain, mencoba mengoreksi mereka yang salah menggunakan mantera. Ginny berpasangan dengan Michael Corner; dia melakukannya dengan sangat baik, sementara Michael sangat buruk atau tidak mau mengutuknya. Ernie Macmillan melambaikan tongkatnya dengan berlebihan, memberikan rekannya waktu untuk waspada; kakak-beradik Creevey antusias tetapi tidak menentu dan paling bertanggung jawab atas semua buku yang berlompatan keluar dari rak di sekitar mereka; Luna Lovegood sama buruknya, terkadang mengakibatkan tongkat Justin Finch-Fletchley berputar keluar dari genggamannya, kali lain hanya menyebabkan rambutnya berdiri.

"OK, stop!" Harry berteriak. "Stop! STOP!"

Aku perlu peluit, pikirnya, dan segera melihat satu yang tergeletak di atas barisan buku terdekat. Dia mengambilnya dan meniup keras. Semua orang menurunkan tongkat mereka.

"Itu tidak buruk," kata Harry, "tapi jelas ada ruang untuk perbaikan." Zacharias Smith melotot kepadanya. "Ayo coba lagi."

Dia bergerak mengitari ruangan itu lagi, sambil berhenti di sana-sini untuk memberi saran. Pelan-pelan, penampilan secara umum membaik.

Dia menghindari berada dekat Cho dan temannya sebentar, tapi setelah berjalan mengitari semua pasangan lain dalam ruangan itu dua kali merasa dia tidak bisa mengabaikan mereka lebih lama lagi.

"Oh tidak," kata Cho agak sembrono ketika dia mendekat. "Expelliarmious! Maksudku, Expellimellius! Aku—oh, sori, Marietta!"

Ujung baju temannya yang berambut keriting terbakar; Marietta memadamkannya dengan tongkatnya sendiri dan melotot kepada Harry seakan-akan itu salahnya.

"Kau membuatku gugup, aku lumayan bisa sebelumnya!" Cho memberitahu Harry dengan sedih.

"Itu sangat bagus," Harry berbohong, tetapi ketika Cho mengangkat alisnya dia berkata, "Well, tidak, itu jelek, tapi aku tahu kau bisa melakukannya dengan benar, aku mengamati dari sana."

Dia tertawa. Temannya Marietta memandangi mereka dengan agak masam dan berpaling.

"Jangan pedulikan dia," Cho bergumam. "Sebenarnya dia tidak mau berada di sini tetapi aku membuatnya datang bersamaku. Orang tuanya melarang dia melakukan apa pun yang mungkin membuat Umbridge marah. Kau lihat—ibunya bekerja pada Kementerian."

"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Harry.

"Well, mereka juga melarangku berada di sisi yang salah dengan Umbridge," kata Cho, sambil bersikap bangga. "Tapi kalau mereka mengira aku tidak akan melawan Kau-Tahu-Siapa setelah apa yang terjadi dengan Cedric—"

Dia berhenti, terlihat agak bingung, dan keheningan canggung timbul di antara mereka; tongkat Terry Boot berdesing melewati telinga Harry dan mengenai Alicia Spinnet dengan keras di hidung.

"Well, ayahku sangat mendukung tindakan anti-Kementerian apa pun!" kata Luna Lovegood dengan bangga persis di belakang Harry, jelas dia telah mencuri dengar percakapannya sementara Justin Finch-Fletchley berusaha melepaskan dirinya dari jubah yang telah terbang di atas kepalanya. "Dia selalu bilang dia akan percaya apa pun tentang Fudge; maksudku, jumlah goblin yang sudah dibunuh Fudge! Dan tentu saja dia menggunakan Departemen Misteri untuk mengembangkan racun-racun mengerikan, yang diam-diam diberikannya kepada siapa pun yang tidak setuju dengannya. Dan lalu ada Umgubular Slashkilternya—"

"Jangan tanya," Harry bergumam kepada Cho ketika dia membuka mulutnya, terlihat bingung. Dia terkikik.

"Hei, Harry," Hermione berseru dari ujung lain ruangan itu, "sudahkah kau mengecek waktunya?"

Dia memandang jam tangannya dan terkejut melihat sudah jam sembilan tiga puluh, yang berarti mereka harus kembali ke ruang duduk mereka segera atau berisiko tertangkap dan dihukum oleh Filch karena melanggar aturan. Dia meniup peluitnya; semua orang berhenti meneriakkan "Expelliarmus" dan beberapa tongkat terakhir berdentang jatuh ke lantai.

"Well, itu cukup bagus," kata Harry, "tapi kita kelewatan, kita sebaiknya sampai di sini dulu. Waktu yang sama, tempat yang sama minggu depan?"

"Lebih cepat!" kata Dean Thomas dengan bersemangat dan banyak orang mengangguk setuju.

Namun, Angelina berkata dengan cepat, "Musim Quidditch akan dimulai, kita perlu latihan tim juga!"

"Kalau begitu, katakanlah Rabu depan," kata Harry, "kita bisa memutuskan pertemuan tambahan nanti. Ayolah, kita sebaiknya bergegas."

Dia menarik keluar Peta Perampok lagi dan memeriksanya dengan hati-hati untuk mencari tanda-tanda guru di lantai tujuh. Dia membiarkan mereka semua pergi tiga-tiga dan empat-empat, sambil mengamati titik-titik kecil mereka dengan cemas untuk melihat bahwa mereka kembali ke asrama mereka dengan selamat: anak-anak Hufflepuff ke koridor bawah tanah yang juga mengarah ke dapur; anak-anak Ravenclaw ke sebuah menara di sisi barat kastil, dan anak-anak Gryffindor menyusuri koridor ke potret Nyonya Gemuk.

"Tadi benar-benar bagus, Harry," kata Hermione, ketika akhirnya hanya dia, Harry dan Ron yang tinggal.

"Yeah, memang!" kata Ron dengan antusias, selagi mereka menyelinap keluar dari pintu dan menyaksikannya melebur kembali menjadi batu di belakang mereka. "Apakah kau melihatku melucuti Hermione, Harry?"

"Cuma sekali," kata Hermione, merasa terluka. "Aku mengenaimu jauh lebih sering daripada kau mengenaiku—"

"Aku tidak cuma mengenaimu sekali, aku mengenaimu setidaknya tiga kali—"

"Well, kalau kau menghitung sekali di mana kau tersandung kakimu sendiri dan mengetuk tongkatku dari tanganku—"

Mereka berdebat sepanjang jalan kembali ke ruang duduk, tetapi Harry tidak mendengarkan mereka. Dia memandangi Peta Perampok, tetapi dia juga sedang memikirkan Cho yang berkata dirinya membuatnya gugup.

Learn languages from TV shows, movies, news, articles and more! Try LingQ for FREE