Apakah Kapitalisme Gagal?
Kaum PKI akan melakukan pengambilalihan.
Massa juga melempari kantor LBH menggunakan batu.
Sebab sekarang ini banyak orang-orang yang membela PKI.
Ketika kita mendengar komunisme atau ideologi kiri lainnya, tentu saja yang muncul di benak kita adalah pembantaian, kekejaman, diktatorship, dan hal-hal buruk lainnya. Akan tetapi, apakah hidup di dunia kapitalisme telah menjanjikan kehidupan yang lebih baik? Untuk menilai kinerja kapitalisme, pertama, kita harus memahami dulu apa itu kapitalisme. Kapitalisme adalah saat faktor produksi dimiliki oleh individu secara pribadi dengan satu intensi, yakni memperkaya diri sendiri. Oleh karena itu, mereka menggunakannya bukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk memperkaya diri mereka sebanyak-banyaknya. Mau disadari atau tidak, sistem kapitalisme telah merajalela di seluruh dunia.
Negara-negara yang ingin berkembang akan mengadopsi kapitalisme dan telah menjadi norma bagi mereka bila mereka ingin berkembang. Apa yang terjadi? Kondisi dunia saat ini adalah terjadinya ketimpangan kekayaan dan kemiskinan yang merajalela. Laporan menunjukkan bahwa 1% populasi dunia memiliki 50,1% dari seluruh kekayaan yang ada di dunia ini. Hal ini terjadi sementara sekitar 815 juta orang mengalami kelaparan pada tahun 2016. Tiga sampai lima juta orang meninggal setiap tahun karena kurangnya perawatan vaksin, dan setengah dari populasi dunia hidup dengan kekurangan air. Tentu saja kita sudah mendengar bahwa kemiskinan global sedang mengalami penurunan yang drastis. Akan tetapi, kita perlu tahu bahwa standar kemiskinan yang digunakan adalah mereka yang memiliki penghasilan 2 USD per hari. Kenyataannya, mayoritas populasi di dunia masih hidup dalam kategori 'low income'. Mereka yang berpenghasilan rendah justru malah meningkat secara signifikan.
Yang kedua, globalisme. Salah satu tren dalam kapitalisme adalah timbulnya badan-badan seperti International Monetary Fund dan World Bank. Badan-badan ini memberikan pinjaman kepada negara-negara. Negara peminjam harus melakukan penstrukturan ekonomi seperti liberalisasi perdagangan, penurunan nilai mata uang, dan pengurangan subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Ini semua sesuai dengan paham kapitalisme untuk mengurangi regulasi pemerintah dalam aspek ekonomi. Hasil dari kebijakan tersebut bukannya meningkatkan kesejahteraan, melainkan meningkatkan krisis dan kemiskinan di negara-negara berkembang. Di Afrika, negara-negara yang mengikuti program ini, seperti Sierra Leone, Liberia, dan Cote d'Ivoire, bahkan mengalami perang sipil yang berkepanjangan karena kemiskinan yang makin meningkat dan ditambah ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Secara praktis, kaum kapitalis juga memerlukan peran pemerintah untuk menyebarluaskan kepentingan kaum borjuis ke negara-negara lain. Menurut pemikir Marx dan Engels, para borjuis dalam upaya untuk mengejar tujuannya harus memperluas pasarnya, dia harus menetap di mana-mana, menjalin koneksi, dan lewat eksploitasi pasar membentuk sebuah sistem produksi yang kosmopolitan dan global. Seringkali kepentingan kaum borjuis ini didukung oleh pemerintahan dan militer dari negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Pada Perang Dingin, Amerika melakukan *regime change* atau mendukung perubahan rezim bagi negara-negara yang menentang sistem kapitalisme. Dari tahun 1947 sampai dengan 1989, Amerika Serikat telah mencoba untuk mengganti rezim negara lain sebanyak 72 kali. Hasilnya seringkali mengecewakan. Di negara-negara Amerika Latin, seperti Kuba, Venezuela, Panama, Guatemala, dan Cile, kemiskinan dan kekejaman justru meningkat ketika pemerintah mereka dikuasai oleh pemerintah pro-kapitalisme dan Barat.
Apakah kapitalisme menghasilkan demokrasi? Demokrasi adalah di mana rakyat bisa berpartisipasi baik secara publik atau perwakilan terhadap politik dan ekonomi sebuah negara. Dalam kapitalisme, pasar dibiarkan untuk bekerja dengan sendirinya. Dalam kondisi ini, persaingan bisnis akan menghasilkan sejumlah perusahaan raksasa dengan kekayaan yang akan memengaruhi pengambilan keputusan publik melalui *lobbying*. Akhir-akhir ini, perusahaan semakin gencar dalam menggunakan uang mereka untuk memengaruhi kebijakan publik. Di Amerika, perusahaan menghabiskan 26,1 miliar USD setiap tahunnya untuk membayar perusahaan *lobbying*. Bila dibandingkan, setiap perusahaan memiliki setidaknya 100 organisasi *lobbying* untuk mewakili kepentingan korporat. Untuk setiap dolar yang dihabiskan serikat buruh dan kepentingan publik lainnya, perusahaan besar akan menghabiskan 34 dolar. Bahkan, praktik *lobbying* seperti memengaruhi media, menghasilkan data-data yang menguntungkan mereka pun dilakukan. Berdasarkan ini, kepentingan perusahaan-perusahaan besar akan lebih diutamakan ketimbang entitas lainnya.
Kita ambil contoh beberapa kebijakan yang kontroversial akhir-akhir ini di Amerika dan Australia. Ketika pemerintahan melakukan kebijakan pemotongan pajak untuk perusahaan-perusahaan besar dengan harapan bahwa mereka akan menaikkan gaji para pekerja dan menginvestasikan pendapatan perusahaan untuk kepentingan umum. Pada kenyataannya, kebijakan pemotongan pajak itu tidak menghasilkan kesejahteraan bagi khalayak banyak, melainkan hanya menguntungkan sejumlah perusahaan besar. Di Australia, hanya satu dari enam perusahaan yang akan menggunakan pendapatan lebihnya untuk mempekerjakan lebih banyak orang dan menaikkan gaji. Di Amerika Serikat, gaji justru makin menurun setelah kebijakan ini diterapkan. Sementara itu, perusahaan besar seperti Big Pharma justru untung besar karena melemahnya sektor publik di bidang kesehatan.
Memang, kapitalisme mengatakan bahwa *self-interest* akan membuat kemajuan ekonomi, tetapi bila kita pikirkan baik-baik, bukankah VOC yang menjajah Indonesia adalah penjelmaan dari *self-interest* pengusaha-pengusaha Belanda? Bukankah pembantaian orang Afrika oleh Belgia adalah wujud *self-interest* dari Raja Leopold untuk menguasai Afrika? Bukankah peperangan di Eropa wujud dari *self-interest* penguasa-penguasa Eropa yang ingin memperluas kekayaan negaranya sendiri? Semua orang memiliki *self-interest*, namun dalam kapitalisme, beberapa kaum bisa mengalahkan mayoritas. Berakar dari sini, apakah kapitalisme merupakan sesuatu yang adil?