Bab 13: Detensi dengan Dolores (1/2)
Makan malam di Aula Besar malam itu bukanlah pengalaman menyenangkan bagi Harry. Kabar mengenai adu teriaknya dengan Umbridge telah berkeliling bahkan lebih cepat daripada standar Hogwarts. Dia mendengar bisik-bisik di sekelilingnya ketika dia duduk makan di antara Ron dan Hermione. Hal yang aneh adalah tak seorang pun dari yang berbisik-bisik itu tampak keberatan dia mendengar apa yang sedang mereka katakan mengenai dirinya. Sebaliknya, seakan-akan mereka berharap dia akan marah dan mulai berteriak lagi, sehingga mereka bisa mendengar ceritanya dari tangan pertama.
"Dia bilang dia melihat Cedric Diggory dibunuh ..."
"Menurutnya dia berduel dengan Kau-Tahu-Siapa ..."
"Hentikan ..."
"Dipikirnya dia sedang bercanda?"
"Tolong deh ..."
"Apa yang tak kumengerti," kata Harry melalui gigi-gigi yang dikertakkan, sambil meletakkan pisau dan garpunya (tangannya terlalu bergetar untuk memegang dengan mantap), "adalah mengapa mereka semua mempercayai cerita itu dua bulan yang lalu ketika Dumbledore memberi tahu mereka ..."
"Masalahnya adalah, Harry, aku tidak yakin mereka percaya," kata Hermione dengan muram. "Oh, ayo pergi dari sini."
Dia membanting pisau dan garpunya sendiri; Ron melihat penuh keinginan pada pai apelnya yang setengah habis tetapi ikut juga. Orang-orang memandangi mereka sepanjang jalan keluar dari Aula.
"Apa maksudmu, kau tidak yakin mereka mempercayai Dumbledore?" Harry bertanya kepada Hermione ketika mereka mencapai puncak tangga pertama.
"Lihat, kau tidak mengerti seperti apa setelah kejadian itu," kata Hermione dengan pelan. "Kau tiba kembali di tengah halaman sambil menggenggam mayat Cedric ... tak seorang pun dari kalian melihat apa yang terjadi di dalam labirin ... kami hanya mendengar perkataan Dumbledore bahwa Kau-Tahu-Siapa sudah kembali dan membunuh Cedric dan bertarung denganmu."
"Yang memang benar!" kata Harry keras-keras.
"Aku tahu itu, Harry, jadi bisakah kau tolong berhenti memarahiku?" kata Hermione dengan letih. "Hanya saja sebelum kebenaran bisa tertanam, semua orang pulang ke rumah selama musim panas, di mana mereka menghabiskan dua bulan membaca bagaimana kau seorang sinting dan Dumbledore mulai pikun!"
Ron menghantam kisi-kisi jendela selagi mereka berjalan menyusuri koridor-koridor kosong kembali ke Menara Gryffindor. Harry merasa seakan-akan hari pertamanya telah berlangsung seminggu, tetapi dia masih mempunyai segunung pekerjaan rumah untuk dilakukan sebelum tidur. Rasa sakit menghantam, timbul di mata kanannya. Dia melihat sekilas melalui jendela yang terguyur hujan ke halaman gelap ketika mereka berbelok ke koridor Nyonya Gemuk. Masih belum ada cahaya dari kabin Hagrid.
"Mimbulus Mimbletonia," kata Hermione, sebelum Nyonya Gemuk bisa bertanya. Potret itu berayun terbuka memperlihatkan lubang di belakangnya dan mereka bertiga memanjat melaluinya.
Ruang duduk hampir kosong; hampir semua orang masih di bawah untuk makan malam. Crookshanks bangkit dari gelungannya di sebuah kursi berlengan dan berderap menemui mereka, sambil mendengkur keras, dan ketika Harry, Ron dan Hermione duduk di tiga kursi kesukaan mereka di sisi perapian, dia melompat dengan ringan ke pangkuan Hermione dan bergelung di sana seperti bantal merah kekuningan berbulu. Harry menatap ke dalam api, merasa terkuras dan letih sekali.
"Bagaimana bisa Dumbledore membiarkan ini terjadi?" Hermione menjerit tiba-tiba, membuat Harry dan Ron terlompat; Crookshanks melompat dari pangkuannya, terlihat terhina. Dia menghantam lengan-lengan kursinya dengan marah, sehingga potongan-potongan isian keluar dari lubang-lubangnya. "Bagaimana dia bisa membiarkan wanita mengerikan itu mengajari kita? Dan di tahun OWL kita lagi!"
"Well, kita belum pernah dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang hebat, bukan?" kata Harry. "Kau tahu seperti apa, Hagrid memberi tahu kita, tak seorang pun mau pekerjaan itu; mereka bilang membawa sial."
"Ya, tapi mempekerjakan seseorang yang sebenarnya menolak membiarkan kita melakukan sihir! Apa yang sedang dipermainkan Dumbledore?"
"Dan dia sedang mencoba membuat orang-orang menjadi mata-mata untuknya," kata Ron dengan muram. "Ingat ketika dia bilang dia mau kita datang dan memberi tahunya kalau kita mendengar siapa pun berkata Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?"
"Tentu saja dia di sini untuk memata-matai kita semua, itu jelas, kenapa lagi Fudge ingin dia datang?" sambar Hermione.
"Jangan mulai berdebat lagi," kata Harry dengan letih, ketika Ron membuka mulut untuk membalas. "Tak bisakah kita ... ayo buat PR saja, hilangkan beban ..."
Mereka mengumpulkan tas-tas sekolah mereka dari sebuah sudut dan kembali ke kursi-kursi di sisi perapian. Orang-orang telah berdatangan dari makan malam sekarang. Harry memalingkan wajahnya dari lubang potret, tetapi masih bisa merasakan tatapan ke arahnya.
"Apakah kita akan mengerjakan tugas Snape dulu?" kata Ron, sambil mencelupkan pena bulunya ke dalam tintanya. ""Sifat-sifat ... batu bulan ... dan kegunaannya ... dalam pembuatan ramuan ..."" dia bergumam, sambil menuliskan kata-kata itu di puncak perkamennya sewaktu mengucapkannya. "Begitu." Dia menggarisbawahi judul itu, lalu memandang penuh harap kepada Hermione.
"Jadi, apa sifat batu bulan dan kegunaannya dalam pembuatan ramuan?"
Tetapi Hermione tidak mendengarkan; dia sedang memicingkan mata ke sudut jauh dari ruangan itu, di mana Fred, George dan Lee Jordan sekarang sedang duduk di tengah sekumpulan anak kelas satu yang tampak lugu, yang semuanya sedang mengunyah sesuatu yang tampaknya telah keluar dari kantong kertas besar yang sedang dipegang Fred.
"Tidak, maafkan aku, mereka sudah terlalu jauh," katanya sambil berdiri dan terlihat benar-benar marah. "Ayo, Ron."
"Aku—apa?" kata Ron, jelas sedang mengulur waktu. "Tidak—ayolah, Hermione—kita tidak bisa melarang mereka membagikan permen."
"Kau tahu persis itu adalah Gula-Gula Mimisan atau—atau Pastiles Muntah atau—"
"Manisan Pingsan?" Harry menyarankan dengan pelan.
Satu per satu, seakan-akan dipukul kepalanya dengan palu yang tak tampak, anak-anak kelas satu itu merosot tidak sadarkan diri di tempat duduk mereka; beberapa tergelincir langsung ke lantai, yang lain hanya tergantung pada lengan kursi mereka, lidah mereka terjulur. Kebanyakan orang yang sedang menonton tertawa; namun Hermione menaikkan bahunya dan berbaris langsung ke tempat Fred dan George sekarang berdiri sambil memegang papan penjepit kertas, mengamati dengan seksama para murid kelas satu yang tidak sadar. Ron bangkit setengah berdiri dari kursinya, menunggu tidak yakin selama satu-dua saat, lalu bergumam kepada Harry, "Dia sudah bisa mengendalikannya," sebelum membenamkan diri ke kursinya serendah yang diizinkan tubuh jangkungnya.
"Itu cukup!" Hermione berkata penuh tenaga kepada Fred dan George, keduanya melihat ke atas dengan terkejut.
"Yeah, kau benar," kata George sambil mengangguk, "dosis ini tampaknya cukup kuat, bukan?"
"Kuberitahu kalian pagi ini, kalian tidak bisa menguji sampah kalian pada murid!"
"Kami membayar mereka!" kata Fred dengan marah.
"Aku tidak peduli, bisa saja berbahaya!"
"Sampah," kata Fred.
"Tenanglah, Hermione, mereka baik-baik saja!" kata Lee menenangkan ketika dia berjalan dari satu anak kelas satu ke anak lainnya, sambil memasukkan permen ungu ke dalam mulut terbuka mereka.
"Yeah, lihat, mereka sudah sadar sekarang," kata George.
Beberapa anak kelas satu memang bergerak. Beberapa terlihat begitu terguncang menemukan diri mereka terbaring di lantai, atau bergantung di kursi mereka, sehingga Harry yakin Fred dan George belum memperingatkan mereka apa yang dilakukan permen-permen itu.
"Merasa baik-baik saja?" tanya George dengan baik hati kepada seorang anak perempuan kecil berambut gelap yang berbaring di kakinya.
"Aku—kukira begitu," katanya gemetaran.
"Sempurna," kata Fred dengan gembira, tetapi detik berikutnya Hermione telah merebut papan penjepit kertasnya serta kantong kertas Manisan Pingsan dari tangannya.
"TIDAK sempurna!"
"Tentu saja, mereka masih hidup 'kan?" kata Fred dengan marah.
"Kalian tidak bisa melakukan ini, bagaimana kalau kalian membuat salah satu dari mereka benar-benar sakit?"
"Kami tidak akan membuat mereka sakit, kami sudah menguji semuanya sendiri, ini hanya untuk melihat apakah semua orang akan bereaksi sama—"
"Kalau kalian tidak berhenti melakukannya, aku akan—"
"Memberi kami detensi?" kata Fred, dengan suara aku-ingin-lihat-kau-coba.
"Menyuruh kami menulis?" kata George sambil tersenyum menyeringai.
Para penonton di seluruh ruangan tertawa. Hermione meluruskan diri setingginya; matanya disipitkan dan rambutnya yang lebat tampak baru kena listrik.
"Tidak," katanya, suaranya bergetar karena marah, "tetapi aku akan menulis kepada ibu kalian."
"Kau tidak akan berbuat itu," kata George, terkejut, sambil mundur selangkah darinya.
"Oh, ya, akan kulakukan," kata Hermione dengan suram. "Aku tak bisa menghentikan kalian makan benda-benda bodoh itu sendiri, tapi kalian tidak akan memberikannya kepada para murid kelas satu."
Fred dan George terlihat seperti disambar petir. Jelaslah sejauh menyangkut mereka, ancaman Hermione melewati batas keberanian mereka. Dengan pandangan mengancam terakhir kepada mereka, dia menyodorkan papan penjepit kertas Fred dan kantong Manisan kembali ke lengannya, dan berjalan kembali ke kursinya di sisi perapian.
Ron sekarang begitu rendah dalam kursinya sehingga hidungnya hampir sama rendahnya dengan lututnya.
"Terima kasih atas dukunganmu, Ron," Hermione berkata dengan masam.
"Kau menanganinya dengan baik sendiri," Ron bergumam.
Hermione menatap ke potongan perkamennya yang kosong selama beberapa detik, lalu berkata dengan tidak tenang, "Oh, tidak bisa, aku tidak bisa berkonsentrasi sekarang. Aku akan pergi tidur."
Dia merenggut buka tasnya; Harry mengira dia akan menyimpan buku-bukunya, tetapi dia malah menarik keluar dua benda dari wol yang bentuknya tidak beraturan, menempatkan mereka dengan hati-hati di atas sebuah meja di sisi perapian, menutupinya dengan beberapa potongan perkamen yang digumpalkan dan sebuah pena bulu rusak, lalu berdiri untuk mengagumi akibatnya.
"Demi nama Merlin, apa yang sedang kau lakukan?" kata Ron sambil mengamatinya seolah-olah mengkhawatirkan kewarasannya.
"Itu adalah topi untuk para peri-rumah," katanya cepat, sekarang dia sedang menjejalkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya. "Aku mengerjakannya musim panas lalu. Aku benar-benar perajut yang lamban tanpa sihir tetapi sekarang setelah aku kembali ke sekolah seharusnya aku bisa membuat lebih banyak lagi."
"Kau meninggalkan topi untuk para peri-rumah?" kata Ron lambat-lambat. "Dan kau menutupinya dengan sampah dulu?"
"Ya," kata Hermione menantang, sambil mengayunkan tasnya ke punggungnya.
"Itu tidak adil," kata Ron dengan marah. "Kau mencoba memperdaya mereka untuk memungut topi-topi itu. Kau membebaskan mereka padahal mereka mungkin tidak ingin bebas."
"Tentu saja mereka ingin bebas!" kata Hermione seketika, walaupun wajahnya berubah warna menjadi merah muda. "Jangan berani-berani menyentuh topi-topi itu, Ron!"
Dia berbalik dan pergi. Ron menunggu sampai dia menghilang melalui pintu ke kamar asrama anak perempuan, lalu membersihkan sampah dari topi-topi wol itu.
"Setidaknya mereka seharusnya melihat apa yang mereka pungut," katanya dengan tegas. "Lagipula ..." dia menggulung perkamen yang telah ditulisnya dengan judul esai Snape. "Tak ada gunanya mencoba menyelesaikan ini sekarang, aku tidak bisa melakukannya tanpa Hermione. Aku tak punya petunjuk sedikit pun apa yang harus kau lakukan dengan batu bulan, bagaimana denganmu?"
Harry menggelengkan kepalanya, sambil memperhatikan bahwa ketika dia berbuat begitu rasa sakit di pelipis kanannya semakin buruk. Dia memikirkan esai panjang mengenai perang para raksasa dan rasa sakit itu menusuknya dengan tajam. Tahu benar bahwa ketika pagi tiba, dia akan menyesal tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya malam itu, dia menumpukkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya.
"Aku juga akan tidur."
Dia melewati Seamus dalam perjalanan ke pintu yang menuju ke kamar asrama, tetapi dia tidak memandangnya. Harry mendapatkan kesan singkat bahwa Seamus telah membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi dia bergegas dan mencapai ketenangan yang menyejukkan dari tangga spiral tanpa harus mengalami provokasi lagi.
*
Hari berikutnya diawali sama kelam dan berhujan seperti yang sebelumnya. Hagrid masih absen dari meja guru pada saat makan pagi.
"Tapi di sisi baiknya, tidak ada Snape hari ini," kata Ron menguatkan.
Hermione menguap lebar-lebar dan menuangkan untuk dirinya sendiri sedikit kopi. Dia terlihat agak senang mengenai sesuatu, dan ketika Ron bertanya kepadanya apa yang membuatnya sangat gembira, dia hanya berkata, "Topi-topi itu sudah hilang. Kelihatannya para peri-rumah memang ingin kebebasan."
"Aku tidak akan terlalu yakin," Ron memberi tahunya dengan tajam. "Benda-benda itu mungkin tidak dianggap pakaian. Mereka tidak terlihat seperti topi bagiku, lebih mirip kandung kemih dari wol."
Hermione tidak berbicara kepadanya sepanjang pagi.
Kelas ganda Jimat dan Guna-Guna diikuti dengan kelas ganda Transfigurasi. Profesor Flitwick dan Profesor McGonagall keduanya menghabiskan lima belas menit pertama dari pelajaran mereka menguliahi kelas akan pentingnya OWL.
"Apa yang harus kalian ingat," kata Profesor Flitwick kecil sambil mencicit, bertengger seperti biasa di atas setumpuk buku sehingga dia bisa melihat melewati bagian atas mejanya, "adalah bahwa ujian-ujian ini mungkin memengaruhi masa depan kalian bertahun-tahun yang akan datang! Kalau kalian belum memikirkan secara serius mengenai karier kalian, sekarang saatnya. Dan sementara itu, aku takut, kita akan bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk menjamin kalian semua mendapat hasil sesuai kemampuan kalian!"
Mereka lalu menghabiskan lebih dari satu jam mengulang Mantera Pemanggil, yang menurut Profesor Flitwick pasti keluar di OWL mereka, dan dia mengakhiri pelajaran dengan memberi mereka pekerjaan rumah Jimat dan Guna-Guna yang paling banyak dibandingkan sebelumnya.
Keadaannya sama, kalau bukan lebih buruk, di Transfigurasi.
"Kalian tidak bisa lulus OWL," kata Profesor McGonagall dengan muram, "tanpa penerapan, latihan, dan belajar yang serius. Aku melihat tidak ada alasan mengapa semua orang di kelas ini tidak bisa mencapai OWL dalam Transfigurasi selama mereka bekerja keras." Neville membuat suara sedih kecil tanda tidak percaya. "Ya, kamu juga, Longbottom," kata Profesor McGonagall.
"Tidak ada yang salah dengan pekerjaanmu selain kurangnya rasa percaya diri. Jadi ... hari ini kita akan mulai dengan Mantera Penghilang. Ini lebih mudah daripada Mantera Pencipta, yang biasanya tidak akan kalian coba sampai tingkat NEWT, tapi mantera ini masih termasuk di antara sihir paling sulit yang akan diujikan kepada kalian pada OWL kalian."
Dia sangat benar; Harry mendapati Mantera Penghilang benar-benar sulit. Pada akhir periode ganda itu dia maupun Ron belum berhasil menghilangkan siput-siput yang mereka gunakan untuk berlatih, walaupun Ron berkata penuh harap bahwa dia mengira siputnya terlihat sedikit lebih pucat. Hermione, di sisi lain, berhasil menghilangkan siputnya pada percobaan ketiga, membuatnya mendapatkan bonus sepuluh poin untuk Gryffindor dari Profesor McGonagall. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak diberi pekerjaan rumah; semua orang lainnya disuruh melatih mantera itu di malam hari, siap untuk mencoba lagi pada siput mereka sore berikutnya.
Sekarang setelah merasa agak panik mengenai jumlah pekerjaan rumah yang harus mereka lakukan, Harry dan Ron menghabiskan jam makan siang mereka di perpustakaan mencari kegunaan batu bulan dalam pembuatan ramuan. Masih marah tentang penghinaan Ron pada topi-topi wolnya, Hermione tidak bergabung dengan mereka. Pada saat mereka mencapai Pemeliharaan Satwa Gaib di sore hari, kepala Harry sakit lagi.
Hari menjadi dingin dan berangin, dan ketika mereka berjalan menyusuri lapangan yang melandai menuju kabin Hagrid di tepi Hutan Terlarang, mereka merasakan titik-titik hujan yang terkadang menetes ke wajah mereka. Profesor Grubbly-Plank berdiri menanti kelas itu sekitar sepuluh yard dari pintu depan Hagrid, dengan sebuah meja panjang berpalang di depannya yang sarat dengan ranting. Ketika Harry dan Ron mendekatinya, suara tawa keras terdengar di belakang mereka; sambil berbalik, mereka melihat Draco Malfoy berjalan menuju mereka, dikelilingi oleh kelompok kroni Slytherin-nya yang biasa. Jelas dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat lucu, karena Crabbe, Goyle, Pansy Parkinson dan sisanya terus terkikik-kikik sepenuh hati ketika mereka berkumpul di sekitar meja berpalang itu dan, menilai dari cara mereka semua terus memandang Harry, dia bisa menebak subyek gurauan itu tanpa banyak kesulitan.
"Semua orang di sini?" salak Profesor Grubbly-Plank, segera setelah semua anak Slytherin dan Gryffindor tiba. "Kalau begitu mari mulai. Siapa yang bisa memberi tahuku apa sebutan benda-benda ini?"
Dia menunjuk setumpuk ranting di depannya. Tangan Hermione teracung di udara. Di balik punggungnya, Malfoy melakukan imitasi Hermione yang bergigi kelinci melompat naik-turun dengan penuh semangat untuk menjawab pertanyaan. Pansy Parkinson mengeluarkan pekik tertawa yang berubah hampir seketika menjadi jeritan, ketika ranting-ranting di atas meja melompat ke udara dan memperlihatkan diri mereka sendiri yang mirip makhluk pixie kecil yang terbuat dari kayu, masing-masing dengan lengan cokelat menonjol, dua jari mirip ranting di setiap tangan dan sebuah wajah datar mirip kulit kayu dengan sepasang mata kumbang berwarna cokelat yang berkilau.
"Oooooh!" kata Parvati dan Lavender, sangat mengesalkan Harry. Siapa pun akan berpikir Hagrid belum pernah memperlihatkan kepada mereka makhluk-makhluk mengesankan; memang, cacing Flobber sedikit membosankan, tetapi Salamander dan Hippogriff cukup menarik, dan Skrewt Ujung-Meletus mungkin terlalu menarik.
"Tolong jaga suara kalian, anak-anak!" kata Profesor Grubbly-Plank dengan tajam, sambil menyebarkan apa yang terlihat seperti beras cokelat di antara makhluk tongkat itu, yang segera berebut makanan. "Jadi—ada yang tahu nama makhluk-makhluk ini? Miss Granger?"
"Bowtruckle," kata Hermione. "Mereka penjaga pohon, biasanya hidup di pohon pembuat tongkat."
"Lima poin untuk Gryffindor," kata Profesor Grubbly-Plank. "Ya, ini adalah Bowtruckle, dan seperti yang dikatakan Miss Granger dengan benar, mereka umumnya tinggal di pohon-pohon yang kayunya berkualitas tongkat. Ada yang tahu apa yang mereka makan?"
"Kutu kayu," kata Hermione cepat, yang menjelaskan kenapa apa yang dianggap Harry butir-butir beras cokelat bergerak-gerak. "Tapi telur peri kalau mereka bisa mendapatkannya."
"Anak baik, ambil lima poin lagi. Jadi, kapanpun kalian perlu daun atau kayu dari sebuah pohon tempat tinggal Bowtruckle, sebaiknya siapkan hadiah kutu kayu untuk mengalihkan atau menentramkannya. Mereka mungkin tidak terlihat berbahaya, tetapi kalau dibuat marah mereka akan mencoba mencongkel mata manusia dengan jari-jari mereka, yang, seperti yang bisa kalian lihat, sangat tajam dan sama sekali tidak diinginkan berada dekat bola mata. Jadi kalau kalian ingin berkumpul lebih dekat, ambil sedikit kutu kayu dan seekor Bowtruckle—aku punya cukup di sini untuk satu diamati bertiga—kalian bisa mempelajari mereka lebih dekat. Aku mau sketsa dari setiap orang dengan semua anggota badan yang diberi label pada akhir pelajaran."
Kelas mendesak maju ke sekitar meja berpalang itu. Harry sengaja memutar ke belakang sehingga dia berada tepat di sebelah Profesor Grubbly-Plank.
"Di mana Hagrid?" tanyanya, sementara semua orang sedang memilih Bowtruckle.
"Tidak usah peduli," kata Profesor Grubbly-Plank menekankan, yang juga telah menjadi sikapnya terakhir kali ketika Hagrid tidak muncul ke kelas. Sambil menyeringai lebar, Draco Malfoy mencondongkan badan kepada Harry dan meraih Bowtruckle terbesar.
"Mungkin," kata Malfoy dengan suara rendah, sehingga hanya Harry yang bisa mendengarnya, "orang besar bodoh itu membuat dirinya terluka parah."
"Mungkin kau akan begitu kalau kau tidak tutup mulut," kata Harry dari sisi mulutnya.
"Mungkin dia turut campur dengan hal-hal yang terlalu besar baginya, kalau kau ngerti maksudku."
Malfoy berjalan pergi, sambil menyeringai dari balik bahunya kepada Harry, yang mendadak merasa mual. Apakah Malfoy tahu sesuatu? Lagipula ayahnya seorang Pelahap Maut; bagaimana kalau dia punya informasi mengenai nasib Hagrid yang belum mencapai telinga Order? Dia bergegas mengitari meja kepada Ron dan Hermione yang sedang jongkok di rumput agak jauh dan mencoba membujuk seekor Bowtruckle untuk diam cukup lama agar mereka bisa menggambarnya. Harry menarik keluar perkamen dan pena bulu, jongkok di samping yang lain dan membisikkan apa yang baru saja dikatakan Malfoy.
"Dumbledore akan tahu kalau sesuatu terjadi kepada Hagrid," kata Hermione seketika. "Kalau terlihat khawatir hanya jatuh ke permainan Malfoy; itu memberitahunya kita tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Kita harus mengabaikan dia, Harry. Ini, pegang Bowtruckle-nya sejenak, sehingga aku bisa menggambar wajahnya ..."
"Ya," datang suara Malfoy yang dipanjang-panjangkan dari kelompok yang terdekat dengan mereka, "Ayah baru saja berbicara dengan Menteri beberapa hari yang lalu, kalian tahu, dan kedengarannya seolah-olah Kementerian benar-benar berniat untuk melenyapkan pengajaran di bawah standar di tempat ini. Jadi kalaupun si bodoh yang tumbuh berlebihan muncul lagi, dia mungkin langsung disuruh berkemas."
"ADUH!"
Harry telah mencengkeram Bowtruckle begitu keras sehingga makhluk itu hampir putus, dan dia baru saja melayangkan pukulan balasan hebat ke tangannya dengan jari-jarinya yang tajam, meninggalkan dua luka sayat dalam yang panjang di sana. Harry menjatuhkannya. Crabbe dan Goyle, yang sudah terbahak-bahak karena gagasan tentang Hagrid dipecat, tertawa lebih keras lagi ketika Bowtruckle itu pergi secepatnya menuju Hutan Terlarang, tampak seperti manusia kayu kecil yang bergerak yang segera tertelan di antara akar-akar pohon. Ketika bel bergema dari kejauhan ke halaman sekolah, Harry menggulung gambar Bowtruckle-nya yang bernoda darah dan berbaris ke Herbologi dengan tangan diperban dengan sapu tangan Hermione, dan suara tawa mengejek Malfoy masih terngiang di telinganya.
"Kalau dia menyebut Hagrid bodoh sekali lagi ..." kata Harry melalui gigi-gigi yang dikertakkan.
"Harry, jangan membuat keributan dengan Malfoy, jangan lupa, dia seorang prefek sekarang, dia bisa membuat hidupmu sukar ..."
"Wow, aku ingin tahu bagaimana rasanya punya hidup yang sukar?" kata Harry dengan sarkastis. Ron tertawa, tetapi Hermione merengut. Bersama-sama, mereka berjalan menyusuri petak-petak sayuran. Langit masih tampak tidak mampu memutuskan apakah akan hujan atau tidak.
"Aku hanya berharap Hagrid bergegas kembali, itu saja," kata Harry dengan suara rendah, ketika mereka mencapai rumah kaca. "Dan jangan bilang bahwa wanita Grubbly-Plank itu guru yang lebih bagus!" dia menambahkan dengan mengancam.
"Aku tidak akan melakukan itu," kata Hermione dengan tenang.
"Karena dia tidak akan pernah sebagus Hagrid," kata Harry dengan tegas, sepenuhnya sadar bahwa dia baru saja mengalami pelajaran teladan Pemeliharaan Satwa Gaib dan sangat jengkel karena itu.
Pintu rumah kaca terdekat terbuka dan beberapa murid kelas empat keluar dari sana, termasuk Ginny.
"Hai," katanya dengan ceria ketika dia lewat. Beberapa detik kemudian, Luna Lovegood muncul, berada di belakang sisa kelas itu, dengan secuil tanah di hidungnya, dan rambutnya diikat di puncak kepalanya. Ketika dia melihat Harry, matanya yang menonjol tampak membesar penuh semangat dan dia berjalan lurus ke arahnya. Banyak teman sekelas Harry yang berpaling untuk mengamati dengan rasa ingin tahu. Luna mengambil napas panjang dan lalu berkata, tanpa kata sapaan pendahuluan, "Aku percaya Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut sudah kembali dan aku percaya kamu bertarung dengannya dan lolos darinya."
"Er—benar," kata Harry dengan canggung. Luna mengenakan apa yang tampak seperti sepasang anting dari lobak jingga, kenyataan yang sepertinya diperhatikan oleh Parvati dan Lavender, karena mereka berdua terkikik-kikik dan menunjuk ke cuping telinganya.
"Kalian boleh tertawa," Luna berkata, suaranya meninggi, tampaknya mendapat kesan bahwa Parvati dan Lavender sedang menertawakan apa yang dia katakan bukannya apa yang dia pakai, "tapi orang-orang dulu percaya tidak ada yang namanya Blibbering Humdinger atau Snorkack Tanduk-Kisut!"
"Well, mereka benar, bukan?" kata Hermione tidak sabaran. "Memang tidak ada yang namanya Blibbering Humdinger atau Snorkack Tanduk-Kisut."
Luna memberinya pandangan menghina dan pergi dengan marah, lobak-lobaknya berayun dengan liar. Parvati dan Lavender bukan satu-satunya yang tertawa mengejek sekarang.
"Apakah kau keberatan untuk tidak menyinggung satu-satunya orang yang percaya padaku?" Harry bertanya kepada Hermione ketika mereka berjalan ke dalam kelas.
"Oh, demi Tuhan, Harry, kau bisa mendapatkan yang lebih baik daripada dia," kata Hermione. "Ginny memberi tahuku semua hal tentang dia; tampaknya, dia hanya akan percaya hal-hal yang belum ada buktinya sama sekali. Well, aku tidak akan mengharap lain dari seseorang yang ayahnya menjalankan The Quibbler."
Harry memikirkan kuda-kuda bersayap yang mengerikan yang telah dia lihat di malam kedatangannya dan bagaimana Luna bilang dia juga bisa melihat mereka. Semangatnya agak merosot. Apakah dia berbohong? Tapi sebelum dia bisa meluangkan lebih banyak pikiran untuk masalah itu, Ernie Macmillan telah melangkah ke arahnya.
"Aku mau kau tahu, Potter," katanya dengan suara keras, "bahwa bukan hanya orang aneh yang mendukungmu. Aku pribadi mempercayaimu seratus persen. Keluargaku selalu berdiri teguh di belakang Dumbledore, dan aku juga begitu."
"Er—terima kasih banyak, Ernie," kata Harry, terkejut tetapi senang. Ernie mungkin angkuh pada kesempatan seperti ini, tetapi Harry sedang dalam suasana hati yang menghargai sepenuhnya pernyataan kepercayaan dari seseorang yang tidak punya lobak bergantung di telinganya. Kata-kata Ernie jelas telah menghapus senyum dari wajah Lavender Brown dan ketika dia berpaling untuk berbicara kepada Ron dan Hermione, Harry melihat ekspresi Seamus, yang terlihat bingung sekaligus menantang.
Yang tidak membuat siapa pun terkejut, Profesor Sprout memulai pelajaran mereka dengan menguliahi mereka tentang pentingnya OWL. Harry berharap semua guru berhenti melakukan ini; dia mulai merasakan perasaan cemas, terpelintir dalam perutnya setiap kali dia ingat betapa banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya, perasaan yang memburuk secara dramatis ketika Profesor Sprout memberi mereka esai lagi di akhir pelajaran. Capek dan bau kotoran naga, pupuk kesukaan Profesor Sprout, anak-anak Gryffindor beramai-ramai kembali ke kastil satu setengah jam kemudian, tak seorang pun berbicara banyak; hari itu sangat panjang bagi mereka.
Karena Harry lapar sekali, dan dia harus menjalani detensi pertama dengan Umbridge pada jam lima, dia langsung pergi makan malam tanpa menyimpan tasnya di Menara Gryffindor supaya dia bisa makan sesuatu sebelum menghadapi apa pun yang disimpan Umbridge baginya. Namun, dia baru saja mencapai pintu masuk Aula Besar, ketika sebuah suara keras berteriak marah, "Oi, Potter!"
"Sekarang apa?" gumamnya dengan letih, sambil berpaling menghadapi Angelina Johnson, yang terlihat seolah-olah sedang marah besar.
"Kuberitahu kamu sekarang apa," katanya, sambil berbaris lurus ke arahnya dan menyodoknya dengan keras di dada dengan jarinya. "Kenapa kau membuat dirimu terkena detensi hari Jumat jam lima?"
"Apa?" kata Harry. "Mengapa ... oh yeah, uji coba Keeper!"
"Sekarang dia ingat!" kata Angelina tajam. "Bukankah aku sudah bilang aku mau melakukan uji coba dengan seluruh tim, dan menemukan seseorang yang cocok dengan setiap orang? Bukankah aku sudah bilang aku memesan khusus lapangan Quidditch? Dan sekarang kau memutuskan kau tidak akan ada di sana!"
"Aku tidak memutuskan untuk tidak berada di sana!" kata Harry, terluka karena ketidakadilan kata-kata ini. "Aku mendapatkan detensi dari wanita Umbridge itu, hanya karena aku bilang yang sebenarnya tentang Kau-Tahu-Siapa."
"Well, kau bisa pergi langsung kepadanya dan memintanya mengizinkanmu bebas pada hari Jumat," kata Angelina dengan garang, "dan aku tidak peduli bagaimana kau melakukannya. Beritahu dia Kau-Tahu-Siapa hanya secuil khayalanmu kalau kau mau, cuma pastikan kau ada di sana!"
Dia berbalik dan pergi.
"Kalian tahu apa?" Harry berkata kepada Ron dan Hermione ketika mereka memasuki Aula Besar. "Kukira kita sebaiknya mengecek dengan Puddlemere United apakah Oliver Wood telah terbunuh ketika masa latihan, karena Angelina tampaknya kemasukan rohnya."
"Menurutmu berapa kemungkinannya Umbridge akan mengizinkanmu bebas pada hari Jumat?" kata Ron dengan skeptis, ketika mereka duduk di meja Gryffindor.
"Kurang dari nol," kata Harry dengan murung, sambil menyendokkan potongan daging domba ke piringnya dan mulai makan. "Walau begitu, lebih baik mencoba, bukan? Aku akan menawarkan untuk melakukan dua detensi lagi atau apa pun, aku tak tahu ..." Dia menelan semulut penuh kentang dan menambahkan, "Kuharap dia tidak menahan terlalu lama malam ini. Kau sadar kita harus menulis tiga esai, berlatih Mantera Penghilang untuk McGonagall, mengerjakan kontra-guna-guna untuk Flitwick, menyelesaikan gambar Bowtruckle dan mulai diari mimpi bodoh itu untuk Trelawney?"
Ron mengerang dan karena alasan tertentu memandang langit-langit.
"Dan kelihatannya akan hujan."
"Apa hubungannya itu dengan pekerjaan rumah kita?" kata Hermione, alisnya terangkat.
"Tidak ada," kata Ron seketika, telinganya memerah.
Pada pukul lima Harry mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua dan menuju kantor Umbridge di lantai tiga. Ketika dia mengetuk pintu Umbridge berseru, "Masuk," dengan suara manis. Dia masuk dengan waspada, sambil melihat sekeliling.
Dia telah mengenal kantor ini ketika ditempati tiga orang penghuni sebelumnya. Di hari-hari ketika Gilderoy Lockhart tinggal di sini kantor ini ditutupi dengan potret-potret dirinya yang tersenyum. Ketika Lupin menempatinya, mungkin sekali kau akan menemukan beberapa makhluk Gelap dalam sangkar atau tangki kalau kau datang berkunjung. Di hari-hari si penipu Moody kantor ini penuh dengan berbagai instrumen dan benda-benda untuk mendeteksi perbuatan salah dan pemalsuan.
Namun, sekarang, kantor itu tampak benar-benar tidak dapat dikenali. Permukaannya semua telah ditutupi dengan kain renda. Ada beberapa vas penuh bunga kering, masing-masing terletak di atas alas sendiri, dan di salah satu dinding ada sekumpulan plakat hiasan, masing-masing dihiasi dengan seekor anak kucing besar berwarna cerah yang memakai pita dengan warna berlainan di sekeliling lehernya. Anak-anak kucing ini begitu jelek sehingga Harry memandangi mereka, terpaku, sampai Profesor Umbridge berbicara lagi.
"Selamat malam, Mr Potter."
Harry terkejut dan melihat sekeliling. Dia tidak memperhatikan Umbridge pertama-tama karena dia mengenakan setelan jubah berbunga-bunga mengerikan yang sangat terpadu dengan alas meja di meja tulis di belakangnya.
"Malam, Profesor Umbridge," Harry berkata dengan kaku.
"Well, duduklah," katanya sambil menunjuk ke sebuah meja kecil yang ditutupi renda yang di sampingnya telah diletakkannya sebuah kursi berpunggung tegak. Sepotong perkamen kosong tergeletak di atas meja, tampaknya sedang menunggu dirinya.
"Er," kata Harry tanpa bergerak. "Profesor Umbridge. Er—sebelum kita mulai, aku—aku ingin meminta Anda ... sebuah permohonan."
Matanya yang menonjol menyipit.
"Oh, ya?"
"Well, aku ... aku ada dalam tim Quidditch Gryffindor. Dan aku seharusnya berada di uji coba Keeper baru pada hari Jumat pukul lima dan aku—ingin tahu apakah aku bisa melewatkan detensi malam itu dan melakukannya—melakukannya malam lain ... sebagai gantinya ..."
Dia tahu jauh sebelum dia mencapai akhir kalimatnya bahwa tidak ada gunanya.
"Oh, tidak," kata Umbridge, sambil tersenyum begitu lebar sehingga dia terlihat seakan-akan dia baru saja menelan seekor lalat yang sangat banyak airnya. "Oh, tidak, tidak, tidak. Ini hukumanmu karena menyebarkan cerita-cerita jahat, mengerikan, cari perhatian, Mr Potter, dan hukuman jelas tidak boleh disesuaikan dengan kenyamanan pihak yang bersalah. Tidak, kamu akan datang ke sini pukul lima besok, dan hari berikutnya, dan pada hari Jumat juga, dan kamu akan melakukan detensimu seperti yang direncanakan. Kukira bagus juga kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya ingin kamu lakukan. Seharusnya bisa menguatkan pelajaran yang sedang kucoba ajarkan kepadamu."
Harry merasa darah menggelora ke kepalanya dan mendengar suara gedebuk di telinganya. Jadi dia menceritakan "cerita-cerita jahat, mengerikan, cari perhatian", begitu ya?
Umbridge sedang mengamatinya dengan kepala agak ke satu sisi, masih tersenyum lebar, seakan-akan dia tahu benar apa yang sedang dipikirkannya dan sedang menunggu untuk melihat apakah dia akan mulai berteriak lagi. Dengan usaha besar-besaran, Harry berpaling darinya, menjatuhkan tas sekolahnya di samping kursi berpunggung tegak itu dan duduk.
"Begitu," kata Umbridge manis, "kita sudah semakin baik dalam pengendalian amarah kita, bukan? Sekarang, kau harus menulis untukku, Mr Potter. Tidak, bukan dengan pena bulumu," tambahnya, ketika Harry membungkuk untuk membuka tasnya. "Kau akan menggunakan pena bulu khusus milikku. Ini dia."
Dia menyerahkan sebuah pena bulu hitam yang panjang kurus dengan ujung yang tajamnya tidak biasa.
"Aku mau kau menulis, Saya tidak boleh berbohong," katanya dengan lembut.
"Berapa kali?" Harry bertanya, dengan tiruan sopan santun yang patut dipuji.
"Oh, selama yang diperlukan pesan itu untuk meresap," kata Umbridge dengan manis. "Mulailah."
Dia pindah ke mejanya, duduk dan membungkuk di atas setumpuk perkamen yang tampak seperti esai untuk dinilai. Harry mengangkat pena bulu hitam tajam itu, lalu sadar apa yang kurang.
"Anda belum memberi saya tinta," katanya.
"Oh, kau takkan butuh tinta," kata Profesor Umbridge, dengan nada tawa terkecil dalam suaranya.
Harry menempatkan ujung pena bulu itu di atas kertas dan menulis, "Saya tidak boleh berbohong."
Dia mengeluarkan pekik kesakitan kecil. Kata-kata itu timbul di perkamen dengan tinta merah mengkilat. Pada waktu yang sama, kata-kata itu timbul di punggung tangan kanan Harry, tergores ke kulitnya seolah-olah dibuat dengan pisau bedah—tapi bahkan ketika dia memandangi luka sayat yang berkilau itu, kulitnya sembuh lagi, meninggalkan tempat bekas luka itu sedikit lebih merah dari sebelumnya, tapi cukup mulus.
Harry memandang ke sekitarnya kepada Umbridge. Dia sedang mengamatinya, mulutnya yang lebar dan mirip katak terentang membentuk senyuman.
"Ya?"
"Tidak ada apa-apa," kata Harry dengan pelan.
Dia melihat balik ke perkamen, menempatkan pena bulu di atasnya sekali lagi, menulis "Saya tidak boleh berbohong", dan merasakan sakit menusuk di punggung tangannya untuk kedua kali; sekali lagi, kata-kata itu telah tergores ke kulitnya; sekali lagi, kulit itu sembuh beberapa detik kemudian.
Dan seterusnya itu berlangsung. Lagi-lagi Harry menuliskan kata-kata ke perkamen dengan apa yang segera disadarinya bukan tinta, melainkan darahnya sendiri. Dan lagi-lagi, kata-kata itu tergores ke punggung tangannya, sembuh, dan timbul kembali kali berikutnya dia menempatkan pena bulu di perkamen.
Kegelapan timbul di luar jendela Umbridge. Harry tidak bertanya kapan dia diizinkan berhenti. Dia bahkan tidak memeriksa jam tangannya. Dia tahu Umbridge sedang mengawasinya untuk mencari tanda-tanda kelemahan dan dia tidak akan memperlihatkan apa pun, tidak juga walaupun dia harus duduk di sana sepanjang malam, menyayat terbuka tangannya sendiri dengan pena bulu ini ...
"Kemarilah," katanya, setelah rasanya berjam-jam.
Dia berdiri. Tangannya perih sekali. Ketika dia melihat kepada tangannya dia melihat bahwa luka sayat itu sudah sembuh, tetapi kulit di sana merah mentah.
"Tangan," katanya.
Dia menjulurkannya. Umbridge memegangnya. Harry menahan rasa tidak sukanya ketika dia menyentuhnya dengan jari-jarinya yang tebal dan gempal yang penuh cincin-cincin tua jelek.
"Ck, ck, tampaknya aku belum meninggalkan banyak kesan," katanya sambil tersenyum. "Well, kita hanya perlu mencoba lagi besok malam, bukan? Kau boleh pergi."
Harry meninggalkan kantornya tanpa sepatah kata pun. Sekolah sudah sepi; pasti sudah lewat tengah malam. Dia berjalan pelan-pelan menyusuri koridor, lalu, ketika dia membelok di sudut dan yakin Umbridge tidak akan mendengarnya, mengubahnya jadi berlari.